Bintang Zaman

Tragedi KH Mas Mansur (bagian II)

KH Mas Mansur duduk di tengah bersama pengurus PP Muhammadiyah
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Bekas Kandang Kambing

Pada 1920 bersama Fakih Hasyim dan Haji Ali yang sepaham, Mas Mansur membentuk Ihyaus Sunnah. Kelompok diskusi agama dan pendidikan ini rupanya menarik simpati Pemimpin Sarekat Islam Tjokroaminoto. Kemudian Mas Mansur dan Tjokro  mendirikan Ta’mirul Ghofilin, sebuah forum dakwah yang dikorrdinir oleh Tjkroamonito. Melalui forum ini Tokroaminoto kerap kali mengundang K.H Ahmad Dahlan untuk memberikan pengajian di rumahnya, Peneleh Gang IV, Surabaya. Tidak sedikit tokoh pergerakan yang menghadiri forum pengajian itu.

Setahun kemudian, tepatnya  17 April 1921, Ihyaus Sunnah mengadakan  pertemuan yang dihadiri oleh K.H. Ahmad Dahlan. Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa Ihyaus Sunnah akan menjadi cabang Muhammdiyah. Dan beberapa hari kemudian, surat kabar Oetoesan Hindia terbitan 27 April 1921 melaporkan Muhammdiyah cabang Surabaya berdiri. Dalam kesempatan itu Mas Mansur menjadi ketua umumnya. Ini berarti Muhammadiyah Surabaya menjadi cabang kelima sejak Muhammdiyah berdiri pada 1921.

Pada 1922 Mas Mansur mengundurkan diri dari Madrasah Nahdhatul Wathan. Pengunduran ini karena ia berbeda pendapat dengan Wahab Hasbullah mengenai metode pengjaran dan persoalah furu’iyah (masalah-masalah ranting dalam soal agama). Ia kemudian berniat mendirikan sebuah madrasah baru. Tetapi tak mempuyai tanah untuk mendirikan bangunannya. Ia lalu melirik kandang kambing yang terletak di sebelah timur pondok ayahnya. Maka ia pun menemui sang ayahnya untuk menyampaikan niatnya itu.  Dan sang ayah merestui.

Di atas tanah bekas kandang kambing yang berbentuk tegak lurus itu dibangunlah sebuah bangunan yang terdiri dari beberapa ruang kelas, ruang kantor, dan kamar mandi. Pada Sabtu 3 Muharram 1340 H atau 26 Agustus 1922 diresmikanlah madrasah yang diberi nama Hizbul Wathan, meminjam nama organisasi kepanduan Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1918. Tapi tak lama nama itu digantinya dengan Mufidah. Madrasah ini bertujuan “membentuk manusia muslim berakhlak mulia dan percaya pada diri sendiri.”

Bagi Mas Mansur, pendidikan bukan sekadar untuk menanamkan pengetahuan kepada anak didik, tetapi juga untuk menanamkan kesadaran. Dalam konteks menghadapi kekuasaan kolonialisme, kesadaran itu mweujud dalam sikap patriotisme dan nasionalisme,   atau kesediaan untuk berkurban dalam berjuang serta cinta Tanah Air. Yang menjadi acuannya tentu saja nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama. Karena itu, bagi Mas Mansur, penting bagi anak didik untuk memiliki budi pekerti luhur dan rasa percaya diri. Bukankah akhlak yang mulia dan sikap tidak gentar dan cemas, sesungguhnya merupakan manifestasi keberimanan seseorang?

Memimpin Muhamadiyah

Pada 1937 K.H. Mas Mansur memimpin Muhammadiyah menggantikan KH Hisyam, seraya menjadi guru dan direktur Madrasah Mu’allimin Yogyakarta, sekolah guru dan kawah candradimuka bagi calon-calon pemimpin persyarikatan. Setelah melewati  proses yang berliku dan melelahkan, Mas Mansur akhirnya bersedia menjadi hoofd bestuur alias ketua umum  persyarikatan itu. Kongres Muhammadiyah ke-26 tahun 1937 di Yogyakarta memang berlangsung dramatis, karena diwarnai pertentangan antara kaum tua dan kaum muda. Angkatan muda rupanya kurang puas terhadap kebijakan Pengurus Besar yang waktu itu dikuasai tiga tokoh tua, KH Hisyam, KH Mochtar dan KH Syuja, yang lebih fokus kepada urusan-urusan sekolah, dan melupakan bidang tablig atau penyiaran Islam. Kelompok muda tambah kecewa karena  para peserta kongres lebih banyak memberikan suara kepada tiga tokoh itu. Namun, setelah bermusyawarah ketiga tokoh itu secara ikhlas mengundurkan diri.

Persoalan datang: Ki Bagus Hadikusumo menolak jadi ketua ketika diusulkan. Begitu pula dengan Kiai Hadjid. Lalu perhatian pun ditujukan kepada ketua Konsul Muhammadiyah Surabaya – Mas Mansur. Tokoh muda  yang bergabung dengan persyarikatan tahun 1921 ini tentu saja menolak. Tapi, lagi-lagi setelah melalui dialog yang panjang, Mas Mansur akhirnya bersedia menerima jabatan yang tidak pernah dibayangkannya itu.

Begitulah, menjelang akhir 1937 Mas Mansur pun memboyong keluarganya dari Surabaya  ke Yogyakarta, tempat kedudukan Pengurus Besar Muhammadiyah. Karena sebagai hoofd bestuur tak memperoleh gaji, agar  bisa menghidupi keluarganya Mas Mansur diangkat menjadi  guru dan direktur Madrasah Mu’allimin Muhammdiyah, sekaligus bertindak selaku pimpinan kompleks asrama Mu’allimin.

Menanggung Beban

Pada   7 Juli 1943, Perdana Menteri Tojo berkunjung  ke Indonesia. Dalam pidatonya di Lapangan Ikada (Lapangan Banteng, sekarang) antara lain Tojo  menekankan akan pentingnya posisi Jawa dalam Perang Asia Timur Raya. Ia juga mengulangi kembali janjinya untuk memberikan kesempatan kepada penduduk Jawa berperan dalam pemerintahan negeri sesegera mungkin. Untuk itu ia menyerukan agar seluruh kekuatan rakyat diarahkan dalam usaha pemerintahan, perekonomian, dan kebudayaan, serta mengharapkan untuk bekerja mati-matian untuk pembentukan Jawa Baru. Pada kesempatan itu  Mas Mansur antara lain mengatakan:

“Pidato P.M. Tojo itu datangnya sebagai halilintar di waktu siang hari. Segala kegelapan, ragu-ragu tentang maksud Dai Nippon  semuanya lenyap dan     menjadi terang benderang. Kepercayaan rakyat Indonesia pada cita-cita Dai     Nippon untuk menciptakan persaudaraan bagi yang dibulatkan dalam cita-cita     Hakko Iciu bertambah. Meskipun rakyat Indonesia miskin dan sengsara, tapi     kabar itu telah melegakan mereka, karena maklumlah mereka telah lebih dari tiga ratus tahun dijajah dan tidak pernah sekalioun mempunyai  pengharapan. Saya yakin, bahwa rakyat Indonesia tidaki akan segan-segan lagi untuk turut mempertaruhkan jiwanya buat membantu peperangan ini, agar kemenangan Asia     lekas tercapai.”

Ketika menyambut pendirian MIAI (Majelis Islam A’laa Indonesia), KH Mas Mansur mengeluarkan pernyataan, “Dengan tidak meninggalkan agama Islam, kita harus dapat melaraskan kehidupan dan menyesuaikan pemandangan kita dengan zaman yang baru ini.” Menurut sejarawan Bernard Dahm, kata-kata itu tidak mengungkapkan suatu antusiasme, melainkan keprihatinan yang sedalam-dalamnya dengan agama, karena sudah menjadi jelas bahwa apa sedang dilakukan oleh orang-orang Jepang itu tidak lain daripada upaya untuk memanipulasi agama untuk tujuan sendiri.    

Mas Mansur benar. Sebab maksud dan tujuan perhimpunan itu adalah “mengendalikan dan merupakan perhubungan antar perkumpulan-perkumpulan Agama Islam di Jawa dan Madura, agar supaya segenap umat Islam membantu dan menyumbangkan tenaganya untuk membentuk Lingkungan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya di bawah pimpinan Dai Nippon, yang memang sesuai dengan perintah Allah.”

Tapi, ya itu tadi, berbagai aktivitas Nippon itu mulai dirasakan Mas Mansur sudah banyak yang menyimpang dari agama. Tapi waktu itu tampaknya tak mudah bagi Mas Mansur untuk berkelit.

Kegiatan  Mas Mansur yang sangat  dekat dengan Jepang tampaknya memang sudah menyolok mata. Tak heran jika H. Abdul Karim Amrullah sempat menumpahkan perasaannya kepada Mas Mansur ketika dia mengunjungi ulama karismatis itu di rumahnya  di gang Kebon Kacang V, Jakarta. Dalam bahasa Arab Amrullah mengatakan kepada kiai itu: “Ingatlah Tuhan, hai Mansur! Ingatlah dan insaflah bahwa nasib umat Muslimin terletak di atas pudakmu!” Kata Hamka, “Kabarnya konon perkataan inilah yang sangat dalam melukai jiwa Kiai itu, sehingga dia jatuh sakit jiwa.”

Menjelang kemerdekaan Mas Mansur memang jatuh sakit, yang menunjukkan adanya gejala gangguan kejiawaan. Menurut AR Baswedan, pendiri Partai Arab Indonesia (PAI) yang juga kawan dekat Mas Mansur, dibandingkan dengan Soekarno dan Hatta, Mas Mansur-lah yang paling sulit menentukan sikap terhadap berbagai persoalan yang muncul pada zaman Jepang, karena posisinya sebagai tokoh agama. KH Mas Mansur wafat di kota kelahirannya Surabaya pada 25April 1946.

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda