DARI sepenggal kisah ini, insya Allah kita bisa mengambil iktibar, menarik pelajaran yang berharga.
Pertama, terlepas dari kekurangan dan kelemahannya sebagai manusia, Pak Harto adalah orang besar yang pernah memimpin Indonesia, hingga tumbuh menjadi negara kepulauan yang disegani oleh para pemimpin dunia, khususnya Asia Tenggara. Pada dasawarsa pertama kepemimpinannya, beliau didampingi orang-orang muda yang bagaikan burung-burung rajawalinya Aristoteles, yang pada umumnya dikenalnya secara pribadi dengan baik. Pada dasawarsa II (kedua), Tim Rajawali itu makin berpengalaman serta masih memiliki stamina yang memadai.
Tim Rajawali tersebut sangat mewarnai kabinet yang dibentuk Presiden Soeharto, yang meski dinamai Kabinet Pembangunan, juga dikenal sebagai Kabinet Kerja, kabinet yang diisi oleh orang-orang yang mempunyai semangat kerja luar biasa. Orang-orang yang mempunyai passion, memiliki gairah besar dan sukacita untuk melakukan sesuatu tugas yang disukai dan dianggap penting. Gairah besar itu mengalahkan urusan-urusan pribadinya, termasuk tak peduli harus berkorban waktu, keluarga, dan harta benda. Tokoh-tokoh yang sangat menonjol passion-nya di awal Orde Baru adalah Ali Moertopo, Sutami, Widjojo Nitisastro, Thoyib Hadiwidjaya, Radius Prawiro; sedangkan menjelang akhir Orde Baru ada Mar’ie Muhammad.
Periode awal Tim Rajawali diwarnai sejumlah nama yang jika disebut berurutan terdengar unik yaitu Ali Moertopo, Ali Sadikin, Ali Wardhana, Amir Machmud, dan Amir Murtono. Dari segi usia, angka usia di dalam kurung, tokoh-tokoh yang memegang peranan penting di sekeliling Pak Harto (45) pada awal Orde Baru tahun 1966/1967, tidak jauh berbeda, sepantaran menurut istilah Jawa, seumuran, satu generasi. Angkatan awal Orde Baru ini berbeda dengan angkatan menjelang akhir Orde Baru, yang para anggota kabinetnya seumuran dengan putra Pak Harto. Angkatan awal tersebut, antara lain Jenderal Abdul Haris Nasution (48) dan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo (41), lalu Trio Jawa Tengah yaitu Soeharto sendiri (45)–Yoga Sugomo (41)– Ali Moertopo (42), ditambah Soedjono Hoemardhani (49), Trio Roterdam atau juga dikenal sebagai Trio Yogya yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX (54)–Radius Prawiro (38)–Frans Seda (40), ditambah Adam Malik (49), Maraden Panggabean (43), Soemitro (39), Umar Wirahadikusumah (42), Amir Machmud (43), M. Yusuf (38), Basuki Rahmat (45), Widjojo Nitisastro (39), Ali Wardhana (38), Subroto (38), Emil Salim (36), Sudharmono (39), Prof. Sumitro Djojohadikusumo (50), dan Ir. Sutami (39).
Kedua, Pak Harto orang yang hebat dan kuat sehingga mampu menguasai kursi kepresidenan selama 32 tahun. Namun, sehebat dan sekuat-kuat orang, suatu saat akan lemah juga, stamina pasti akan turun dan kejenuhan menghampiri. Sekuat-kuat penguasa, pasti memiliki kelemahan. Sepandai pandai tupai melompat, suatu saat jatuh juga. Hal yang sangat sederhana ini dalam kenyataannya sering dilupakan para penguasa dunia, termasuk Pak Harto. Dua kelemahan yang muncul ialah ia mulai kehilangan banyak sahabat, teman suka dan duka, teman seperjuangan yang kritis. Berikutnya, sumber dan jaringan informasi serta rekrutmen Pak Harto yang secara alamiah semakin menyempit disebabkan kesenjangan generasi. Akibat kedua hal itu, sistem rekrutmennya merosot.
Ketiga, setiap masa, setiap generasi memiliki pemimpinnya sendiri. Setiap masa dan setiap generasi memiliki ukuran nilai sendiri-sendiri. Oleh karena itu janganlah pernah merasa kita bisa menjadi pemimpin pada semua masa, pada semua generasi. Janganlah pernah merasa tidak akan ada orang yang bisa menggantikan kita, sebab takkan ada pesta yang tak berakhir. Naik takhta dan turun takhta, panas dan dingin, gelap dan terang adalah kodrat kehidupan yang bagaikan dua sisi dari satu keping uang logam. Sebagaimana filosofi Jawa yang sering dikutip Pak Harto dalam berbagai dialog, “Aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa lan ngrumangsani (jangan merasa bisa, tapi hendaknya bisa merasakan dan tahu diri)”. Karena itu sebagaimana pula nasihat orang-orang bijak, kuasailah cara turun sebelum kita mendaki ke puncak.
Jangan merasa bisa menjadi penguasa yang abadi. Jangan menunggu setelah di puncak karena memegang kekuasaan itu ibarat menunggang harimau, yang jika tidak hati-hati dan tidak berkah akan menerkam kita. Sementara itu siapkanlah kader-kader pengganti yang lebih baik dari kita, sebab seorang pemimpin yang sungguh-sungguh berhasil, dinilai pula dari keberhasilannya mendidik penerusnya. Di sinilah terletak kelemahan Pak Harto.

Pada tahun 1990-an, penulis mendengar sendiri, ketika sedang mendampingi Mar’ie Muhammad (Menteri Keuangan periode 1993–1998), dalam suatu penerbangan pulang ke Jakarta, Mar’ie berjumpa dan kemudian duduk bersebelahan dengan seorang menteri yang lebih muda. Di penerbangan itulah Pak Menteri tersebut menyampaikan kalau dia ingin membuat sebuah kegiatan, dan untuk itu minta anggaran, seperti seorang pengurus organisasi sosial yang setiap saat bisa membuat kegiatan dengan minta anggaran ke bendahara. Dengan sabar Mari’e menerangkan, ia tak bisa begitu saja memenuhi karena sudah ada aturan mainnya melalui mekanisme APBN (Anggaran Pendapat dan Belanja Negara), kecuali untuk hal yang sangat mendesak. Itu pun harus dibicarakan dalam kabinet, minimal setidaknya disetujui atau ada perintah dari presiden.
Dialog di atas adalah sebuah contoh kecil tentang rajawali pembantu Pak Harto dalam dasawarsa ketiga kepresidenannya. Butir keempat sebagaimana dikhawatirkan Kepala BAKIN Yoga Sugomo, tentang pola dan sumber rekrutmen Pak Harto yang melemah serta mengecil terbukti. Jika semula kecuali mampu sendiri menggalang jaringan, mengenal langsung anggota jaringan, dan memperoleh suplai sumber rekrutmen beserta informasinya dari sahabat dekat sekaligus orang kepercayaan generasi pertama, dalam dasawarsa ketiga, banyak sahabat dan generasi pertama yang sudah mendahului wafat, sakit, menua, ataupun terpaksa berjarak. Mereka digantikan oleh para kroni–keluarga dan sahabat keluarga, yang bersamaan dengan itu membangun kerajaan-kerajaan bisnis yang menimbulkan kecemburuan. Bahkan dalam hal itu pun orang kepercayaan generasi kedua, mulai kecewa. Di pertengahan 1990-an, banyak di antara mereka yang meski tetap menaruh hormat dan sayang terhadap Pak Harto, tetapi tidak kepada para kroninya. Dari antara mereka pulalah, yang sesungguhnya ikut bermain di balik layar, dalam gerakan-gerakan masa sekitar 1997–1998. (Bersambung: Ke Istana Sendiri-Sendiri).
