Relung

Agama di Tengah Ketegangan, Kegersangan dan Kesuraman Hidup

agama seharusnya memberikan harapan kebaikan bagi umat manusia (foto : marc olivier jodoin/unsplash)
Ditulis oleh A.Suryana Sudrajat

Basmalah yang setiap saat kita baca itu, yang di dalamnya menonjolkan sifat rahmaniah dan rahimiah, seharusnya ditangkap sebagai isyarat agar aktualisasi hubungan manusia dengan sesamya dan alam lingkungannya dilandasi dan diwarnai semangat cinta.

Semakin terasa, dari hari ke hari kehidupan kita diliputi oleh ketiga hal ini. Pertama, ketegangan hidup yang ditandai konflik dan permusuhan. Kedua, kegersangan hidup yang diakibatkan sikap materialistik dan hedonistik. Ketiga,  kesuraman hidup yang dibayang-bayangi polusi, perubahan iklim, dan kelangkaan sumber-sumber alam.

Berbagai upaya telah dilakukan umat manusia untuk menghadapi berbagai ancaman yang mengerikan itu. Mulai dari upaya menggugah kesadaran sampai aksi-aksi konkret di lapangan. Jalan apakah yang harus ditempuh kaum Muslim dalam menghadapi situasi dunia seperti itu. Mengapa tidak cukup hanya menjadi saleh?  

Mula-mula Islam berisikan sistem kepercayaan  seperti tentang eksistensi Tuhan dan kehidupan setelah mati, pahala dan dosa atas segala perbuatan di dunia, yang pengejawantahannya dalam bentuk ibadah seperti sembahyang, puasa dan naik haji. Semua ini berkenaan dengan aspek hubungan manusia dengan Tuhan alias hablum minallah. Yang kedua adalah sistem moralitas dan etika yang menyangkut aspek hubungan antarmanusia, yang manifestasinya mewujud terutama dalam institusi-institusi kemasyarakatan dan hukum seperti perkawinan, warisan, muamalat dan jinayat.

Hubungan vertikal manusia dengan Tuhanlah yang memberi dimensi spiritualitas pada kehidupan manusia. Bentuk-bentuk peribadatan hanyalah aspek fisikal dari hubungan tersebut, dan justru hubungan vertikal itulah yang memberi dimensi spiritualitas pada prinsip-prinsip moral dan realisasinya dalam sistem kemasyarakatan dan hukum.

Kontak batin dengan Tuhan yang dihayati dalam pengalaman itu merupakan ruh yang menjadikan agama bukan sekadar seperengkat kepercayaan dan seremoni ritual. Jika aspek kedalaman atau spiritualitas  (bahkan zakat yang sarat dengan ajaran moralitas sosial bisa jatuh pada ritualisme) itu absen, maka agama ibarat badan tanpa nyawa karena sudah kehilangan ruhnya. Karena itulah hubungan langsung antara manusia dan Tuhan sering pula disebut nafas dan nyawa agama. Sebab dalam pengalaman keagamaan atau religius itulah Tuhan bukan sekadar ide – tapi hadir.

Prinsip asasi sufisme adalah bahwa tidak ada wujud mutlak kecuali Allah, dan jiwa manusia adalah limpahan dari wujud-Nya. Dia sendirilah secara subtansial yang Maha Baik, Maha Benar, Maha Indah, Maha Sempurna, dan kecintaan kepada Dia sajalah yang merupakan cinta suci dan murni, sementara cinta kepada selain-Nya fana dan maya. Cinta,  mahabbah, kepada Ilahi merupakan esensi dari sufisme atau tasawuf. Cinta kepada Ilahi ini  dimanifestasikan dalam cinta terhadap ciptaan-Nya, ya manusia dan jagat raya ini. Bukankah kehidupan dan alam semesta ini merupakan anugerah yang Dia berikan karena  dan dalam cinta? Karena itu hidup kita harus diisi dengan cinta kepada Ilahi yang merupakan sumber hidup dan kehidupan, cinta kepada segala yang hidup dan cinta kepada alam yang merupakan wahana aktualisasi hidup dan sarana kehidupan. Oleh karena itu sufisme harus diaktualisasikan dalam sikap positif terhadap hidup dan terhadap dunia itu sendiri. Dengan demikian, kesalehan individual tidak boleh lepas dan terpisah dari kesalehan sosial dan kesalehan environmental. Jika kita memahami dan menghayati sufisme seperti ini, maka akan lahir élan dan vitalisme sehingga kesalehan menjelma mejadi kemuslihan (pembawa maslahat).

Betapapun, cinta harus dibuktikan dengan pengorbanan terhadap yang dicintai. Jika sudah demikian, maka pengorbanan tidak akan dirasakan sebagai beban, tapi justru akan memberi kepuasaan batin. Jika kehidupan bersumber dari Yang Maha Hidup, sudah seharusnyalah upaya meningkatkan kualitas kehidupan sesama makhluk hidup menjadi bukti kecintaan kepada-Nya. Jika alam semesta merupakan anuegerah Sang Maha Wujud, maka usaha mememelihara dan melestarikannya adalah bukti kecintaan kepada-Nya. Jika hidup dan alam yang berasal dari Sang Maha Pemberi dianugerahkan untuk semuanya, maka usaha menghilangkan pikran dan sikap sempit, sekat-sekat yang memisahkan manusia dengan manusia lainnya, adalah bukti kecintaan kepada-Nya. Alhasil, seluruh upaya untuk mengembangkan kehidupan di dunia ini mempunyai dimensi spiritualitas sebagai perwujudan Cinta kepada Ilahi, yang mengintegrasikan seluruh kegiatan hidup manusia tanpa terfragmentasi antara apa yang disebut sakral dan profan.  

Semangat cinta itu harus terus dikorbankan dalam kehidupan umat manusia, terlebih sekarang ketika dunia berada di kubang konflik dan kepentingan, ketika kelestarian alam dicemari oleh kerakusan manusia yang mengeksploitasi demi kepentingannya sendiri. Basmalah yang setiap saat kita baca itu, yang di dalamnya menonjolkan sifat rahmaniah dan rahimiah (pengasih dan penyayang), seharusnya ditangkap sebagai isyarat agar aktualisasi hubungan manusia dengan sesamanya dan alam lingkungannya dilandasi dan diwarnai semangat cinta.

Kita berharap, ketegangan hidup yang ditandai konflik dan permusuhan, kegersangan hidup yang diakibatkan sikap materialistik dan hedonistik, dan kesuraman hidup yang dibayang-bayangi polusi, perubahan iklim, dan kelangkaan sumber-sumber alam, akan sedikit dikurangi dengan menempuh jalan spiritual,  sehingga pesimisme akan berubah optimisme, kekhawatiran menjelma menjadi harapan, dan kebencian digantikan  oleh cinta.            

Tentang Penulis

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Ihsan, Sindangkarya Anyar Serang Banten

Tinggalkan Komentar Anda