Cakrawala

Hakekat Kekayaan Hidup

Written by Arfendi Arif

Memiliki harta kekayaan merupakan obsesi setiap orang sekarang ini. Tidak ada manusia yang memungkiri jika ditanya apakah ia ingin menjadi miliuner. Jawabannya pastilah penuh gairah dan matanya menyala sebagai tanda setuju.

Kalau kita lihat dalam masyarakat topik kekayaan selalu menjadi bahan pembicaraan menarik. Tidak hanya kalangan atas yang membincangkan yang materinya mungkin sudah level tingkat tinggi seperti berapa jumlah perusahaan, properti, saham dan lainnya yang dimiliki, di kalangan menengah dan masyarakat bawah pun pastilah bahan pembicaraan tentang kekayaan juga jadi fokus yang mengasyikkan.

Yang menarik jika seseorang mendapatkan jabatan di pemerintahan maka wajib diumumkan kekayaannya, dan biasanya kita bisa tahu jumlah kekayaan mereka cukup besar baik dalam bentuk harta tidak bergerak, mobil, mata uang rupiah dan asing, emas dan lainnya. Semua ini bagi orang-orang yang hidup dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan tentu menimbulkan semacam khayalan dan berharap bisa pula menikmati kekayaan yang demikian besar tersebut.

Namun, kekayaan dalam bentuk materi, uang dan semacamnya itu bukanlah sebuah pencapaian yang bisa dikatakan puncak kesempurnaan hidup. Materi, benda dan juga mungkin kemashuran dalam hidup merupakan hal yang bersifat duniawi sebatas pemuasan fisik lahiriah. Manusia adalah makhluk yang tidak bisa menikmati kepuasan dengan sesuatu yang bersifat rutinitas. Manusia bukanlah seperti benda mekanis yang bisa menerima kehidupan yang monoton tanpa makna.

Karena itu kehidupan masyarakat moderen yang materialistik selalu akan mengalami dialog dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah berhenti mengenai makna dan hakekat hidup. Kepuasan dalam bentuk materi, jabatan,kekayaan dan lainnya suatu saat akan mengalami kejenuhan yang pada akhirnya manusia membutuhkan nilai- nilai lain yang mampu menjawab kegelisahan batinnya.

Berawal dari sini bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa harta dan kekayaan yang telah dimiliki manusia dalam hidup ini bukanlah suatu pencapaian akhir dalam hidup. Kita bisa mengatakan bahwa prestasi ini barulah separuh atau 50 persen yang dicapai dalam kehidupan manusia  Masih tersisa 50 persen lagi yang harus diraih agar kehidupan mencapai nilai kesempurnaan yang sesungguhnya.

Mengapa harus dikatakan demikian, karena kehidupan manusia dan dunia ini bersifat relatif, sementara dan bukan merupakan keabadian yang tanpa akhir.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan berbeda dengan lainnya. Ia merupakan makhluk bidimensi yang terdiri dari jasmani dan ruhani. Bidimensional manusia tidak cukup kalau hanya dipenuhi segi-segi fisik fisik lahiriah semata. Ketidaksempurnaan pemenuhan hasrat manusia sebagai makhluk dua dimensi ini akan menyebabkan kehidupannya pincang dan timpang. Kalau hal ini terjadi dalam sebuah masyarakat akan melahirkan masyarakat yang sakit atau the sick society.

Kedua, kehidupan di dunia ini memiliki keterbatasan. Sebagaimana juga kehidupan manusia tidak kekal karena akan berakhir dengan kematian. Memang, hingga saat ini masalah kematian merupakan sebuah misteri jika dilihat dari sudut keilmuan semata atau duniawi semata. Manusia memiliki umur yang terbatas, ada penyakit, umur tua, dan bahkan bencana alam dan sebab-sebab lain yang menyebabkan manusia tidak bisa kekal dalam hidup di alam nyata ini.

Kenyataan bahwa monotonitas hidup, kejenuhan, keterasingan, kegundahan, penderitaan yang ditemukan dalam kehidupan, dan juga kematian adalah hal-hal yang bisa membuat hidup manusia tidak bahagia, dan juga tidak sempurna.

Dalam hal inilah manusia membutuhkan jawaban, dan jawaban tersebut tidak bisa terselesaikan hanya dengan kepuasan dan pencapaian dalam kehidupan materi semata. Bahkan, manusia yang hidupnya hanya mengejar aspek-aspek hedonistik atau kenikmatan semata suatu saat pasti akan bertanya tentang misteri yang menakutkan tersebut.

Dengan berbagai misteri kehidupan ini manusia sebenarnya dapat menjawab berbagai pertanyaan yang tidak menyenangkan itu. Tentu dalam hal ini jika manusia memberikan porsi yang lebih seimbang kepada jiwa, ruhaniah atau hati yang merupakan bagian dari struktur bidimensional manusia yang disebut di muka.

Memang sangat disayangkan bahwa kehidupan moderen sekularistik selama ini selalu berorientasi pada dominasi kehidupan kebendaan. Karena pengaruh ekonomi begitu kuat dalam kehidupan negara baik regional, internasional dan global segi-segi pembangunan ekonomi sangat berpengaruh di tiap negara. Hal ini menyebabkan setiap kesuksesan kehidupan hanya diukur dari segi-segi materi dan angka-angka yang bersifat kuantitatif. Sedangkan kekayaan spiritual, ketenangan hati dan batin tidak diperhitungkan.

Padahal, sudah selayaknya manusia memperhatikan kehidupan spiritual,mengutamakan batin dan hati supaya merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Dan hal ini bisa tercapai jika manusia mendidik batinnya melalui hubungan yang baik yang diajarkan oleh agama. Karena melalui agama hati manusia ditanamkan untuk selalu damai, sesuatu yang tidak bisa diperoleh dalam kehidupan materi. Jadi, kekayaan hidup bukan hanya ditentukan oleh benda, harta atau uang , tetapi juga kekayaan hati dan kedamaian jiwa.

Semua pencapaian di atas bisa ditemukan dalam agama. Salah satu inti sari ajaran agama adalah mengajarkan manusia bersyukur pada Allah. Bersyukur memiliki makna yang mendalam, yakni menghadapi hidup ini dengan rasa terima kasih. Tidak mengumpat maupun mencela dengan apa yang didapat dalam kehidupan. Semua ini menghilangkan manusia dari sifat frustrasi, stress dan kecewa. Dan ini artinya adalah manusia memiliki keseimbangan, tenang dan siap menghadapi hidup ini dengan persoalan apapun yang muncul.

Kedua, bahwa manusia beragama memiliki hidup ini dengan kekuatan doa. Doa merupakan simbol dari manusia yang tidak sombong. Dalam doa diakui ada zat yang lebih berkuasa dan maha menentukan dan maha pengasih. Dalam doa manusia juga punya harapan dan tempat bergantung. Menganggap hidup ini tidak sendiri, tidak terasing dan tidak kesepian. Dengan demikian doa memberikan optimisme dalam hidup ini. Karena itulah bahwa manusia yang sempurna tidak menganggap dirinya superior dan arogan, tetapi memiliki dan meyakini keterbatasan dan ketergantungan,sehingga membuatnya menghadapi hidup ini penuh harapan.

Kemudian ada nilai lain dari manusia yang sempurna ini adalah ia memiliki hubungan yang baik dengan manusia dan suka memberi. Manusia adalah ciptaan Allah. Ia dimuliakan dari makhluk apapun. Manusia, betapapun ia memiliki kekurangan dilihat dari segi kehidupan duniawi, namun ia harus tetap dimuliakan karena apapun yang terjadi dengan dirinya manusia telah ditakdirkan sebagai ciptaan Allah dan ditinggikan martabatnya. Karena itu setiap manusia harus dimuliakan dan dihormati oleh manusia. Bahkan, dengan kita mencintai Allah maka perwujudan dan konsekuensinya kita juga harus menghormati ciptaan-Nya, yaitu manusia.

Dengan dasar itu maka jika kita mencintai Allah maka cintailah pula manusia. Bantu mereka yang kesulitan dan berkekurangan. Kebahagiaan harus ditanamkan dalam hati kita ketika kita dapat membantu dan meringankan.manusia yang sedang menderita. Bukan hanya sekedar sampai disitu, dengan membantu dan menolong manusia yang sedang kesulitan maka kita menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah dan tahu berterima kasih pada karunia, rezeki dan rahmat yang telah kita terima dari pada-Nya.

Terakhir sebagai manusia yang sempurna dan memiliki kekayaan hati dan kedamaian jiwa, manusia harus memiliki sifat pemaaf, menjauhi sifat pendendam, dan tidak berlaku kejam dan zalim. Ini semua sifat tercela yang bakal menyebabkan kita sulit menemukan hati yang damai dan jiwa yang tenang. Sikap pendendam tidak mau memberi maaf ibarat selang air yang tersumbat dan menyebabkan air tidak bisa keluar, yang akhirnya melahirkan penyakit bagi jiwa dan tubuh.

Demikianlah kekayaan hidup tidak hanya cukup secara materi, tetapi juga harus memiliki kekayaan hati. Bila dua hal ini manusia dapat memilikinya maka itulah mereka yang telah mendapat puncak kekayaan dunia dan akhirat. Dan menemukan makrifat yang sesungguhnya dari manusia yang paripurna

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda