Cakrawala

Diponegoro Pemimpin Jawa yang Menulis

Dalam sejarah nasional, namanya sangatlah familiar. Ketenarannya menembus batas generasi. Fragmen dari sisi kepenulisan, jarang dibicarakan publik, padahal dalam soal ketajaman pena, tidaklah kalah dibanding kejuangan di bidang lainnya.  Diponegoro, nama yang ikonik, pada masa kolonial Belanda maupun sekarang. Orang mengenalnya sebagai pengobar  perang sabil jihad fi sabilillah di Jawa.

Episode penting dari peperangan yang dikobarkan Diponegoro tidak panjang, lima tahun (1825-1830), namun nyaris membangkrutkan pemerintah Belanda. Pergolakan itu menewaskan 8 ribu pasukan di pihak Belanda dan 7 ribu serdadu pribumi dan telah menguras keuangan kolonial. 200 ribuan jiwa korban di pihak rakyat jelata dan pasukan Diponegoro. Perang ini telah mendorong Belanda untuk memaksakan program tanam paksa yang memicu pemberontakan baru dari kalangan ulama. Situasi memburuk telah menyeret Belanda mengajak damai. Kedua pihak sudah habis-habisan. Diponegoro setuju. 28 Maret 1830 Diponegoro bersama lima orang lain ya (Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock, Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Diponegoro menuntut untuk mendapat “kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan Islam”.

Jangankan dipenuhi, De Kock malah menangkap Diponegoro. Kepada Jendral De Kock saat menangkapnya, Diponegoro mengatakan,” Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi – Nama saya Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Pemimpin Islam Tanah Jawa.”

Ucapan itu bukan omong kosong. Bersama Diponegoro, menurut sejumlah naskah Jawa dan Belanda, ikut berperang tak kurang dari 108 kyai, 31 haji, 15 syeikh, 12 penghulu Yogya dan 4 kyai guru. Ini luar biasa sekaligus mengherankan karena beberapa tahun lamanya terjadi ketegangan antara istana dan ulama sejak pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647. Di bawah Diponegoro, putra Raja Jawa yang zuhud, alim dan dekat dengan wong cilik, kekuatan ulama dan bangsawan bisa bertaut.

Singkat kata, usai ditangkap, Diponegoro bersama pengikutnya dibuang ke Makassar. Diponegoro sendiri pernah ditembak kaki dan dadanya dalam pertempuran. Bersamanya ada lima pengikut yang dibawa ke Semarang dan terus ke Batavia.  3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan lagi ke Makassar. Dalam tahanan di benteng Makassar ini, Diponegoro menulis Babad Diponegoro sebanyak 4 jilid setebal 1357 halaman. Ditulis dalam tata sastra Jawa yang indah menjejakkan sebuah visi. Menurut sebuah sumber, Diponegoro meyakinkan pembaca, perang yang ia pimpin bukan hanya perang terbesar di Nusantara, tetapi terbesar di dunia ketika itu, yang disorot penjuru dunia. Perang puncak dua kubu: Islam melawan kolonialisme di seluruh dunia. Diponegoro menganggap perjuangannya berhasil.  Apa ukurannya? Tercapainya tujuan jihad. Diponegoro dalam sarah dandhanggulo menyebutkan, tujuan perang Jawa bukan mengusir penjajah Belanda dari Tanah Air, tetapi membangkitkan kesadaran Islam bagi penduduk Jawa. Menurut Diponegoro apabila beliau tidak meninggalkan istana,  melepas kebangsawanannya dan menggantinya dengan baju ulama lalu berperang melawan Belanda, “Islam tidak akan ada lagi di Pulau Jawa.”

Empat tahun saja Diponegoro di pembuangan, kemudian berpulang. Beliau mewariskan Babad Diponegoro yang tersusun sebagai pesan yang tak lekang dimakan zaman. Ini bedanya dengan Napoleon. Setelah tertangkap dan dibuang ke pulau Elba, Napoleon terus mencari akal untuk lolos dari bui, dan berhasil. Ia kembali ke Prancis, berkuasa selama 100 hari lamanya lalu kalah dalam pertempuran Waterloo dan dibuang ke pulau Santa Helena sampai meninggalnya. Akan halnya Diponegoro, beliau sejatinya bukan penyuka perang, malah dalam episode spiritualnya dilambari amalan-amalan olah jiwa. Ekspresinya sebagai pengamal tasawuf begitu kental.  Diponegoro bukanlah wali yang abai shalat, karena ia turuti pesan Sultan Agung, yang tertuang pada sebait tembang Sinom dalam Serat Sastra Gending (tentang Kesucian Jiwa),”Pramila gendhing yen bubrah, gugur sembahe mring Widdhi, Batal wisesaning shalat, tanpa gawe ulah gendhing, gene ngran tembang gendhing tuk ireng swara linuhung, Amuji asmane Dhat, swara saking osik wadhi, Osik mulya entering cipta-surasa, Jika syariat sembahyang tidak dituntun oleh kesucian jiwa, maka batallah shalat seseorang. Dan tak ada perlunya orang memelihara hidup kebatinan, apabila tidak berisi usaha mengagungkan Dhat Allah.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda