Mutiara

Jampi-jampi Kiai Nurhakim dari Banyumas

Kiai Nurhakim memandang agama sebagai sekumpulan resep, dengan spesialisasi kesaktian.Mengapa Belanda tidak takut? (foto Hugo Matilla/Unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Contoh kiai yang memandang agama sebagai  sekumpulan resep, dengan spesialisasi kesaktian.Mengapa  Belanda tidak takut?

Lunga tuwan salaku datang tuwan Allah

Dudu gagawen ingsun

Gagawean tutungguna panday

Guna saguna guna yang wisesa

Banyu munah banyu kapunah

Allah nu munah

(Pergilah peluru datanglah Allah

Bukan hasil perbuatanku

Hasil perbuatan pandai yang jempolan

Apa pun yang diperbuat Tuhan tahu

Air sebagai pemunah air dapat dibuat punah

Allah-lah yang membuat punah)

Itu jampe atawa mantra untuk menolak tembakan senapan (mareng bedilan), seperti termuat dalam “Hirz Al-Yamani’. Salah satu isi primbon karangan Kiai Nurhakim dari Purwokerto. Harganya tiga gulden. Selain itu, kiai jampe alias ahli hikmat ini juga menjual beberapa jimat antara lain besi kuning (9 x 4,5 cm, tebal 2 mm). Ini katanya bisa dipakai tujuh hari menjelang kiamat, sebagai lampu, karena gelap gulita kala itu, selain memberi khasiat kebal. Harganya 100 gulden—-seperlima ONH, atau empat kali gaji guru yang mahir waktu itu.

Lahir sekitar 1818, Nurhakim, setelah mengaji Quran di desanya, pergi ke Lengkong, Cirebon, berguru ke Kiai Hasan Maulani, yang pada 1842 diasingkan ke Manado, lantaran terlalu banyak murid, dan dituduh oleh penghulu terlibat kepercayaan cap setan. Entah berapa lama Nurhakim mukim di situ. Anak demang (lurah) ini kemudian mesantren ke Bogor dan Banten dan masuk tarekat Rifa’iah. Kembali ke Jawa Tengah, ia menetap di Pasirwetan, Purwokerto (Banyumas), kawin, dan mengajar agama.

Nurhakim mulai menarik perhatian penguasa ketika pada 1862 menyelenggarakan pesta sunatan anaknya. Tamunya berjubel—dari berbagai daerah. Ia tampak sangat dihormati. Karena itu Bupati Purwokerto merasa perlu lapor ke Residen. Buntutnya, dengan alasan “keamanan”, Nurhakim harus pindah ke Kauman, Purwokerto, supaya bisa diawasi. Empat tahun kemudian dia dipanggil ke Kebumen, atas tuduhan menipu beberapa murid. Pengadilan memvonisnya dengan kerja paksa empat tahun, yang dijalaninya di Banyuwangi.

Di Jawa Timur itu ia tidak juga kapok: ia tetap saja mengajar. Dan belum lagi empat tahun ia sudah kembali ke Pasirwetan. Pada 1871, sebuah majalah zending memberitakan bahwa Nurhakim dan beberapa muridnya diasingkan lagi karena “akan mendirikan kesultanan”. Tetapi upaya itu digagalkan oleh pribumi Kristen, katanya. Toh mereka urung diasingkan, dan lebih penting, boleh meneruskan kegiatan.

Tak heran bila muridnya terus bertambah. Selain itu, ia juga dikenal piawai mengelola keuangan. Misalnya, ia pernah membeli sawah dari uang pinjaman. Pinjaman itu dapat ia kembalikan, lalu membeli beberapa bidang sawah lagi, dari sumbangan murid-muridnya plus hasil sawahnya sendiri. Akhirnya dia termasuk orang paling kaya di Jawa. Sebagai catatan, ekspertis serupa  dimiliki Kiai Sanja (almarhum) dari Pandeglang, pengasuh Pesantren Raudhatul Alfiah, pesantren khusus kitab Alfiah. Kabarnya, kiai ini punya sawah teramat luas yang dikelola oleh para santri untuk hidup mereka.

Tapi pesantren Nurhakim tidak hanya mengajarkan Islam yang standar. Sebab, untuk menjadi murid, si calon harus menempuh beberapa syarat. Pertama, tirakat ngadem selama tujuh hari. Mereka hanya menyantap makanan yang dimasak tanpa garam. Lalu mutih, cuma makan yang putih-putih, juga seminggu. Nah, selama setengah bulan itu mereka kudu mandi saban hari sampai tenggelam, seraya membaca Qulhu (Surat al-Ikhlas) tiga kali. Setelah itu menyerahkan uang sekurang-kurangnya satu gulden lewat wakil Kiai.

Kedua, mereka mendapat ajaran pasrah. Teks doanya berharga setengah gulden. Pada kesempatan ini calon mempersembahkan semua setidak-tidaknya kepada sang syekh, untuk kemudian disampaikan kepada Allah Ta’ala. Bunyinya, antara lain, “ Ya Syekh, saya sampaikan kepadamu semua raka’ah saya, yang buruk dan yang baik, dari badan dan dari rahasia hati saya….. Ya, Syekh, saya sampaikan kepadamu semua dosa saya, yang saya lakukan sejak balig sampai sekarang.” Nafas harus diam. Calon harus membayangkan syekhnya. Kemudian, mereka diajari zikir nafi-isbat, laa ilaha illallah.

Langkah berikutnya, murid harus mutih kembali selama 14 hari. Lalu bersama pembimbing pergi ke wakil Nurhakim yang paling tinggi di Purwokerto. Namanya Muhammad Ishak, yang mem-brief mereka untuk upacara penerimaan terakhir. Yang ini dilakukan di kuburan mertua Nurhakim, siang hari, dan di sebuah delta jika malam hari. Mereka bersila menghadap kiblat, sambil menggenggam setengah gulden. Uang  yang di tangan kanan diserahkan kepada Nurhakim, yang di kiri akan dikembalikan lagi kepada calon murid dalam bentuk cincin—tanda pengenal sebagai murid situ. Kiai lalu menerima baiat mereka. Dia sendirilah yang mengajarkan “Hirz al-Yamani”, yang pengalamannya kita kutip tadi.

Pada 1888 meletus pemberontakan petani Banten yang diotaki oleh sejumlah haji pengikut tarekat. Tak urung, tarekat Nurhakim pun kena selidik. Dan petugas berhasil menyita 34 eksemplar primbon mereka. Toh Nurhakim maupun ajarannya (namanya Tarekat Akmaliah) tidak diapakan. Hanya diawasi. Soalnya sederhana: di antara 490 murid yang dikenal namanya, hanya terdapat seorang haji.

Sumber: Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesai Abad ke-19 (1984)

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda