Bintang Zaman

Tragedi KH Mas Mansur (bagian I)

Foto profil KH Mas Mansur (sumber : Wikipedia)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Menjelang kemerdekaan Mas Mansur jatuh sakit, yang menunjukkan adanya gejala gangguan kejiawaan. Dibandingkan dengan Soekarno dan Hatta, mantan keua umum Muhammadiyah ini yang paling sulit menentukan sikap terhadap berbagai persoalan yang muncul pada zaman Jepang, karena posisinya sebagai tokoh agama.

Pada 14 Februari 1942 tentara Jepang mendarat di Sumatera Selatan. Dua pekan kemudian Pulau Jawa diduduki. Dan pada 8 Maret Panglima Angkatan Perang Belanda dari Pasukan Sekutu di Hindia menyerah. Hari itu juga, tengah malam, Radio Bandung mengumandangkan lagu kebangsaan Belanda “Wilhelminus” untuk terakhir kalinya. Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh, yang sampai waktu itu terlihat mengenakan seragam abad ke-18, sekarang terpampang dalam berbagai surat kabar mengenakan pakaian penjara.

Zaman kolonialisme Belanda memang sudah berakhir. Di mana-mana para serdadu Jepang tampak berbaris. Para tahanan politik segera dibebaskan, bahkan Soekarno dijemput dari pengasingannya di Bengkulu. Rakyat pada umumnya menyambut antusias kedatangan mereka, dan mengucapkan selamat datang ketika para serdadu itu datang atau melewati tempat mereka. Banzai! Banzai! Hidup! Hudup! Sementara itu, para pemimpin pergerakan nasional, termasuk  yang dulu bersikap nonkooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda, seperti Soekarno dan Mohammad Hatta, tampak menampakkan sikap mau bekerja sama dengan para penjajah yang baru itu.

Seperti sudah diterima di kalangan luas, kooperasi itu dilakukan dalam “keadaan terpaksa”, mengingat besarnya risiko jika mengambil sikap konfrontasi. Selain itu, pihak Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia atau setidak-setidaknya pemerintahan sendiri, seperti yang mereka propagandakan sebelum invasi. Yang juga tak kalah pentingnya adalah sikap Belanda sendiri yang tampak keras pada tahun-tahun menjelang berakhirnya kekuasaan mereka. Pada tahun 1938 mereka menolak Petisi Sutardjo, yang meminta kerjasama antara utusan-utusan negeri Belanda dan Hindia Belanda untuk menyusun rencana pemerintahan sendiri bagi Indonesia dalam 10 tahun. Setahun kemudian, pemerintah juga menolak usulan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) tentang “Indonesia berparlemen”. Penolakan ini ditanggapi oleh kaum pergerakan dengan  membentuk Majelis Rakyat Indonesia (MRI), sebagai badan perwakilan sejati bagi rakyat Indonesia, meskipun rencana ini belum sempat terwujud karena keburu Jepang datang.

Zaman baru memang sudah datang. Dan segala sesuatu  tampaknya akan segera berubah cepat.

Di Jawa ulama terkemuka dan termasuk yang paling awal bekerja sama dengan Jepang adalah KH Mas Mansur. Pada  Agustus 1942 sebenarnya ketua PB Muhammadiyah itu sudah dipanggil Gunseikan ke Jakarta. Menurut Harry J. Benda,  pemanggilan itu kemungkinan atas saran Soekarno. Jepang memang punya kepentingan untuk menjalin kontak dengan para pemimpin Indonesia yang berpengaruh yang mampu memobilisasi tenaga rakyat dan menghimpun harta benda mereka bagi kepentingan perang. Dan tentu saja pendekatan itu, seperti sudah disinggung, disertai dengan iming-iming kemerdekaan untuk Indonesia. Maka dia dan keluarga pun  berangkat memenuhi panggilan Gunseikan pada November 1942 ke Jakarta, setelah terlebih dulu transit selama sebulan di Surabaya, tempat kediamannya.

Semula Mas Mansur, yang waktu itu tinggal di Yogyakarta,  memang enggan, karena dia ingin mengkonsentrasikan pikirannya di Muhammadiyah  yang dipimpinnya itu. Tapi akhirnya ia menerima tawaran kerja sama itu, dan ia pun mau tak mau harus menyerahkan kepemimpinannya kepada Ki Bagus Hadikusumo. Sebuah keputusan yang di kemudian hari ternyata sangat membebani dan mengganggu pikirannya.

Manusia Pembelajar

Mas Mansur yang lahir pada 23 Juni 1896 di  Surabaya. Mula-mula ia  belajar agama kepada ayahnya. KH Mas Ahmad Marzuki. Tahun 1906, dalm usia 10 tahun, dikirim sang ayah ke Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura. Pesantren ini dipimpin oleh Kiai Haji Kholil, seorang kiai yang mansyur di seluruh Jawa dan Madura pada akhir abad ke-19 dan pada awal abad ke-20 . Kiai Kholil Bangkalan dikenal ahli  Nahwu (tata bahasa Arab) dan sastra Arab, fikih serta tasawuf.

Pada 1908, Mas Mansur pergi belajar ke Mekkah dalam usia 10 tahun. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Universitas Al-Azar di Kairo,  Mesir. Niatnya untuk pergi belajar ke Kairo itu segera dinyatakannya dalam sepucuk surat yang dilayangkan kepada ayahnya di Surabaya. Tetapi rupanya sang ayah tidak memberikan izin. Sang AYAH beranggapan bahwa Kairo bukanlah tempat yang baik untuk  belajar karena kota itu merupakan tempat pelesiran dan maksiat belaka. Tekad Mas Mansur sudah bulat. Ia ternyata tidak bisa dihalangi lagi. Kendatipun tanpa persetujuan sang ayah. Pada tahun itu ia berangkat ke Kairo dengan menggunakan Kapal laut. Padasal Kiai Haji Mas Marzuki konon  sudah mengancam kalau saja dia masih nekad untuk berangkat maka kriman uangnya akan segera dihentikan.

Selain membaca buku-buku agama dan sastra Arab, ia melahap pula buku-buku ilmu pengetahuan umum, termasuk karya-karya filsafat dan sastra Barat yang telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab saat itu. Dengan demikian Mas Mansur tidak hanya berkenalan dengan pemikiran dari para pemikir Arab dan muslim, tetapi ia pun berkenalan dengan berbagai aliran pemikiran dan paham dari Barat. Beragamnya bacaan inilah yang kelak membentuk watak serta memperluas cakrawala pemikiran dan pandangannya. Kegemarannya mambaca itu tampak dari buku-buku yang dibawanya pulang ke Surabaya, sebanyak dua lemari besar.

Perhatian dan minat Mas Mansur terhadap gerakan kebangsaan dan gerakan pembaruan pemikiran agama tidak mustahil timbul selama ia berada di Timur Tengah. Para pelajar  di Mekah atau Kairo senantiasa mengkikuti situasi di Tanah Air melalui berita-berita yang dibawa oleh jamaah haji atau para pelajar yang baru tiba di sana. Setelah itu mereka mendiskusikannya serta berusaha mencari pola dan bentuk perjuangan baik dalam rangka membangkitkan kesadaran beragama maupun berbangsa.

Sementara di Tanah Air, setelah terbentuknya   Budi Utomo pada1908, pada tahun-tahun yang hampir bersamaan (antara 1909-1912), berdiri tiga organisasi  moderen, yaitu Syarikat Dagang Islamiyah (yang kemudian menjadi SI), Indische Partij, dan Muhammadiyah. Pada  1913 di Mekah dibuka cabang SI yang diketuai K.H Asnawi Kudus dengan sekertaris K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Dari ketiga organisasi itu  Mas Mansur tampaknya lebih tertarik dengan gerakan yang bersifat sosial-keagamaan, yakni Muhammadiyah, yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Sebelumnya mungkin ia telah memperoleh kabar bahwa seorang tokoh pembaru yang bernama Ahmad Dahlan mempunyai pribadi yang menarik, dan mendirikan Muhammadiyah di samping aktif di Budi Utomo.

Sebab itulah, setibanya di Batavia pada tahun 1915, tempat yang pertama kali dituju Mas Mansur bukannya Surabaya, tetapi Yogyakarta. Ia ingin sekali berkenalan dengan Kiai Ahmad Dahlan. Dan begitu berkenalan ia langsung saja terkesan oleh pribadi sang kiai yang ternyata sahabat baik ayahnya, seperti dikatakannya sendiri: “Waktu itu saya datang kepada beliau dan memperkenalkan diri. Baru saja berkenalan, hati tertarik, baru saja keluar kata lemah lembut dari hati yang ikhlas, hati pun tunduk…ketika itu beliau terangkan bahwa beliau sangat kenal dan bersahabat dengan ayah saya. Katanya kalau beliau ke Surabaya beliau tinggal di rumah Kiai Habib, tempat pertemuan kiai-kiai. Di sanalah beliau kerapkali bercakap-cakap lama dengan ayah saya memperbincangkan soal-soal agama. Dan apabila ayah saya datang ke Jogja beliau tinggal di rumah Kiai Nur, tempat pertemuan inyik-inyik  itu pula.”

Kembali ke Surabaya, pada 1916 Mas Mansur membentuk kelompok diskusi Taswirul Afkar  bersama beberapa kiai muda, seperti K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan K.H. Ahmad Dahlan Ahyad. Kelompok diskusi ini bertujuan “….ingin memajukan umat Islam, terutama kaum pemudanya dengan memancing mereka untuk menambah pengetahuan melalui perdebatan-perdebatan…” Pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan di bidang sosial keagamaan.

Dari serangkaian diskusi ini timbullah gagasan untuk mendirikan sebuah madrasah yang bertujuan menanamkan serta membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme anak didik yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam. Oleh karena itu madrasah itu diberi nama Nahdhatul Wathan, Kebangkitan Tanah Air. Dalam susunan pengurus madrasah yang berlokasi di Kawatan Gang IV Surabaya itu Mas Mansur terpilih sebagai kepala sekolahnya. Ia dibantu oleh K.H. Mas Alwi saudara sepupunya, dan K.H. Ridwan. Sedangkan K.H. Abdul Wahab Hasbullah ditunjuk sebagai pimpinan Dewan Guru dan K.H. Abdul Kahar sebagai direkturnya.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda