Cakrawala

Menuju Salat Penuh Makna

Written by Arfendi Arif

Salat adalah ibadah yang paling pokok dalam Islam. Baik dilihat dari segi aqidah maupun syariah kemusliman seorang ditentukan oleh kepatuhannya dalam mengerjakan salat lima kali sehari semalam. Walaupun seseorang telah mengikrarkan ber-Tauhid dengan mengucapkan dua kalimah syahadat maka harus ditunjukkan dengan kewajiban mendirikan salat yang tidak boleh ditinggalkan apapun alasannya.

Secara komitmen salat bukanlah semata gerakan fisik, tetapi mengandung nilai-nilai dan ajaran yang harus diamalkan. Salat bukanlah gerakan kosong tanpa makna tetapi harus mampu melahirkan perilaku kebaikan atau  moralitas terpuji.

Dalam hal ini janganlah melakukan aktifitas salat sebagai pekerjaan budaya atau adat yang rutinitas tanpa arti. Salat  harus memberikan pengaruh pada kehidupan manusia secara spritual dan amal. Dalam arti ia meyakini bahwa kehidupan ini memiliki kelanjutan, tidak hanya terbatas dalam dunia yang kongkrit sekarang ini. 

Doktrin salat yang paling mendasar mengatakan bahwa salat itu mencegah dari perbuatan keji dan.mungkar (al-Ankabut 45). Artinya, jika salat dilakukan dengan benar maka ibarat tumbuhan ia menghasilkan buah yang baik dan disukai manusia. Sebaliknya jika orang salat tetap mengerjakan keburukan dalam hidupnya maka itu berarti ada yang salah dalam salatnya. Disamping itu jika orang yang tidak salat melakukan perbuatan kebaikan maka itu bisa terjadi perbuatannya punya interes, punya pamrih atau bagian dari perilaku kemunafikan. Atau mungkin juga terjadi, orang tersebut memiliki watak atau tabiat yang baik tetapi tidak memahami salat dan ajaran agama.

Kita harus berupaya tiap hari untuk memperbaiki salat kita. Yaitu bagaimana “mendirikan”salat bukan semata “mengerjakan”. Mengerjakan, asosiasinya merupakan pekerjaan mekanis, rutinitas tidak lagi memperhatikan makna,sedangkan mendirikan merupakan pekerjaan yang total dimana hati, jiwa dan pikiran ikut menghayati agar apa yang dilakukan punya arti.

Untuk mencapai salat yang paripurna diperlukan pemahaman apa yang dibaca, keimanan yang kuat dan konsentrasi fokus sewaktu beribadah kepada Allah. Keimanan yang kuat adalah kita melupakan sementara urusan dunia ketika salat, kita meyakini berhadapan dengan Allah, berdialog dengan-Nya, memuji dan mengagungkan kebesaran-Nya, serta berharap dan berdoa akan kebaikan-Nya. Dan salat juga adalah jalan menuju akhirat, kehidupan abadi.

Dengan fokus keyakinan seperti ini maka kita akan konsentrasi penuh beribadah. Hal-hal keduniawian tidak akan mendapat tempat dalam pikiran dan hati kita. Dengan demikian salat kita akan berjalan khusu kepada Allah.

Untuk mencapai kekhusukan ini para mushalli atau orang yang salat harus memahami apa yang dibacanya dalam salat. Bacaan dalam salat mulai dari takbiratul ihram hingga salam merupakan himpunan doa,takbir, memuji dan memuja kebesaran Allah, harapan, permintaan, doa dan minta petunjuk yang intinya manusia merupakan makhluk yang lemah meminta perlindungan Yang Maha Agung.

Adalah sangat tidak masuk akal dan bertentangan dengan logika jika dalam salat kita memasrahkan diri kepada Allah meminta dan berharap untuk menjadi muslim yang paripurna, namun dalam kehidupan sehari-hari kita bermaksiat, melawan keinginan-Nya, berbuat kekejian dan kemungkaran yang tidak disukai-Nya. Karena itulah dalam salat ini jangan sampai kita tidak memahami isi dan doa yang kita panjatkan sehingga perbuatan kita berlawanan dengan kehendak Allah yang kita sembah 17 rakaat setiap hari.
Memang, disini terjadi kelemahan pendidikan agama kita. Proses pendidikan salat merupakan hasil warisan dari orang tua ke anak, tanpa hasil seleksi kerja keras pendalaman yang kontinyu  sehingga tiap orang berislam sepenuh hati dan bukan hanya formalitas atau sekadar menjalankan kewajiban. Yang kita inginkan adalah orang ber-Islam atas dasar keyakinan yang total dan memahami ajaran yang dianutnya dengan  benar.

Salat yang kita inginkan adalah penuh konsentrasi kepada Allah. Mungkin pada permulaan kita sulit memusatkan perhatian hingga selesai salat, tetapi dengan sedikit demi sedikit upaya itu akan maksimal. Awalnya mungkin lima persen, sepuluh persen dan dua puluh persen , namun dengan ini kita telah memperoleh kebaikan dan mengurangi ketidakbaikan yang selama ini terjadi dalam salat kita.

Salat yang kita kerjakan sambil merenungi maknanya akan membantu konsentrasi kita. Mungkin disinilah beda  antara kita dengan bangsa Arab yang dapat memahami makna bacaan salat dan Al- Qur’an. Mereka mudah tersentuh, mengeluarkan air mata atau tergetar mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an ketika dibaca karena paham isi dan maknanya. Sedangkan kita bangsa Indonesia harus mempelajarinya lebih dahulu.

Dengan memahami bacaan salat mulai dari takbiratul ihram, bacaan wajahtu (sebelum al-Fatihah), ditambah surat-surat pendek sesungguhnya kita sedang menghayati kebesaran Allah (takbiratul ihram), bacaan wajjahtu wajhiyaliladzi ( kita memasrahkan diri kepada Allah ), kemudian surat al-Fatihah (kita memuji Allah , meyakini kasih sayangnya, meyakini hari pembalasan, minta petunjuk jalan yang lurus dan dijauhi dari kesesatan), ditambah ayat-ayat pendek yang boleh kita pilih dan dapat kita hafal dan pahami artinya.

Selanjutnya pada bacaan lain ketika ruku, sujud, duduk tahiyat kita pahami maknanya dalam bentuk pujian kepada Allah, minta petunjuk dan ampunannya,pengakuan dengan kalimat syahadat, salawat kepada Nabi dan  lainnya, semua ini memiliki makna yang dalam kalau kita pahami isinya dan kita hayati maka pastilah memudahkan konsentrasi kita serta merasakan nikmatnya shalat. Semuanya ini jelas bahwa salat akan berpengaruh besar pada diri kita membentuk manusia santun, berakhlak mulia berkat salat yang kita kerjakan penuh makna dan keagungan. Jadi, akan sangat berbeda hasilnya jika kita salat hanya pekerjaan rutinitas, menjadi adat kebiasaan dan sekadar melepaskan kewajiban tanpa memahami maknanya secara dalam.

Karena itu kita perlu menghadirkan hati dalam salat kita. Salat dengan hati adalah kita hadir bersama Allah dengan menghayati apa yang dibaca, memahaminya dan kemudian mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian salat kita membentuk perilaku yang baik dalam kehidupan apakah dalam kaitan kita berinteraksi dengan orang lain, dalam perilaku berekonomi, bermasyarakat dan dalam berperilaku budaya dan berpolitik atau bernegara. Dalam konteks inilah maka salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Kalau salat membuat perilaku umat menjadi baik berarti salatnya dikerjakan dengan benar. Sebaliknya, jika orang rajin salat tetapi tetap melakukan kejahatan maka salatnya hanya menjadi tameng yang bisa digunakan untuk menutupi keburukan akhlaknya. (*)

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda