Tasawuf

Malam Kemuliaan

Suatu ketika berkata Hamka, ia kutip QS. Al-Qadr: 2, “Dan sudahkah engkau tahu, apa malam kemuliaan itu” (al-Qadr: 2). Pada ayat berikutnya dijelaskan sebuah malam yang keutamaannya sama dengan 1000 bulan atau sekitar 80 tahun lebih umur umat manusia. Di akhir surah al-Qadr dijelaskan bahwa Lailatul Qadr adalah malam sejahtera, malam yang damai. “Sejahteralah dia hinggga terbit fajar” (Al-Qadr: 5). Masih dilanjutkan ayat lainnya. Malam itu disebut Lailatin Mubakaratin, yakni malam yang diberkati Tuhan (Ad-Duhkhan: 3).  

Masih menukil Hamka, ada tiga riwayat yang sahih tentang Lailatul Qadr: Pertama, sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, yakni sejak malam ke-21. Karena sejak malam itu, Rasulullah Saw memperkuat ibadahnya daripada malam malam sebelumnya. Kedua, dari pendapat Imam As-Suyuthi, yang kemudian dikuatkan oleh Syeikh Khudari, jatuhnya pada 17 Ramadhan. Ketiga, Ibnu Hajar yang mengatakan Lailatul Qadr yang sebenarnya hanya sekali. Yakni saat Alquran turun sewaktu Rasul beruzlah di dalam gua Hira.

Sementara Lailatul Qadr yang kita peringati dan memperbanyak ibadah pada tiap malam hari bulan puasa itu, menurut Hamka untuk memperteguh ingatan kita kepada turunnya Alquran itu. Kita hidupkan malam itu, memperbanyak syukur kepada Allah, berdiri mengerjakan shalat yang disebut Qiyamul Lail (tarawih).

Tafsir Lailatul Qadr

Lailatul qadr malam istimewa, malam keutamaan. Nazaruddin Umar, pengajar IAIN Jakarta, mengatakan, lailatul qadr sebagai vibrasi (getaran) spiritual. Ia melanjutkan, lail adalah malam. Perspektif tasawuf memandangnya sebagai sisi feminin. Lawan katanya nahr, siang, sebagai sisi maskulin. Lailatul qadr menonjolkan nuansa feminin dalam arti nurturing: kelembutan, kehangatan, kemesraan, pengayoman. Lawannya struggle: perebutan, keangkuhan, penguasaan, ketegaran.

Lailatul qadr memancarkan pesan agar hamba Allah menciptakan kualitas feminism dalam dirinya, yakni membangun rasa kasih.”Jalur tercepat menjumpai Allah adalah jalur feminism. Makanya disebutkan dalam hadits Nabi, Al Jannatu  tahta aqdamil ummahat, surga itu di bawah telapak kaki ibu,” kata Nazaruddin.

Ibu dalam nash (teks) tersebut bermakna kualitas feminin, yang bisa pula dicapai kaum laki-laki. Yakni mencapai kecerdasan spiritual yang sangat berbeda dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual jauh lebih dahsyat.

Kalau kita salat dengan mengandalkan logika, yang teringat bukan Tuhan. Mungkin nostalgia, proposal yang kita susun, atau munculnya ide-ide segar. Padahal dalam ibadah khusus, yaitu salat yang Cuma beberapa menit itu, kita dituntut benar-benar ingat Tuhan, dan merasakan keindahan tersendiri di dalam batinnya. “Dengan begitu, salatnya punya bekas,” kata Nazaruddin.

Lalu, apa kaitan kecerdasan spiritual dengan lailatul qadr. Lailatul qadr itu password atau entry point menontoh sifat-sifat Tuhan,” ujarnya. Sayangnya, orang menyambut lailatul qadr dengan hiruk pikuk yang berbau mitos. “Lailatul qadr jangan dimitoskan. Ada yang menunggu air membeku, saat itulah ia berdoa. Bukan itu yang dimaksud malam kemuliaan.” Lailatul qadr jangan diukur dimensi waktu di bumi. Sebab malam di sini, berarti siang di tempat lain. Begitu juag sebaliknya, malam di sana, siang di sini.

Lailatul qadr itu simbol, bukan fakta. Kalau memang fakta, ukuran malamnya ukuran mana, malam di Arab Saudi atau Indonesia? Pahamilah lailatul qadr sebagai suasana batin feminin: indah, lembut, penuh kepasrahan, dan kehangatan terhadap Tuhan.

Pertautan Hamka – Nazaruddin

Sampai di sini Nazaruddin bertemu dengan Hamka, penulis buku Tasawuf Modern, bahwa inti lailatul qadr adalah pencerahan. Bagi Hamka, yang dimaksud lailatul qadr ialah seperti masuk Islamnya Umar ibn Khattab, tatkala membaca lembaran mushaf yang direbutnya paksa dari adiknya,” Thaha! Tidaklah Kami turunkan kepada engkau Al-Quran supaya engkau sengsara. Melainkanperingatan bagi orang yang takut. Diturunkan oleh yang menjadikan bumi dan langit yang tinggi. Yaitu Yang Mahamurah, yang bersemayam di Arasy (ayat 1-5).

Umar membaca dua tiga kali, diulang-ulangnya. Ayat itu merasuk ke kalbunya, lalu datang suasana batin yang mengubah arah hidupnya. “Di mana Muhammad. Bawa aku kepadanya.” Dan Umar pun masuk Islam. “Itulah saat kemuliaan yang melebihi 1.000 bulan,” tulis Hamka.

Atau tatkala seorang pemuda merayap-rayap pada malam hari mencari perempuan untuk diajak bermaksiat. Tiba-tiba dari salah satu rumah berlentera terdengar suara merdu. Segera tahu  si pemuda, di situlah berdiam perempuan rupawan tak bersuami. Dia masuk dan tertegun-tegun memandangi paras rupawan sang perempuan yang ternyata sedang membaca Al-Quran. Makin tertegun dia tatkala mendengar suara perempuan itu sampai pada bacaan: Alam ya’lam lilladziina ‘amanu, an takhsya’a quluubuhum lidzikrillahi wama nazala minal haqqi, belumlah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman buat tunduk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah Dia turunkan?” (Al-Hadid: 36).

Si pemuda merasa ayat itu seakan-akan dipukulkan kepadanya. Bergetarlah dia merasakan ada iman di lubuk hatinya, yang selama in telah diselubungi hawa nafsu. Ambruklah saat itu jua segala syahwat, ia meluncur turun, lari menuju masjid menegakkan salat. Sejak itu berubah hidupnya, menjadi manusia saleh. Pemuda itu tidak lain Fudhail bin Iyyadh. “Malam tatkala ia mendengar ayat Quran, lalu tergetar hatinya dan berubahlah perilakunya, itulah lailatul qadr.”

Bagaimana dengan lailatul qadr lainnya? Cukup masyhur pandangan kalangan awam, tentang tanda-tanda atau gejala Lailatul Qadr. Misalnya air berhenti mengalir, pohon kayu menunduk ke bumi, sinar cahaya bulan tak seperti biasanya dan sebagainya. Semuanya itu tidak bisa dipertangggungjawabkan menurut ilmu agama. Ada juga kita temukan riwayat yang mengatakan bahwa malam yang diberkahi itu bukanlah Lailatul Qadr, melainkan malam Nisfu Sya’ban.

Tetapi dalam pandangan Hamka, riwayat tentang Nifsu Sya’ban itu tidaklah bisa dipegang, sanad-sanad tidak valid, riwayatnyapun banyak yang dhaif, bahkan ada yang dusta. Oleh sebab itu, tidak dapat dijadikan dasar untuk dijadikan akidah dan pegangan.

Masih menurut Hamka, “Maka untuk mendapat anugerah suasana pendek Lailatul Qadr, yang nilainya lebih 1000 bulan, adalah hati yang ikhlas dihadapkan semata-mata kepada Allah. Mulailah dahulu dengan kesadaran adanya diri sendiri, kemudian lihatlah dan renungilah alam sekeliling”. Sebagaimana ditulis Hamka dalam Renungan Tasawuf (h. 73-76). 

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda