Aktualita

Covid 19, Puasa dan Mudik

Umat Islam di Indonesia dan di seluruh dunia mengalami ujian yang lebih berat pada dua Ramadan terkahir. Sama halnya dengan Ramadan tahun lalu, umat Islam kali ini tidak  bisa menjalankan ibadah puasa dan ritual ibadah yang terkait dengan puasa sebagaimana mestinya. Hal ini dikarena masih merebaknya Pandemi Covid 19.  Buka puasa bersama dibatasi dan bahkan dilarang. Salat tarawih dan di masjid juga harus diajalankan dengan protokol kesehatan yang ketat. Operasional restoran yang biasanya menjadi  menjadi tempat favorit untuk buka puasa bersama dan silaturahim juga dibatasi. Bulan Ramadan  dua tahun terkhir ini tidak semeriah puasa pada bulan-bulan sebelumnya.

Selain persoalan di atas, dua kali Ramadan terkahir ini juga diwarnai dengan masih belum pulihnya situasi ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid-19.  Dunia usaha masih lesu dan belum bisa pulih beroperasi sepenuhnya.  Banyak karyawan yang masih dirumahkan akibat perusahaan tidak mampu membayar gaji atau upah. Situasi ini disertai dengan bencana alam seperti bencana banjir bandang di NTT yang merenggut lebih dari 100 orang, dan bencana longsor di tempat lain.

Hakikat Puasa Dan Covid-19

Situasi  yang  penuh keterbatasan ini sejatinya  tidak mengurangi substansi makna dari ibadah puasa itu sendiri.  Karena hakikat ibadah puasa itu sebenarnya adalah menahan atau membatasi  diri dari aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan pada hari hari di luar Ramadan.  Sikap menahan dan membatasi itu tentunya akan mengurangi kenikmatan kita. Pada hari-hari biasanya, kita menikmati pagi hari dengan minum kopi atau teh  dan makan, pagi harus ditahan hingga waktunya berbuka atau santap Sahur. Kenikmatan makan siang dengan berbagai jenis makanan yang bisa dipilih harus ditahan dan ditunda hingga waktu berbuka puasa tiba. Kenikmatan berhubungan suami istri yang bisa dilakukan kapan saja juga harus ditahan sampai dengan pada malam hari.  Ibadah puasa juga mengajarkan kepada seluruh anggota tubuh kita untuk menahan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat dan dilarang oleh hukum.

Ibadah puasa juga melatih kita untuk berdisiplin. Inti dari disiplin adalah menjalankan sesuatu tugas atau kewajiban seusai dengan aturan yang ditetapkan atau disepakati. Orang yang melaksanakan ibadah puasa tidak boleh makan dan minum, melakukan ibadah lain seperti salat tarawih, Iktikaf kapan saja atau seenaknya. Amalan itu harus dijalankan sesuai dengan waktu dan aturan yang sudah ditentukan oleh ajaran Islam.  Jika dikaji lebih mendalam sikap menahan diri dan berdisiplin itu merupakan fondasi mentalitas bagi perkembangan peradaban suatu bangsa atau kelompok masyarakat. Orang banyak menunjuk contoh sebuah negara yang maju dengan peradaban yang tinggi   karena masyarakat di negara itu mempunyai  tingkat disiplin yang tinggi. Di negara-negara tersebut, masyarakatnya mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan–tindakan  yang melanggar hukum dari yang paling sederhana misalnya taat atau rela mengantri hingga bentuk yang paling tinggi misalnya melakukan korupsi.  Seorang Muslim yang berhasil puasanya seharusnya bisa berdisiplin dengan berperilaku sesuai dengan aturan misalnya rela mengantri dan tidak melakukan korupsi.

Sikap  menahan diri dan disiplin dari masyarakat  yang menjadi hakikat dari puasa itu saat ini menjadi begitu urgen dan mendesak untuk mengatasi pandemi Covid-19.  Masyarakat diminta menahan diri  untuk tidak keluar rumah, membuat kerumunan dan mengkonsumsi makanan yang tidak higienis untuk menjaga kesehatan dan kekebalan tubuh sehingga tidak dengan mudah tertulari Covid-19. Sikap disiplin juga diperlukan misalnya  dalam mentaati protocol kesehatan dan menjalani hidup yang sehat dan baik sehingga kondisi fisik dan psikis terjaga dan memberikan kekebalan tubuh agar tidak terpapar Covid 19. Kesimpulannya adalah hakikat puasa dalam bentuk menahan diri dan berdisiplin jika diaplikasikan secara konsisten akan bisa membantu masyarakat dalam mengatasi Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini penyebarannya masih sangat serius.

Hakikat Syawal  dan Covid-19 

Dua kali bulan Ramadan juga diwarnai dengan larangan pemerintah untuk mudik lebaran. Bagi masyarakat Islam  Indonesia yang merantau, seakan-akan tidak lengkap dan afdol, jika berakhirnya puasa yang dilanjutkan dengan Idul Fitri  pada bulan Syawal tidak diikuti dengan mudik lebaran. Dalam momen yang selalu dirindukan ini umat Islam perantau bisa bertemu, bersilaturahim dengan orang tua, family dan handai taulan.  Dalam situasi yang normal tradisi ini memang dianjurkan karena silaturahim merupakan manifestasi ajaran Islam yang akan menciptakan kohesi sosial, perdamaian dan memperkuat modal sosial.  Sayangnya pada bulan Syawal kali ini umat Islam perantau harus kembali menahan diri untuk tidak mudik lebaran. Umat Islam perantau  harus menahan diri untuk bisa bergembira  bertemu dengan saudara, family dan handai taulan di kampung halaman.

Larangan pemerintah untuk mudik lebaran merupakan upaya  pemerintah untuk menekan  atau mengatasi penularan Covid-19 akibat pergerakan komunal yang pergi dan pulang dari mudik  lebaran. Kekhawatiran  ini bukanlah omong kosong. India dan Brazil merupakan contoh yang paling up to date. Di kedua negara itu  lalu lintas pergerakan orang yang melakukan ritual sosial dan keagamaan telah menyebabkan  terjadinya gelombang ketiga penularan Pandemi Covid-19. Di India korban meninggal   akibat Covid 19 sekitar 3700 perhari  sementara itu di  Brasil angka kematian akibat Covid-19  tembus angka 4000 orang perhari. Pemerintah dan masyarakat Indonesia tentunya  tidak ingin Indonesia menjadi seperti fenomena di India dan Brasil.  Patut disyukuri bahwa situasi pandemi di Indonesia saat ini menunjukkan kecenderungan yang membaik dimana jumlah orang yang terpapar menunjukkan grafik yang landai. Namun demikian, kita tidak boleh lengah, karena situasi belum bisa dikatakan pulih. Kita ingin segera mengatasi pandemi Covid-19 ini sebagai landasan bagi pemulihan di bidang ekonomi dan sosial dan pendidikan. 

Masyarakat Muslim perantau harus menyadari bahwa sikap menahan diri untuk tidak mudik pada  bulan Syawal kali justru seperti keharusan. Menahan diri untuk tidak mudik tidak mengurangi hakikat makna dari bulan Syawal dan Idul Fitri.   Karena hakikat dari makna Syawal  peningkatan kehidupan, amal dan ibadah sedangkan  hakikat makna  Iedul Fitri adalah kembali   kepada kesucian. Tanpa mudik lebaran  insya Allah  umat Islam perantau bisa kembali kepada kesucian atau melakukan koreksi terhadap kelemahan dan kekurangan yang dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya. Pada bulan Syawal, walaupun tidak mudik lebaran, Insya Allah umat Islam bisa meningkatkan kehidupan, amal dan  ibadahnya pada bulan-bulan selanjutnya. Bisa jadi menahan diri untuk tidak mudik pada bulan Syawal ini justru akan menjadi ujian bagi umat Islam. Apakah umat Islam akan mampu meningkatkan kehidupan amal dan ibadahnya yang dimulai dari  keberhasilan dalam menekan atau mengatasi  penularan Covid-19 sebagai tonggak bagi pemulihan kehidupan ekonomi dan sosial?

About the author

Sri Yunanto

Dr. Sri Yunanto. M.Si adalah Associate Profesor Magister Ilmu Politik , FISIP, Universitas Muhammadiyah Jakara. Staf Ahli Menko Polhukam (2016-2019) menulis berbagai isu tentang politik dan Gerakan Islam dan Isu Kemanan. Beberapa Karyanya adalah Militant Islamic Movement in Indonesia and Southeast Asia (English), Gerakan Militan Islam di Indonesia dan Asia Tenggara (edisi Indonesian, 2003), Islamic Education in South and Southeast Asia (2005). The Fragmentatation and Conflict of Islamic Political Parties During Reformasi Era ( 2013) Menata Ormas, Memperkuat Bangsa ( 2017)

Tinggalkan Komentar Anda