Ramadan

Menjemput Ramadan

Awal dimulainya ibadah Ramadan senantiasa dinanti umat Islam. Ini penting karena penentuan tanggal 1 Ramadan sebagai hari pertama puasa fardlu, mesti ada keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan secara syariat. Keputusan yang paling banyak dianut di negara kita tentang masalah tersebut adalah versi pemerintah melalui keputusan Kementerian Agama.

Persoalan menjadi kompleks ketika di  tengah-tengah kita  terdapat beberapa lembaga atau organisasi keagamaan yang merasa berhak dan punya otoritas mengeluarkan keputusan tentang awal dimulainya Ramadan. Jika keputusan lembaga-lembaga tersebut antara satu dan lainnya sama atau tidak ada perbedaan, maka disambut sukacita oleh semua pihak. Namun jika keputusan itu hasilnya berbeda, maka pasti ada perbedaan hari permulaan puasa. Meski berbeda, mereka tetap menyatakan bahwa puasa hari pertama bertepatan dengan 1 Ramadan menurut versi masing-masing.

Dasar pijakan penentuan yang berbeda itulah yang melatarbelakangi terjadinya perbedaan penentuan tanggal. Kendati demikian, penentu keputusan serta umat yang mengikuti keputusan itu, secara umum telah menunjukkan kedewasaan dalam bertoleransi dan memandang perbedaan itu adalah rahmat. Perbedaan awal bahkan akhir Ramadan, disikapinya dengan bijaksana tanpa diperuncing argumentatif yang menegang. Bisa dimafhumi, di Indonesia yang memiliki umat Islam terbesar seantero jagat itu berkali-kali terjadi perbedaan dalam penentuan Ramadan, juga ketika merayakan Idul Fitri dan Idul Adha.

Pada dasarnya ada dua acuan pijakan. Pertama, metode ru’yatul hilal  atau melihat bulan; dan yang kedua, metode hisab atau hitungan. Keduanya bertujuan sama untuk menentukan tanggal bulan-bulan Hijriyah. Hanya saja, yang paling populer dan ditunggu-tunggu umat muslim adalah penentuan tanggal 1 Ramadan sebagai permulaan puasa, dan 1 Syawal sebagai hari raya Idul Fitri. Hasil akhir dari dua metode tersebut, bisa sama bisa pula berbeda. Dinantinya keputusan lembaga yang memutuskan tanggal itu, hanya saat menjelang puasa Ramadan dan menjelang Idul Fitri (1 Syawal). Di bulan-bulan yang lain, masuk atau habisnya tanggal atau pergantian bulan Hijriyah kurang mendapat perhatian umat muslim.

Awal dan akhir Ramadan berkait langsung dengan puasa wajib, yang merupakan salah satu rukun Islam. Karena berhubungan dengan ibadah wajib itulah, umat tidak serta merta sesukanya memulai atau mengakhiri puasa tersebut. Jika bulan tanggal satu terlihat di ufuk barat  sebagai hari pergantian bulan Sya’ban ke Ramadan, maka dimulailah puasa wajib esok harinya. Ini versi ru’yatul hilal yang berarti melihat bulan secara langsung. Namun, bagi versi hisab tidak perlu melihat bulan karena penentuan awal Ramadan sudah bisa ditentukan jauh hari sebelumnya dengan pendekatan hitungan falakiyah.

Belajar pada Arab Saudi

Berkaca pada situasi di Arab Saudi, rasanya layak untuk direnungkan sebagai bahan perbandingan. Keputusan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi terkait dengan awal atau akhir Ramadan (masuk Idul Fitri), sangat dinanti seluruh rakyat Arab, bahkan negeri-negeri sekitarnya. Di sana hanya ada satu lembaga yang memiliki otoritas mengeluarkan keputusan yang dinanti-nanti itu, yakni Pemerintah Kerajaan Arab. Sejauh ini menganut dasar ru’yatul hilal. Jadi, belum pernah terdengar di Arab Saudi umat memulai puasa dengan hari yang berbeda, begitu pula ketika memasuki Idul Fitri. Tibanya Hari Raya Idul Fitri ditentukan oleh satu sumber, yang dianut  atau diikuti juga oleh negeri-negeri tetangga di jazirah Arab itu.

Kembali ke negeri kita yang memiliki banyak ormas Islam. Seperti dimaklumi, Indonesia memiliki tiga pembagian waktu, yakni Waktu Indonesia bagian Timur (WIT), Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Memang cukup merepotkan  bagi umat muslim yang berada di wilayah WIT ketika menunggu keputusan Kementerian Agama dalam penentuan 1 Ramadan sebagai awal puasa, atau penentuan 1 Syawal sebagai hari raya Idul Fitri.

Katakanlah sidang isbat penentuan awal Ramadan Kementerian Agama dilangsungkan pukul 18.00-19.00 WIB di Jakarta. Umat yang mau mengawali puasa, lazim melaksanakan salat  tarawih hari pertama. Sementara mereka yang tinggal di Jayapura, misalnya, mesti menunggu keputusan Jakarta. Padahal di Papua sudah menjelang pukul 21.00 WIT. Jika ternyata masuk awal Ramadan, maka mereka mulai bertarawih di atas pukul sembilan. Di sisi lain, sidang isbat terkesan bertele-tele, memakan waktu lama dan berlarut-larut padahal umat di seantero nusantara lagi menanti-nanti keputusannya.

Perbedaan itu Rahmat

Kriteria penentuan awal bulan dalam kalender Hijriyah berbeda di antara berbagai ormas Islam. Di lembaga atau organisasi  itu sebetulnya terdapat ahli-ahli masalah kalender Hijriyah. Hanya saja formula untuk menyatukan berbagai pandangan para ahli tersebut, belum terwujud dalam arti yang sebenarnya untuk menentukan awal bulan Hijriyah secara bersama yang berlaku nasional.

Sudah berkali-kali Kementerian Agama (dulu Departemen Agama) menjanjikan akan mencari solusi yang bisa distandardisasikan untuk menentukan awal bulan Hijriyah (terutama Ramadan dan Idul Fitri) secara nasional, dan bisa diterima semua pihak. Mungkin baru tersentak kembali untuk mencari formula solusi itu ketika puasa Ramadan sudah mendekat, atau lebaran Idul Fitri hampir tiba.  Rutinitas sidang isbat Ramadan, meski dihadiri oleh perwakilan dari berbagai ormas Islam, itu sebatas menentukan apakah sudah masuk 1 Ramadan atau belum. Kemudian ketika menjelang akhir Ramadan menentukan kapan memasuki 1 Syawal (Idul Fitri).

Meskipun secara umum umat muslim Indonesia menyadari perbedaan – jika ternyata terjadi perbedaan –  yang diyakini sebagai rahmat, namun tak bisa dimungkiri  ada “ganjalan” psikologis. Satu keluarga dengan pemahaman yang berbeda di antara anggota keluarga, bisa jadi “berbenturan” ketika ada yang mengakhiri puasa Ramadan dan berbuka (berlebaran) sementara anggota yang lain masih menjalani puasa hari terakhir. Belum lagi saat salat Idul Fitri, ada yang melaksanakan sehari lebih cepat dibanding yang lain.

Sejalan dengan itu, ada pula “ganjalan”  moral yang layak menjadi perhatian,  ketika ada sekelompok umat justru maju 2-3 hari memulai puasa Ramadan dibanding keputusan Kementerian Agama. Mereka memiliki dasar perhitungan tersendiri yang terkesan unik dan diyakini turun temurun sejak zaman pendahulunya. Walhasil, jika awal puasa berbeda dengan keputusan Kementerian Agama, hampir pasti lebaran atau Idul Fitri-nya berbeda pula.

Jika saja ahli-ahli penanggalan dari berbagai ormas Islam itu duduk satu meja, baik yang mengacu pada ru’yatul hilal maupun hisab, terus diperkuat dari pakar astronomi, planetologi, tata surya, dan sebagainya serta difasilitasi Kementerian Agama untuk merundingkan sistem “pembakuan” penanggalan Hijriyah, maka bukan tidak mungkin ke depan kekhawatiran perbedaan awal Ramadan, 1 Syawal (Idul Fitri), dan 10 Dzulhijjah (Idul Adha) tidak akan terjadi lagi. Mereka perlu bertemu dan berdiskusi secara periodik dengan mengedepankan titik persamaan, bukan meruncingkan sisi perbedaan demi kemaslahatan umat muslim secara luas di republik tercinta ini.

Di balik itu semua, tibanya Ramadan pasti ditunggu dengan gembira oleh umat muslim guna mencuci segala dosa (bulan maghfirah atau pengampunan), serta meraih kemuliaan dan rahmat keberkahan sebanyak-banyaknya (bulan mubarok atau keberkahan), dan mendapatkan jaminan dibebaskan dari api neraka (itqum minan-naar atau pembebasan dari api neraka).

Selamat datang wahai bulan yang dirindukan. Marhaban ya Ramadhan!

About the author

Imron Samsuharto

Pemerhati religi alumnus FS (kini FIB) Undip Semarang

Tinggalkan Komentar Anda