Mutiara

Penghulu Semua Gerakan

Written by A.Suryana Sudrajat

Opini-opini politik Al-Hasan Al-Bashri, yang merupakan perluasan wawasan keagamaannya, sering menempatkannya dalam situasi sulit. Ia pernah hidup terisolir selama bertahun. Mengapa tak pernah diringkus, meski banyak berseberangan dengan kebijakan penguasa? Ia juga menempati kedudukan  yang unik dalam gerakan agama. 

“Ia menyempal dari kita (i’tazala ‘anna),” kata orang tua itu singkat. Washil ibn Atha’ (80 H/699 M-131 H/749 M) memang sudah menempati sudut lain, meski masih di masjid yang sama, Masjid Basrah, tempat Al-Hasan mengajardan Washil menjadi muridnya. Di sana pula Washil mengulangi pendapatnya.

Seperti biasa, hari itu Washil dan kawannya, ‘Amr ibn ‘Ubaid, mengikuti majelis Al-Hasan. Seseorang bertanya tentang orang yang berbuat dosa besar. Untuk diketahui, kaum Khawarij meyakini seorang pendosa besar dengan sendirinya kafir, sementara golongan Murjiah berpendapat sebaliknya. Selagi Al-Hasan berpikir, Washil berkata, “Menurut saya, orang itu bukan mukmin bukan kafir. Ia berada di antara keduanya (di manzilah bainal manzilatain, posisi di antara dua posisi).” Seperti diceritakan Asy-Syarastani dalam kitabnya Al-Milal wan-Nihal, Washil lalu berdiri dan menjauh dari majelis Al-Hasan.

Ini baru satu versi mengenai alasan Washil dan kawan-kawan yang kemudian disebut golongan Mu’tazilah (yang memisahkan diri), yang sering dianggap paham teologi rasional dan liberal. Orang Mu’tazilah sendiri lebih suka menamakan diri mereka Ahlut Tauhid wal-‘Adl, Golongan Ketauhidan dan Keadilan. Mereka juga dikenal menganut paham Qadariyah yang dikembangkan Ma’bad Al-Juhani, yang tewas dibunuh Hajjaj pada 80 H/699 M atas perintah Khalifah Abdul Malik ibn Marwan yang menganut paham Jabariyah. Al-Hasan sendiri sebenarnya sangat dekat dengan paham Qadariyah.    

Lahir di Madinah pada 21 H./642 M, Al-Hasan putra Abul Hasan, orang asal Masian yang dibawa ke Madinah sebagai tawanan perang. Di Madinah  Abul Hasan dipersaudarakan dengan Zaid ibn Tsabit r.a. dan menikah dengan Khairah dari marga Umm Salamah r.a. dari perkawinan inilah Al-Hasan dilahirkan, hanya sembilan tahun setelah Nabi s.a.w. wafat..

Setahun sesudah Perang Siffin (657), yang melibatkan Ali dan Mu’awiyah, Al-Hasan dibawa keluarganya ke Wadi Al-Kura, lalu menetap di Basrah, kota kamp militer 80 km barat daya Teluk Persia. Selama tiga tahun Al-Hasan muda (670-673 M) terlibat dalam beberapa ekspedisi ke bagian timur Persia (Iran). Dalam waktu singkat, Basrah berkembang lebih dari sekadar pos militer, tapi juga pusat kegiatan keagamaan dan intelektual. Dan Al-Hasan menjadi tokoh sentralnya. Ia pun lebih masyhur dengan sebutan Al-Hasan al-Bashri alias  Al-Hasan orang Basrah. Lebih dari seorang yang terpelajar, meskipun pikiran-pikirannya tidak tersusun sistematis, Al-Hasan dikenal salih dan asketis (zuhud) dan punya kepribadian dan integritas yang kuat.

Ketika para ulama terkemuka seperti Ibn Sirin dan Asy-Sya’bi tidak berani mengemukakan pendapat waktu ditanya tentang suksesi Muawiyah oleh putranya, Yazid,Al-Hasan menyatakan ketidaksetujuan. Semangat bebasnya itu juga ia tunjukkan kepada Khalifah Abdul Malik dan penguasa Irak, Hajjaj ibn Yusuf.  Kepada Khalifah Abdul Malik, Al-Hasan  pernah menulis: “Wahai Amirul Mukminin, tirani dan ketidakadilan bukanlah ajaran Tuhan. Ajaran-Nya adalah perintah-Nya mengenai keadilan, kebajikan, dan menyantuni kepada yang paling dekat.”

Opini-opini politik Al-Hasan, yang merupakan perluasan wawasan keagamaannya, sering menempatkannya dalam situasi sulit. Sekitar sembilan tahun ia hidup terisolasi karena pendiriannya yang bertabrakan dengan kebijaksanaan (policy) Hajjaj. Setelah sang powerful governer wafat, barulah Al-Hasan keluardari sarangnya. Ia memang tidak pernah diringkus, mungkin karena kesalehan dan pengaruhnya yang luas, atau karena oposisi moralnya dianggap tidak relevan bagi kekuasaan Umayyah saat itu.

Al-Hasan melihat dunia maupun akhirat di bawah ketakutannya akan neraka. Ia cemburu kepada orang yang terselamatkan setelah ribuan tahun di kamp jahanam itu. “Akankah aku seperti orang-orang itu,” katanya. Bagi asketis ini, Muslim sejati bukan cuma setia menjaga diri dari dosa, melainkan juga harus hidup dalam situasi kepastian akan mati bersama ketidakpastian nasibnya di akhirat. Musuh Islam baginya bukan hanya orang kafir, melainkan juga para hipokrit yang menganggap enteng agamanya, yang hidup bersama kita  di berbagai ruang, di jalan-jalan, dan pasar-pasar.

Namun, yang unik mungkin ini. Al-Hasan adalah milik semua gerakan agama. Di kalangan taswuf,  ia penghulu. Ia juga dianggap cikal-bakal dua aliran besar teologi Islam: Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Mu’tazilah bahkan menjadikannya bagian dari mereka. Bukan semata karena Washil murid Al-Haan, melainkan juga karena mereka sendiri penganut paham free will.   Oleh karenanya, tidak mengherankan ketika Hasan mangkat pada 1 Rajab 110 H/10 Oktober 728, ia mendapat penghormatan penuh dari seluruh penduduk kota. Dilaporkan, di hari pemakamannya tidak seorang pun salat Asar di Masjid Basrah. Semua mengiring jenazahnya.

About the author

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda