Cakrawala

Agama dan Sains

Kecenderungan dasar manusia adalah mencari dan menegakkan keteraturan, dalam semua lajur dan tingkat kehidupannya. Keteraturan dibutuhkan karena manusia selalu mengandaikan adanya tujuan yang harus dicapai, apa pun itu bentuknya.

Sebaliknya, manusia selalu menghindari ketidak-beraturan, karena itu dianggap akan menjauhkannya dari tujuan yang ingin dicapai. Dalam istilah duniawi, keteraturan ini disebut hukum alam atau hukum sosial atau lainnya; dalam istilah agama ia disebut sunatullah.

Kalau nalarnya dibalik, kita bisa mengatakan bahwa adanya tuntutan akan keteraturan menunjukkan bahwa setiap manusia pada dasarnya memahami bahwa hidupnya punya tujuan. Oleh karena itu, tak mengherankan bila manusia cenderung bingung setiap mengalami sesuatu yang dia anggap tidak beraturan; karena yang demikian akan dinilainya sebagai sesuatu yang tak bertujuan.

Mengatasi kebingungan semacam ini, berbagai cara dilakukan manusia. Salah satunya dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, sains. Intinya mencoba mencari tujuan di balik apa yang dianggapnya sebagai ketidak-beraturan; sehingga dia bisa menerima ketidak-beraturan tersebut sebagai bentuk keteraturan di tingkat lain. Bahasa yang umum dipakai: untuk memahami alam semesta, termasuk diri manusia.

Meski demikian, di awal apa yang disebut sebagai kesadaran post-modern, orang sempat terguncang juga dengan pernyataan bahwa semesta yang sebelumnya disebut cosmos, keteraturan; ternyata adalah chaos, ketidak-beraturan, kekacauan. Salah satu contoh: munculnya dari teori efek kepak kupu-kupu (butterfly effect), sebuah istilah dalam “teori chaos”.

Istilah yang pertama kali dipakai oleh Edward Norton Lorenz pada tahun 1962 ini, merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

Pertanyaan lebih lanjutnya adalah: chaos, ketidak-beraturan atau kekacauan ini benar-benar ada di semesta, atau di dalam kemampuan pemahaman manusia? Kalau kita pinjam teori tersebut, jawabannya: pengetahuan manusia tidak mampu sepenuhnya memahami luar biasa banyaknya unsur yang secara serentak bekerja di semesta, sehingga akan selalu gagal merumuskan keteraturannya. Chaos, ketidak-beraturan, kekacauan; tidak terjadi semesta, tapi di pikiran kita. Semesta akan selalu tetap berproses dengan keteraturan, akal pikiran kitalah yang tidak pernah mampu menggapainya.

Para ilmuwan, sudah tentu hanya akan bicara menurut apa yang sudah diketahui, sudah disepakati, sudah teruji berdasar ukuran-ukuran tertentu yang sudah disetujui bersama. Tentu saja itu akan memperkaya wawasan dan pengetahuan manusia, lebih-lebih tentang rincian-rincian unsurnya. Tapi, akan terlalu berkhayal jadinya bila orang mengandalkannya untuk mencari penjelasan tentang tujuan hidup atau keberadaan semesta misalnya.

Semua ilmu selalu bersandar pada yang sudah, yang lampau; sementara tujuan selalu mengandaikan yang belum, yang akan datang. Artinya, tujuan yang bersandar pada yang sudah, yang lampau, hanya akan berupa proyeksi atau ramalan yang terbatas dan jangka pendek; yang apabila kita pakai teori chaos, yang demikian pun akan lebih banyak melesetnya dari pada ketepatannya.

Di sisi lain, kalau kita pakai perbedaan penyimpulan akhir antara Albert Einstein dengan  Stephen Hawking, terhadap fakta adanya keteraturan semesta misalnya; kita akan menemukan bukti betapa tetap kuatnya peran subyektivitas bahkan dalam membuat penilaian berdasar sains sekali pun. Menurut Hawking, karena semesta selalu bergerak dalam keteraturan, maka tak lagi dibutuhkan pengatur atau Tuhan. Sebaliknya, berdasar fakta yang sama, Einstein justru menyimpulkan bahwa keteraturan ini ada karena adanya pengatur atau Tuhan.

Di luar ilmu pengetahuan, sains; agama adalah sumber bagi manusia untuk mampu memahami dan menemukan tujuan, baik semesta mau pun dirinya. Kedudukannya bahkan dianggap lebih tinggi; karena agama bersumber dari Allah, sang penciptanya diri dan semesta, yang pasti lebih tahu ciptaan dan tujuan penciptaanNya dibanding siapa pun.

Meski demikian, sama seperti posisi ilmuwan terhadap apa yang dianggap fakta; posisi manusia terhadap agama pun akan sangat dipengaruhi oleh subyektivitasnya; termasuk di dalamnya pengetahuan dan pengalamannya. Sehingga, apa pun bentuk taddabur atau tafsir yang muncul kemudian tidak akan pernah bersifat mutlak. Yang mutlak hanyalah firmanNya, bukan taddabur atau tafsirnya.

Di sisi lain, justru subyektivitas ini yang harus dengan lebih hati-hati kita sikapi. Allah, lewat Al Qur’an, menyebut kehadiran manusia di dunia sebagai khalifah; wakil, orang yang berjalan mengikuti, pengelola. Artinya kehadiran manusia sejak awal memang diposisikan sebagai ‘subyek’ yang mewakili, berjalan mengikuti Allah untuk mengelola bumi seisinya. Artinya, subyektivitas sejak awal memang menjadi bagian tak terpisah dari kehadiran manusia.

Kalau ini kita terima, masalah yang mestinya harus diperdebatkan bukan pada ranah subyektif atau obyektif lagi; tapi tataran subyektivitas macam apakah yang harus dikembangkan dan diterapkan. Karena, sejajar dengan Al Qur’an, apa yang ada di semesta juga di dalam diri manusia juga disebut sebagai ayat; bedanya hanya yang satu berbentuk verbal, yang lain non verbal.

Seorang sufi besar, Syaikh Bahauddin Nasyabandi, pernah mengatakan bahwa alat ukur kebenaran ada tiga: Kitab, diri dan semesta. Bila ketiganya bersesuaian, maka dia benar; bila ada salah satu yang menyelisih maka ia tidak lagi benar.

 Orang bisa membuat contoh sederhananya seperti ini: Kitab adalah ibarat cahaya (ingat ayat: Allah adalah cahaya langit dan bumi), diri ibaratnya mata, semesta ibaratnya adalah warna daun misalnya. Bila mata dalam kondisi jernih, tidak sakit atau mengalami gangguan apa pun; pada saat cahaya matahari memancar di pagi hari, maka daun akan tertangkap di matanya berwarna hijau.

Ini adalah kebenaran bagi umumnya manusia, karena ketiga unsurnya bersesuaian. Apakah ini kebenaran bagi daun? Belum tentu. Karena faktanya daun akan menyerap semua warna yang dipancarkan matahari kecuali satu warna yang kita tangkap sebagai warna hijau. Mahluk-mahluk lain yang kemampuan tangkapan warnanya lebih sedikit atau lebih banyak dari yang dimiliki manusia, mungkin akan menangkapnya dalam variasi dan spektrum warna yang berbeda.

Dalam kaitan dengan kenyataan inilah makna subyektivitas yang dimaksud di atas. Sebagai khalifah, wakil, pengelola yang berjalan di belakang yang diwakilinya; manusia diberi kemampuan untuk membaca dan memahami diri dan semesta sesuai dengan fungsinya tersebut; yang pasti berbeda dengan kemampuan mahluk lain untuk membaca dan memahami, bahkan dengan malaikat atau iblis sekali pun.

Jadi, persoalan utamanya bukan pada subyektivitas itu sendiri, tapi pada kejernihannya, pada kemurniannya. Atau, kalau dengan bebas kita pinjam ayat Al Qur’an: Lâ yamassuhû illâ al-muthahharûn (QS 56:79), tak bisa menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan. Dengan perumpamaan lain: hanya mata yang jernih saja yang mampu menangkap warna hijau hasil pancaran cahaya matahari yang dipantulkan daun. Tentu saja harus dicatat, muthahharûn disini mestinya tidak mengacu pada suatu kondisi tertentu yang statis, tapi dinamis; berkembang terus menerus.

Kalau ini diterima, maka kita bisa mengatakan bahwa baik saat berhadapan dengan agama (dalam artian sebagai teks suci) mau pun dengan sains, maka kunci pertama dan utamanya adalah kesucian subyeknya karena pada hakikatnya yang sedang dibaca atau dipahami adalah ayat-ayatNya, baik yang tertulis mau pun yang tidak. Kesucian inilah yang akan membawanya untuk membaca, memahami dan kemudian mengelola diri dan semesta sesuai dengan kemampuan yang sudah diberikan oleh Allah dalam kaitan fungsi kehadirannya sebagai khalifah.

Bila kenyataannya ada tubrukan atau pertentangan keras antar subyektivitas yang ada; sangat mungkin salah satu atau malah keduanya tidak berada pada posisi suci atau jernih. Baik antara sesama mereka yang berbasis sains, atau sesama yang berbasis teks suci (agama), atau antar yang berbasis sains dengan yang berbasis teks suci.   

Ada hadits menarik yang diriwayatkan oleh Tirmidzi: Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah. Orang mukmin adalah orang yang mengetahui tujuan penciptaannya; oleh karena itu ia bisa memungut kepingan ilmu, hikmah, dari mana saja untuk menyatukannya sebagai bagian dari gambar besar tujuan penciptaan.

(Catatan: tulisan ini tidak dimaksud sebagai tanggapan terhadap diskusi tentang sains yang marak akhir-akhir ini. Meski baru dipublikasikan, tapi ia sudah ditulis akhir Maret untuk menanggapi wacana yang cenderung memperhadapkan agama dan sains terkait merebaknya pandemi Covid-19)

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda