Cakrawala

Pemimpin: Menulis atau Ditulis?

Figur penting sebagai pokok tulisan terkait erat dengan perubahan. Perubahan, pokoknya pada pemimpin. Pemimpin apa saja, pada level manapun. Lalu, darimana pemimpin datang? Dalam konteks peran jurnalisme, pemimpin berbuat banyak – dengan pikiran dan tentu dengan perbuatan – yang karenanya ia dipublikasikan melalui tulisan. Pemimpin menebar aura kepemimpinan jauh sebelum orang banyak menempatkannya pada kursi kepemimpinan.

Di sini jurnalis (dengan sengaja) memilih sosok yang layak untuk dipublikasikannya. Masalahnya, siapa yang layak? Perlu kecerdasan mengungkit keluarnya “kepemimpinan laten” menjadi “manifes”. Kepemimpinan sebagai karakter, menebar manfaat. Memancarkan visi kebaikan dan perbaikan melampaui yang dipikirkan orang pada masanya.

Pemimpin yang tidak menulis, mengganti “penjejakannya” dalam kehidupan dengan karya nyata. Ia bukan hebat sendirian, dan sanggup menggerakkan untuk bersama-sama berhasil dalam sebuah bidang kehidupan. Dalam konteks ini, saya jadi ingat sosok almarhum Idrus bin Salim al-Jufri, pendiri perguruan Al-Khairaat – yang akrab disapa Guru Tua. Al-Khairaat adalah almamater tokoh yang terkenal sebagai “gubernur anterpreneur”, Fadel Muhammad, dulu beliau pernah memimpin provinsi Gorontalo.

Pada suatu kesempatan, saat itu milad (peringatan ulang tahun) Al-Khairaat, Ketua Utama Al-Khairaat, HS Saggaf Al-Jufri berpesan,”Al-Khairaat memang tua, tapi bukan tua renta karena sesungguhnya Guru Tua Idrus bin Salim Al-Jufri bukan menciptakan kitab-kitab yang mati, melainkan kitab-kitab yang hidup, yang setiap zaman  orang tidak pernah keliru membacanya.” Ungkapan itu disampaikannya pada milad Al-Khairaat ke 64, 14 Muharam 1414 Hijriah (1993). Pendapatnya, meneruskan pernyataan Guru Tua sendiri tatkala ia ditanya mengapa tidak melahirkan kitab? Beliau menjawab,” Hadzihi kutubi, ini kitab-kitabku, seraya menunjukkan hamparan bangunan perguruan Al-Khairaat.

Guru Tua tidak meninggalkan kitab, tetapi sejumlah karya nyata tak terbantahkan. Kiprah Guru Tua yang berpulang pada 12 Syawal 1389 bertepatan 22 Desember 1969, berlanjut hingga hari ini di tangan abna’ul khairaat dengan 1000-an lebih cabang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Berbeda dengan pemimpin lainnya. Kita nukil yang kontroversial: Adolf Hitler. Dia menulis buku yang kemudian masyhur dengan judul Mein Kampf – Perjuanganku. Buku itu ditulis Hitler dalam penjara karena partainya, Nazi, gagal mengkudeta pemerintah lewat pemberontakan. Usai Perang Dunia I, Jerman dipaksa membayar Prancis sejumlah uang yang besar, tetapi Jerman enggan membayarnya.  Jerman inflasi, tapi rakyat rakyatnya setia menyokong pemerintah, memuji ketahanan Jerman menentang Prancis. Tapi pada September 1923, Jerman terpaksa akur dengan Prancis lalu membayar utang. Rakyat marah, memicu ketegangan politik dalam negeri Jerman.

Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei dan kelompok yang lain mengambil kesempatan atas krisis itu. Adolf Hitler kian terdesak untuk memimpin partai, dan sadar ia perlu bertindak cepat. Ketika itu Nazi dengan 55.000 anggota adalah partai politik terbesar Jerman dengan sistem organisasi terbaik dibanding partai lainnya. Didorong peluang itu, Hitler memberontak meski gagal dan dibui.

Mein Kampf memberi tahu kita pikiran Hitler muda, rencana masa depan bagi Jerman dan gagasan politiknya. Lepas dari bagaimana Hitler saat berkuasa, Mein Kampf sukses membangkitkan semangat rakyat Jerman yang tengah frustrasi karena kalah perang. Hitler meraih kekuasaan tahun 1933 dan mewujudkan beberapa isi buku itu. Pada awal Perang Dunia II, Jerman tampil sebagai negara kuat di daratan Eropa. Hitler menulis; menuangkan visinya, dan saat berkuasa membuktikan apa yang ditulis dan digagasnya.

Maka pemimpin itu menulis atau dituliskan (oleh jurnalis)? Pemimpin adalah lokomotif perubahan. Ia perlu menulis agar publik bisa mendalami visinya, dan siapapun yang yakin pada kepemimpinannya, faham kemana arah kepemimpinannya hendak ia hela. Pemimpin, sosok paling berani bermimpi. Mimpi pertama yang orisinal dan menyemangati, jelas menunjukkan kelas kepemimpinan seseorang. Kalau hanya ingin nampak bernas, seorang calon pemimpin melibatkan orang lain menulis tentang atau atas namanya, hal itu menjatuhkannya pada tingkat pembohong. Bayangkan, kalau sebuah visi calon pemimpin dipasrahkan pada “kepala orang lain”. Sangat berisiko bukan?

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda