Cakrawala

Mengadili Guru Ngaji

Usianya tidak muda lagi ketika menghadapi persidangan. Sosok ringkihnya, dengan usia 73 tahun, pasti takkan berulah macam-macam, namun toh keberadaannya telah membuat gelisah petinggi setempat. Apa sebab sehingga Residen Pekalongan, Fransiscus Netscher memanggilnya? Bahkan pada pertemuan itu hadir Bupati Batang Tumenggung Aria Puspodiningrat, Jaksa Pekalongan Raden Witiswodjo, dan Sekretaris Karesidenan Johannes Nijzelaar. Ada ketidaksukaan pejabat setempat padanya, tetapi beberapa beberapa kali gagal menjadikan lelaki tua itu orang buangan. Akhirnya dilontarkanlah tuduhan serius: memecah-belah penganut Islam dan tidak taat kepada kepala yang ditempatkan pemerintah. Pemanggilan – dan pemeriksaan sekadar sebagai formalitas, itu terjadi pada 6 Mei 1859, sebelum guru agama yang sudah berumur itu diasingkan ke Ambon.

Lelaki itu Haji Ahmad Ripangi, lahir di Kendal, residentie Semarang. Ia naik haji dan mukim delapan tahun di Mekah, sebelum pulang kampung. Balik ke Kendal, sang isteri sudah duluan berpulang. Hari ke sepuluh di Kendal sepulang dari Mekah, Ripangi menikahi janda Demang Kalisalak Metro Widjojo. Ia menerimanya, lalu menetap di Kalisalak, kabupaten Batang, sejak 1839.

Sebelum ke Mekah, Ripangi dipenjara sebentar lantaran penghulu Kendal menuduhnya mengajarkan ajaran palsu. “Setelah terbukti tidak benar, saya dibebaskan. Saya tidak meninggalkan Kendal karena alasan lain yang sudah saya katakana,” begitu jawaban Ripangi. Ripangi meninggalkan Kendal karena terutama karena setelah menikah lagi, istrinya di Kalisalak punya rumah sendiri. Saat itu ia tak menemui family lagi. Di Kalisalak, Ripangi membuka sekolah anak-anak. Lama-lama berkembang, orang dewasa pun ikut belajar di sana. Di mana ada warga sipil kharismatik, cerdas sosial dan cerdas intelektual, di zaman penjajahan Bekanda, niscaya pejabat lokal perpanjangan tangan kuasa kolonial Belanda akan menilainya sebagai bahaya. Begitulah berawal tuduhan minor kepadanya.

Ripangi dituduh antipemerintah. Padahal, seperti penjelasannya di depan forum yang memeriksanya,”Saya memberikan ajaran dan peraturan musni dari al Quran…cara pendidikan saya lebih baik dari cara menurut adat sini karena al-Quran sering diajarkan dengan banyak kesalahan dan kekurangan.”

Teknik mengajar Ripangi inovatif pada zamannya. Para sejarawan Belanda – semisal Karel A. Steenbrink – juga sejarawan modern mengakui, Ripangi berhasil mentransfer pengetahuan keislaman tanpa menggunakan Bahasa Arab. Untuk itu ia menyusun sejumlah kitab dalam kurun pengabdiannya selama 20 tahunan. Naskah itu terjemahan dan ringkasan berdasarkan kitab-kitab Arab tentang akidah, fikih, dari ulama Mekah dan Aceh. “Saya ikut pengajaran dan mengarang dengan cara sendiri,” begitu ujar Ripangi.

Para penguasa lokal ngeper rakyatnya kian melek Islam dan kian melek politik. “Ajaran saya bukan ajaran baru, tetapi ajaran al-Quran yang sudah ada sejak banyak abad,” itu katanya di forum pemeriksaan yang akhirnya memenuhi keinginan pejabat setempat: mengasingkan Ripangi. Sebelumnya, Gubernur Jendral Duymaer van Twist (1851-1856), menolak permintaan Residen Pekalongan untuk mengasingkan Haji Muhammad Rifa’i atau Ahmad Ripangi. Sang Gubernur Jendral bilang, dia tidak punya alasan kuat untuk itu. Pengadilan yang diminta memutuskan itu, tak digelar karena tak cukup dasarnya. Kepada Pahud – pengganti Duymaer, Residen Pekalongan 30 April 1856, diadukanlah perkara yang sama, dan gagal. Dasar permintaan Residen itu, adanya dua surat pengaduan dari Bupati Batang.

Akhirnya dipakailah kalimat kunci. Ripangi tidak taat kepada kepala pribumi yang diangkat atas nama Raja Belanda. Ini cukup menjadi alasan pengasingan. Sebagai penyebab “bahaya politik”, ia bisa ditindak tanpa perlu pengadilan, tanpa perlu ada saksi dan penyelidikan mendalam. Pada 9 Mei 1859, tiga hari setelah diperiksa Residen, Ripangi pun dibuang ke Ambon. Istrinya ia tinggali kekayaan berupa dua rumah bamboo, satu tempat masak, lima gudang pesantrian, tiga pintu kayu, dan 11 genderang untuk memanggil shalat. Semua senilai sekitar 100 gulden, Ripangi menjejakkan kitab-kitab pelajaran akidah dan fikih tanpa merepotkan para pembelajarnya yang belum faham Bahasa Arab, melalui Bahasa Jawa. Bukan sekadar Bahasa Jawa, kata Steenbrink,” Ia mampu mengarang buku dalam Bahasa Jawa yang menarik memakai bentuk syair.” Ini luar biasa dan karenanya ia menjadi sangat digemari jama’ah. Perbawa pemerintah meredup kalah kemilau dibanding sang guru ngaji. Ajarannya menjiwai jama’ah, bukan hanya dalam urusan ritual tapi menyentuh ranah sosial karena Islam ajaran multidimensi.

Apalagi ketika kajian itu bersinggungan dengan soal-soal hak dan kewajiban seorang pemimpin, boleh jadi sang kepala pemerintahan local yang hanya suruhan penjajah Belanda jadi tersentil. Keinginannya untuk berkuasa melebihi nuraninya sebagai hamba Allah, sehinga bolak-balik minta atasannya (Residen Pekalongan) membuang Ripangi. Akhirnya Ripangi memang diasingkan, tapi ajarannya membekas di tengah masyarakat Batang dan sekitarnya.

Ripangi diasingkan, buah permainan politik lokal. Dinamika pengajaran Ripangi sejatinya produk khas pengajaran Islam di luar negeri di abad 19 itu. Usai menerima pencerahan yang sarat wawasan, proses belajar penuh diskursus, melahirkan juru dakwah dengan semangat puritan, kehendak kuat memurnikan ajaran. Sekaligus didalamnya anti penjajah dan anti penguasa kafir.

Di sini terbukti, ajaran yang lurus mereduksi ketakutan pada kekuasaan, apalagi ketakutan pada kemiskinan. Dan Ripangi, satu diantara orang alim yang mencapai derajad itu. Persis argumennya ketika ditanya Residen Pekalongan, ”Dengan maksud apa anda memasukkan kecemasan dengan menyebarkan ajaran yang tidak cocok dengan agama orang pribumi di sini, yang begitu tajam Anda serang?” Dengan enteng Ripangi menjawab,” Saya mementingkan kepentingan rohani, bukan dunia.”

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda