Cakrawala

Harta Qoruna

Kalau kita amati, seperti yang bisa didengar lewat radio atau televisi berbahasa Arab, corona dalam pengucapan orang Arab cenderung menjadi kuruna; atau kalau cepat pengucapannya, kadang terdengar seperti koruna; yang bagi kita dekat dengan pengucapan Qorun.

Tentu saja mereka tidak sedang mengotak-atik gathuk, dan menghubung-hubungkan wabah ini dengan sosok Qorun seperti yang disebut oleh Al Qur’an. Tapi bagi orang non Arab, terutama di Indonesia, lebih-lebih di Jawa; pengucapan ini bisa melambungkan imajinasi untuk mencoba menghubung-hubungkan wabah virus corona dengan Qorun, atau Karun dalam pengucapan kita.

Tanpa bermaksud serius mengotak-atik gathukkan, kita akan coba ikuti lambungan imajinasi ini sebagai pintu masuk, sekadar agar kita bisa memperoleh perspektif lain dalam memahami kehadiran wabah virus corona. Toh, tafsir bisa dikembangkan dari pintu mana saja, asal bertanggung-jawab dan bertujuan mencari hikmah, tanpa harus terjebak memutlakannya.

Qorun, atau Qorah menurut Taurat, berasal dari Bani Israil. Konon nama lengkapnya adalah Qarun bin Yashhar bin Qahits bin Lawi bin Ya‘qub. Dia adalah sosok konglomerat di zaman Nabi Musa alaihi salam. Empat kali namanya disebut dalam Al Qur’an.

Ada yang mengatakan dia adalah paman Nabi Musa, ada pula yang menyebut bahwa dia adalah sepupunya. Semula Qarun adalah pengikut Nabi Musa, yang secara bertahap mendapatkan kedudukan sosial yang tinggi di kalangan orang Yahudi, karena dianggap termasuk salah satu ahli Taurat.

Suaranya terkenal indah. Kemerduan suaranya dalam membaca kitab Taurat membuat dia sering disebut ‘munawwir’. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Qorun merupakan salah satu dari 70 laki-laki yang terpilih untuk bersama-sama memohon ampun kepada Allah atas dosa kaum Nabi Musa yang telah menyembah patung lembu.

Konon sebelumnya Qarun sangat miskin; kemudian meminta Nabi Musa untuk mendoakan, agar ia diberi harta yang banyak. Doa Nabi Musa dikabulkan Allah. Qarun kemudian memiliki ribuan gudang harta yang penuh berisikan emas dan perak.

Dalam salah satu riwayat dikisahkan bahwa Qarun pernah pamer kekayaan. Dia keluar dengan pakaian yang sangat mewah didampingi 600 orang pelayan, terdiri atas 300 laki-laki dan 300 perempuan. Dijaga 4.000 pengawal dan diiringi 4.000 binatang ternak yang sehat, ditambah 60 ekor bighal (sejenis kuda kecil) yang membawa kunci-kunci gudang kekayaannya.

Kalau kita ikuti kisah Qorun, setidaknya kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sikap takabur adalah faktor utama kehancurannya. Secara sadar dia memutus hubungan dengan Allah dan mengatakan ‘sesungguhnya aku diberi harta karena ilmu yang ada padaku’ (QS 28: 78).

Sikap takabur ini muncul ketika dia diperingatkan oleh kaumnya: Janganlah terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dan carilah negeri akhirat pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, dan janganlah melupakan bagianmu dari dunia; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS 28: 76-77).

Setidaknya kita bisa mengambil empat pelajaran dari ayat ini. Pertama: jangan pernah berbangga diri, arogan, takabur, atas apa pun yang telah dicapai. Kedua, perlakukan dunia sebagai wasilah, perantara, untuk membangun akhirat; dan hanya ambil secukupnya untuk menjalani masa hidup di dunia. Ketiga, selalu berbuat baiklah pada siapa dan apa saja (bukan hanya ke sesama manusia, tapi juga ke mahluk-mahluk lain dan juga alam semesta), seperti kebaikan yang telah diberikan Allah pada kita. Keempat, jangan pernah berbuat kerusakan, baik bagi sesama manusia, mahluk-mahluk lain maupun alam semesta.

Kalau kita pakai ayat di atas, secara sederhana bisa dijelaskan bahwa sikap takabur, arogan, berbangga diri, merasa bahwa apa yang ada pada dirinya semata karena ilmu dan usahanya sendiri, dengan memutus hubungan dengan Allah; telah mendorong lahirnya sikap kufur nikmat pada Qorun. Harta bendanya tak digunakan untuk mencari akhirat, tak berbuat baik bagi sesama dan bahkan menciptakan kerusakan ke lingkungannya.

Kecuali bagi sebagian kecil, yang kuat imannya; kekayaan dan kemewahan luar biasa ini tentu saja membuat sebagian besar orang berdecak kagum dan bermimpi untuk juga memperolehnya. Mereka menganggap apa yang diperoleh Qorun adalah keberuntungan yang besar. Sehingga mereka berkata: semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar (QS 28: 79).

Nah, bukankah kita bisa meraba-raba kesamaan watak Qorun pada peradaban kita hari ini? Kapitalisme global (meski sebagian berbaju sosialis, komunis atau lainnya), telah menjadi salah satu dasar utama peradaban kita. Sekadar catatan: sebagai sebuah sistem, entah kebetulan atau tidak, kelahiran kapitalisme menurut sebagian ahli juga lahir dengan cara yang hampir sama dengan yang ditempuh oleh Qorun.

Kapitalisme global yang terbukti memutus manusia dari hubungannya dengan Allah, mendorong orang beramai-ramai mengandalkan materialisme dan melupakan akhirat; membuat mereka lupa menebar kebaikan dan bahkan terbukti menciptakan kerusakan luar biasa, bukan cuma bagi manusia, tapi juga mahluk-mahluk lain dan alam semesta.

Dan bukankah seperti dahulu orang-orang menginginkan mendapat ‘keberuntungan’ seperti Qorun; kapitalisme dengan kemewahan dan kemegahan yang dipamerkannya telah juga membuat setiap orang berdecak kagum dan berlomba untuk bisa menjadi bagiannya? Bukankah setiap kita, diam-diam atau terang-terangan, menginginkannya?

Kini wabah corona virus datang dan terbukti, setidaknya untuk sementara, ‘menenggelamkan’ hampir seluruh bangunan peradaban yang dibentuk oleh kapitalisme global. Apa yang selama ini kita puja-puji dan melenakan dari kesejatian kehadiran kita di bumi, ternyata ‘pingsan’menghadapinya. Jaringan sosial, ekonomi, politik, budaya; macet, nyaris tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Sungguh, kalau ini semua tak membuat kita belajar, rasanya kita telah menjadi  kal an’am bal hum adhol (QS 7: 179) seperti binatang bahkan lebih rendah lagi.

Afala tubshirun, afala ta’qilun, afala tatafakkarun?

Budayawan,tinggal di Pati Jawa Tengah. Pendiri Rumah Adab Indonesia Mulia

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda

Inspirasi Hari Ini

Foto

  • tabloid-panjimasyarakat
  • Ali-Yafi1-1024x768
  • KH-Ali-Yafie-804x1024
  • 23-april-19972-1024x566
  • Hamka
  • hamka