Cakrawala

Pola Pikir Positif: Menyalakan Cahaya di Tengah Gelap

Suatu hari, seseorang berjalan pulang dengan wajah murung. Hari itu terasa begitu berat. Pekerjaan tidak berjalan sesuai harapan, beberapa rencana gagal, dan ada persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Ia berhenti sejenak di pinggir jalan. Dalam pikirannya muncul kalimat, “Mengapa hidup saya selalu seperti ini?”.

Di dekatnya, seorang lelaki tua sedang menyapu halaman sebuah rumah. Melihat wajah murung itu, ia bertanya, “Ada masalah?” Orang itu kemudian bercerita tentang berbagai kegagalannya.

Lelaki tua itu tersenyum dan berkata, “Masalahmu mungkin memang berat. Tetapi ada satu hal yang masih bisa kamu pilih: apakah kamu akan membiarkan masalah itu menguasai pikiranmu, atau kamu akan mencari jalan untuk melewatinya?” Kalimat sederhana itu membuatnya terdiam.

Benar. Tidak semua keadaan bisa dikendalikan manusia. Ada kegagalan yang tidak dapat dihindari, kehilangan yang tidak dapat dicegah, dan kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan. Tetapi manusia masih memiliki pilihan dalam menyikapinya.

Di situlah pentingnya positive mindset, atau pola pikir positif. Pola pikir positif bukan berarti memaksa diri untuk selalu tersenyum atau berpura-pura bahwa semua persoalan baik-baik saja. Bukan pula berarti menolak kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan. Justru orang yang berpikir positif mampu mengakui bahwa dirinya sedang terluka, kemudian bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apa yang bisa saya pelajari dari keadaan ini?”. “Apa yang masih bisa saya lakukan?” “Langkah kecil apa yang dapat saya ambil hari ini?”.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mengubah seseorang dari sekadar korban keadaan menjadi pribadi yang berusaha mencari jalan keluar. Orang yang memiliki pola pikir positif tidak selalu memiliki kehidupan yang lebih mudah. Mereka juga menghadapi tekanan, kegagalan, kehilangan dan kekecewaan. Bedanya, mereka tidak membiarkan masalah menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh. Kegagalan dilihat sebagai pengalaman. Kesalahan dijadikan pelajaran. Kesulitan menjadi latihan ketangguhan.

Dan masa depan tetap dipandang sebagai sesuatu yang masih memiliki peluang. Karena itu, ketika pikiran negatif datang, jangan selalu melawannya dengan penyangkalan. Terimalah emosi tersebut dengan wajar. Sedih boleh. Kecewa boleh. Marah pun manusiawi. Namun jangan menetap terlalu lama di sana.

Ubahlah perlahan kalimat “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa, tetapi saya mau belajar.” Ubahlah, Semuanya sudah berakhir menjadi “Mungkin jalan ini tidak berhasil, tetapi masih ada jalan lain.”. Dan ketika kehidupan terasa berat, belajarlah mensyukuri hal-hal kecil yang masih ada: kesehatan, keluarga, kesempatan, waktu, teman, pekerjaan, bahkan sekadar kemampuan untuk bangun pagi dan mencoba kembali.

Rasa syukur tidak selalu menghilangkan masalah. Tetapi rasa syukur dapat mengubah cara kita memandang masalah. Kita juga perlu berhati-hati terhadap apa yang setiap hari masuk ke dalam pikiran. Lingkungan yang penuh keluhan, informasi yang terus-menerus menebarkan kebencian, dan kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain dapat perlahan menguras energi jiwa.

Karena itu, pilihlah lingkungan yang membantu kita bertumbuh. Isi pikiran dengan sesuatu yang membangun. Dan ketika menghadapi persoalan, jangan hanya memikirkan betapa besarnya masalah tersebut. Fokuslah pada langkah berikutnya. Sebab sebuah gunung tidak didaki dengan satu lompatan. Ia ditaklukkan dengan langkah demi langkah. Begitu pula kehidupan.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan hari ini. Tetapi kita selalu dapat melakukan satu kebaikan, satu usaha, satu perbaikan, atau satu langkah kecil menuju keadaan yang lebih baik. Pada akhirnya, pola pikir positif bukanlah keyakinan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai keinginan kita. Pola pikir positif adalah keyakinan bahwa meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan, kita masih dapat memilih sikap, mengambil pelajaran, dan terus berusaha menemukan jalan terbaik.

Jangan biarkan satu hari buruk membuat kita menganggap seluruh kehidupan buruk. Jangan biarkan satu kegagalan membuat kita menyebut diri sebagai orang gagal. Dan jangan biarkan satu masalah membuat kita lupa bahwa masih banyak nikmat yang patut disyukuri.

Kadang-kadang, yang perlu diubah bukan keadaan di sekitar kita, melainkan cara kita melihatnya. Sebab ketika cara pandang berubah, langkah pun berubah. Dan ketika langkah berubah, arah kehidupan pun perlahan dapat berubah ***

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button