Cakrawala

10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga, Vol. 4

A.Suryana Sudrajat
Written by A.Suryana Sudrajat

Ali tumbuh sebagai pemuda yang cerdas, dan kelak menjadi “gudang ilmu” bagi kaum Muslimin. Bagaimana dia membandingkan ilmu dengan harta?

Dalam hadist yang diiriwayatkan dari  Abdurrahman bin Auf, disebutkan 10 sahabat Nabi yang digembirakan atau dijamin bakal masuk surga. Mereka adalah  (1) Abu Bakar Ash-Shiddiq, (2)  Umar bin Khaththab. (3) Utsman bin Affan, (4) Ali bin Abi Thalib, (5) Zubair bin Awwam, (6)  Abu Ubaidah  Amir bin Al-Jarrah,  (7) Abdurrahman bin Auf, (8) Sa’ad bin Abi Waqash, (9) Thalhah bin Ubidillah, (10) Sa’id bin Zaid.    Sebagaimana halnya pada figur dan perjuangan Rasulullah s.a.w., kita juga bisa mengambil suri tauladan dari para sahabat yang tergolong generasi pendahulu atau as-sabiquunal awaaluun itu. Tiga tulisan terdahulu memuat masing-masing Abu Bakar Ash-Shiddiq,  Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan,  tulisan berikut ini tentang Ali bin Abi Thalib,  sepupu yang juga menantu Nabi.

Syahdan, ketika terjadi musim paceklik melanda Mekah, kehidupan keluarga Abu Thalib tampak sangat mengkhawatirkan. Maka, Muhammad yang waktu itu sudah beranjak dewasa memohon kepada sang paman agar salah satu putranya ikut menjadi tanggungannya. Abu Thalib mengizinkan, dan dia memilih Ali. Dan sejak itu Ali berada dalam asuhan dan didikan Muhammad, sehingga dia memiliki kepribadian atau karakter dan sifat-sifat yang terpuji sebagaimana yang dimiliki oleh sang pendidik, ya Muhammad. Selain itu,   Ali juga tumbuh sebagai pemuda yang cerdas, dan kelak menjadi “gudang ilmu” bagi kaum Muslimin. Kata-kata hikmah yang berasal dari Sayidina Ali bin Abi Thalib banyak yang telah mengisi memori sebagian kaum Muslimin sampai sekarang. Di antaranya tentang perbandingan ilmu dengan harta: ilmu akan menjaga kita, sedangkan harta sebaliknya, kitalah yang harus menjaganya; semakin banyak ilmu semakin banyak orang yang menyayangi dan menghormatinya, sedangkan semakin bayak harta semakin banyak musuh dan orang yang iri kepadanya; pemilik ilmu akan dijunjung tinggi dengan kualitas manusianya, sedangkan pemilik harta akan dijunjung tinggi dengan kualitas hartanya; ilmu itu akan menyinari pemiliknya, sehingga hatinya menjadi lembut, sedangkan harta akan membuat gelap mata pemiliknya, hati menjadi keras dan hidup tidak tenteram.

Pujian bahwa Ali seorang inetelek, berpengetahuan luas dilontarkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab yang menjadikannya sebagai penasihat. Kata Umar, “Ali adalah ahli hukum peradilan. Seandainya tidak ada Ali, tentulah Umar akan hancur.” Sementara itu, Aisyah mengatakan, ‘sungguh Ali adalah orang yang sangat luas pengetahuannya tentang Sunnah.” Selama menjalankan fungsinya sebagai penasihat para khalifah Rasulullah, mulai dari Abu Bakar sampai Utsman bin Affan, Ali dapat memecahkan segala berbagai macam kesulitan.

Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah ke-4 setelah Utsman bin Affan mati terbunuh oleh sekelompok makar yang mengepung dan kemudian memasuki rumahnya. Akan tetapi, pembaiatan Ali sebagai khalifah tidak mencapai dukungan penuh. Mu’awiyah, gubernur Syam (kawasan yang meliput Suriah, Yordania, Lebanon, Palestina dan tentu saja Israel sekarang) menolak terang-terangan dan menyatakan akan menuntut kematian Utsman. Situasi semakin sulit setelah Aisyah, bersama Zubair dan Thalhah r.a., mendesaknya agar mengusut dan mengambil tindakan hukum kepada para pembunuh Utsman. Ali, sebaliknya, menolak membuat komite penyelidikan yang mereka usulkan.

Ketika Ali baru dibaiat, Mughirah bin Syu’bah r.a.menasihatinya supaya mencopot Mu’awiyah, Zubair, dan Thalhah r.a., dari kedudukan mereka, sehingga diharapkan rakyat akan membaiatnya secara bulat. Tapi Ali menolak. Tidak fair, katanya. Esoknya, Mughirah datang lagi untuk menarik sarannya yang, setelah dipikirkan, memang tidak baik. Ali menimpali, “Tidak, Bung. Saya tahu nasihat Anda baik. Hanya kebenaran mencegah saya mengikuti nasihat yang baik itu.”

Kepada Thalhah dan Zubair Ali berkata, “Saya sendiri tidak kurang inginya melakukan hal  yang sama. Tapi saya tidak bisa. Sekarang keadaannya sangat kritis. Gangguan keamanan di pusat pemerintahan dapat mendorong orang Badui dan orang asing berontak. Kalau ini terjadi, sekali lagi tanah Arab akan kembali ke zaman jahiliah. Padahal mereka di luar kontrol kita. Tunggu dan lihatlah, sampai Allah menunjukkan kepada saya jalan keluar dari kesulitan ini.”

Tapi situasi politik tidak membiarkannya menunggu. Sikap wait and see-nya malah menimbulkan spekulasi “Khalifah merestui kaum perusuh”. Kelompok Tiga tadi juga tidak sabar. Mereka membentuk pasukan, dipusatkan di Basrah. Ali, yang baru memerintah lima bulan, akhirnya meninggalkan Ibu Kota Madinah, menuju Kufah yang rakyatnya lebih bulat mendukungnya. Dia sendiri yang menjadi panglima pada clash (wiq’ah) yang disebut Perang Unta itu, yang mendapat namanya dari pilihan Aisyah untuk memimpin bala tentara dari punggung unta. Perlawanan dapat ditumpas dengan mudah. Thalhah dan Zubair tewas. Aisyah diringkus dan Ali memulangkan mantan mertua tirinya itu ke Madinah. Inilah kali terakhir janda Rasulullah yang tangkas dan brilian itu terlibat kegiatan politik, untuk kemudian tinggal di rumah,menjadi tempat bertanya kaum muslimin mengenai segala ihwal.

Ali kini tinggal menghadapi Mu’awiyah, jenderal dan negarawan jenius, yang di back-up oleh Amr ibn Al-Ash yang tak kalah licinnya. Setelah bertempur kurang-lebih tiga bulan, pasukan Ali berhasil meduduki tempat-tempat strategis dan Mu’awyiah tinggal menghitung menit-menit terakhir. Tapi lihatlah: Mu’awiyah dan Amr memerintahkan pasukan melekatkan lembar-lembar Al-Qur’an di ujung tombak mereka. Terjadi gencatan senjata. Berikutnya Ali — yang sebenarnya d atas angin — toh bersedia menerima arbitrase. Untuk ke Mu’awiyah mengutus Amr, sedangkan Ali menunjuk Abu Musa Al-Asy’ari, seorang tua yang saleh.

Arbitrase berkibat fatal di pihak Ali. Menurut Abu Musa, masalah khalifah sebaiknya diserahkan kepada kaum muslimin: biarlah mereka sendiri yang memilih. Amr setuju. Lalu mengusulkan agar kedua pihak lebih dulu menyatakan pencopotan Ali dan Mu’awiyah. Tentu saja tidak ada masalah bagi Abu Musa  yang berpikiran lurus itu. Ia tampil, menyatakan memakzulkan Ali, dan menyilakan umat memilih.

Giliran Amr naik, ia menandaskan bahwa Abu Musa sendirilah yang secara resmi telah mencopot Ali. Lalu, dalam keadaan tidak ada khalifah yang lain, ia menyatakan pihaknya mendukung Mu’awiyah. Ulama sepuh ini  langsung cabut, berangkat ke Madinah, ziarah ke makam Nabi.

Manuver itu bukan main pengaruhnya bagi moral pihak Ali. Paling tidak, Ali harus menghadapi kelompok pengikutnya yang kecewa berat. Toh ia tetap memprioritaskan Mu’awiyah. Kelompok pengikut itu kemudian keluar (dan karenanya disebut Khawarij), sambil menyatakan bahwa Mu’awiyah maupun Ali sudah kafir. Mereka bisa ditumpas.       

Tetapi hanya di permukaan. Pada suatu subuh, ketika Ali keluar ke masjidnya di Kufah, beberapa Khawarij menghadangnya dan menghujamkan khanjar (pisau melengkung) ke tubuh khalifah yang saleh ini. Mereka juga menghadang Mu’awiyah dan Amr ibn Ash. Tapi kedua-duanya tidak keluar. Ali wafat pada usia Nabi: 63 tahun, tanggal 17 Ramadan, yang juga tanggal wafatnya Aisyah di belakang hari. Pemerintahannya berlangsung empat tahun sembilan bulan.

Sumber:  Muhammad Ali Al-Quthub, Sepuluh Sahabat Dijamin Ahli Syurga; Taha Hussein, Malapetaka Terbesar dalam Sejarah Islam.

About the author

A.Suryana Sudrajat

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda