Indonesia kehilangan tokoh besar yang piawai di bidang bisnis, manajemen, pendidikan dan keahlian lainnya. Mantan Menteri BUMN Dr. H. Tanri Abeng, MBA bin Palehe meninggal dunia, Ahad dinihari (23/6/2024) di RS Jakarta.
Sebelumnya, dikabarkan ketika sakit ia berobat ke RS Mount Elizabeth di Singapura. Setelah merasa kondisinya membaik ia minta pulang ke Jakarta pada 4 Juni 2024. Namun, ketika sampai di Jakarta, kondisi kesehatannya memburuk sehingga langsung dimasukkan ke Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. Di rumah sakit ini ia dirawat sampai ajal menjemputnya.
Jenazahnya dimakamkan har itu juga bakda salat zuhur, berdampingan dengan makam istrinya, Farida Nasution, yang meninggal pada 2016 lalu. Ada tawaran agar Tanri Abeng dimakamkan di Taman Pahlawan, namun keluarga memilih dikuburkan di makam keluarga di Tanri Abeng University di Ulujami, Jakarta Selatan.
“Pak Tanri ditawarkan ditempatkan di Taman Makam Pahlawan, tapi dia merasa bahwa pahlawan itu bisa dimana saja. Kebetulan kita punya makam keluarga di Tanri Abeng University, yang istri beliau yang juga ibu saya dimakamkan di situ,” jelas Emil Abeng, anak Tanri Abeng.
Tanri Abeng meninggal dalam usia 82 tahun. Ia dilahirkan di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, 7 Maret 1942. Menikah dengan Farida Nasution tahun 1968 dan dikarunia dua putra, yaitu Edwin Abeng dan Emil Abeng. Dari dua orang anak ini Tanri Abeng memiliki empat cucu.
Yatim yang Haus Ilmu dan Berprestasi
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Tanri Abeng masa kecilnya seorang yatim. Namun, dengan kondisinya tersebut ia menjalani hidup dengan meraih prestasi. Dalam usia 10 tahun ia sudah ditinggal kedua orang tuanya karena wafat. Ia pindah ke Makassar dan tinggal dengan kerabatnya dan sekolah di kota daeng ini.
Di Makassar Tanri Abeng menamatkan SMA. Ia kemudian beruntung terpilih dalam program American Field Service (AFC) Exchange Program dan berangkat ke Amirika Serikat. Waktu itu ia aktif di organisado Pelajar Islam Indonesia atau PII. Sekembalinya dari negara Paman Sam ia melanjutkan studi di Universitas Hasanuddin di Fakultas Ekonomi sampai tingkat 5. Ia kemudian dapat beasiswa pada Graduate School of Business Administration , University of New York Buffalo, dan meraih gelar MBA.
Di tengah kesibukannya sebagai komisaris dan jabatan profesional lainnya setelah bekerja, ia masih sempat menyelesaikan pendidkan Doktor dalam Ilmu Multidisiplin dari UGM tahun 2010.
Tanri Abeng memasuki kancah dunia profesional setelah mengikuti program Management Training Union Carbide Amerika Serikat. Ia kemudian ditempatkan di Jakarta sebagai Manajer Keuangan perusahaan tersebut (1969-1979). Kariernya terus moncer hingga menjadi Direktur PT Union Carbide Indonesia, sebuah perusahaan kimia berskala global. Selain itu, ia juga menjadi Direktur Agrocarb Indonesia, Direktur Karmi Arafuru Fisheries (1971-1976), dan pada tahun l977-l979, ia merangkap manajer pemasaran Union Carbide Singapura.
Tahun l979, Tanri pindah ke anak perusahaaan produsen bir Belanda, Heineken, PT Perusahaan Bir Indonesia (Indonesian Beer Company). Ia merubah nama PT Perusahaan Bir Indonesia menjadi Multi Bintang Indonesia. Pada tahun 1982 ia mencatat laba sebesar Rp4 miliar, naik hampir Rp500 juta dibanding sebelumnya.
Pada tahun l991 Tanri Abeng mundur sebagai CEO Multi Bintang dan pindah ke Bakrie & Brothers, perusahaan milik Aburizal Bakrie. Tanri menjadi CEO Bakri& Brothers, tetapi ia juga merangkap sebagai ketua non-eksekutif Multi Bintang Indonesia, posisi ini tetap dipertahankan hingga Maret l998.
Ketika ia memulai di Bakrie, perusahaan ini memiliki lebih dari 60 anak perusahaan yang beroperasi di beragam industri. Salah satu langkah pertama Tanri Abeng untuk merestrukturisasi perusahaan adalah dengan memfokuskan pada tiga industri utama, telekomunikasi, dukungan infrastruktur dan perkebunan serta investasi dan aliansi strategis di bidang pertambangan, petrokimia dan konstruksi.
Dengan beberapa reformasi, kinerja Bakrie & Brothers membaik, ketika Tanri Abeng bergabung dengan perusahaan penjualan tahunan sekitar US 50 juta. Pada akhir tahunan l996 penjualan ditutup menjadi menjadi US$ 700 juta. Saat itu ia sempat dijuluki sebagai “Manajer Rp1 miliar” lantaran ia mendapat bayaran sebesar itu saat memimpin perusahaan milik Aburizal Bakrie tersebut.
Selain sebagai Presiden Direktur di Bakrie & Brothers, ia juga merangkap jabatan sebagai Direktur di Asia Pacific Brewery, Singapura (1981-1991), Presdir Bata Indonesia (l993-1998), Ketua BAT Indonesia (l995-l998) dan Mitratel Indonesia (1994-1998). Tahun 2004 Tanri menjadi Komisaris Utama PT Telkom Indonesia, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) 2015-2019), Komisaris Utama PT Bio Farma,dan Komisaris Bursa Efek Jakarta antara l992 dan l995.
Pada awal tahun 2012, ia menjabat sebagai CEO OSO Group, menggantikan Oesman Sapta Odang, pendiri OSO Group, bergerak di bidang pertambangan, perkebunan, transportasi, properti dan hotel.
Tanpa Politik Masuk Kabinet
Sebenarnya Tanri Abeng tidak bisa disebut sebagai politisi, meski pernah duduk di MPR mewakili Golkar tahun l991. Pada masa Presiden Soeharto tahun l998 ia diangkat menjadi Menteri Negara Pendayagunaan BUMN pada Kabinet Pembangunan VII (16 Maret 1998-21 Mei 1998 jelang Pak Harto lengser. Ia merupakan Menteri BUMN pertama. Jabatan ini dilanjutkan pada kepemimpinan Presiden BJ Habibie (23 Mei l998-20 Oktober 1999). Ada yang menyebutnya sebagai “Bapak BUMN”.
Sedangkan keaktifannya di organisasi pemerintahan dan non pemerintahan antara lain, Dewan Pendidikan Nasional (1993-1998), Dewan Riset Nasional (1990-1998), Badan Promosi Pariwisata (l990-l996), Yayasan Perlindungan Lingkungan (1993-1998), Asosiasi Indonesia- Belanda, Indonesia-British Council dan Asia-Australia Institute.
Salah satu cita-citanya adalah mendirikan universitas. Cita-cita ini terwujud tahun 2011 ketika ia berusia 70 tahun dengan mendirikan Tanri Abeng University di Ulujami, Jakarta Selatan. Modal membangun universitas ini didapatnya dari menjual saham yang dimilikinya di Hotel Aryaduta Makassar. Keinginannya universitas ini bisa melahirkan lulusan manajer yang hebat, pengusaha dan pemimpin. Tanri Abeng langsung memimpin universitas ini sebagai rektor hingga wafatnya. Di kampus ini ia juga mendapat pengganti istrinya yang meninggal, Farida Nasution. Ia menikah tahun 2019 dengan seorang dosen komunikasi Kartika Harijono yang akrab disapa Chika, janda beranak satu.
Ada catatan menarik juga , waktu menjadi pelajar, Tanri juga sempar aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII) yang diserbut “adiknya” HMI. Ia juga anggota dan alumni HMI.
Dari perjalanan hidupnya, nampak jelas jejaknya, “bahwa hidup itu harus bermanfaat”. Akankah di masa datang lahir “tanri abeng-tanri abeng” baru, khasnya dari angkatan muda Muslim seperti PII dan HMI, tempat Tanri Abeng dulu digembleng?
