Ada sebuah peristiwa sejarah menarik untuk diperhatikan dalam perkembangan intelektual di Minangkabau, yaitu bahwa bibit-bibit untuk menjadi aktivis dan pemikir bukan hanya dimiliki kaum laki-laki, tapi juga bisa diperankan oleh kaum wanita. Secara sosiologis dan kultural posisi wanita Minang dalam spektrum peran sosial tidaklah terlalu berpeluang luas dibandingkan kaum laki-laki. Namun, fakta menunjukkan masih ada kaum wanita Minang yang reputasi perannya bisa menyamai atau sebanding dengan kalangan pria.
Suatu fakta sejarah yang rasanya perlu ditelusuri dan dihadirkan sebagai bahan inspiratif meskipun mungkin jarang diangkat ke permukaan adalah bahwa dalam dunia wanita-wanita Minang dalam hal ini sebagai contoh fakta sejarah—muncul tradisi keterbukaan, dialog dan pertukaran pemikiran atau dalam bahasa yang sedikit tajam, sebutlah perdebatan untuk membahas dan memutuskan suatu masalah.
Dua wanita Minang untuk sampel historis ini bisa kita hadirkan apa yang dialami dan terjadi antara Rahmah El Yunusiyah pendiri sekolah Diniyah Puteri di Padang Panjang dengan Rasuna Said seorang aktivis politik dan pengecam vokal kolonialis Belanda. Dalam suatu masa keduanya pernah berbeda pendapat dan punya pendirian yang teguh tentang perlukah politik diajarkan kepada para pelajar. Rahmah dan Rasuna Said keduanya adalah wanita yang hidup satu zaman—Rahmah 10 tahun lebih tua dari Rasuna Said– saling berteman, kawan dekat, pernah sama-sama belajar agama pada ulama, namun punya pendirian yang berbeda soal pentingnya politik diajarkan kepada para anak didik.
Rahmah El Yunusiyah tidak setuju pelajar diberikan materi politik, sementara Rasuna Said menganjurkan pentingnya politik diajarkan kepada para pelajar. Debat ini terjadi sekitar tahun l930-an yang akhirnya Rasuna Said mundur sebagai guru Diniyah Puteri karena idenya tidak diterima.
Mengapa Politik Penting dan Tidak Penting?
Sebelum kita membahas mengapa terjadi perbedaan pandangan antara Rahmah El Yunusiyah dengan Rasuna Said perlu tidaknya materi politik diajarkan kepada para pelajar Diniyah Puteri perlu diungkapkan terlebih dahulu apakah Rasuna Said sudah menyisipkan materi tersebut ketika ia mengajar di Diniyah Puteri. Dalam hal ini kita mengutip penjelasan Deliar Noer dalam bukunya Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta, LP3ES, Juni 1990). Pada halaman 64Deliar Noer menulis,” Sekitar tahun 1930 pada saat kegiatan-kegiatan politik pada kalangan guru-guru Islam di Minangkabau meningkat, seorang guru Diniyah, bernama Rasuna Said , mulai mengemukakan dalam pelajaran yang ia berikan maupun dalam pembicaraan-pembicaraan yang bersifat pribadi dengan para pelajar tentang pentingnya politik dan perlunya partisipasi pelajar di dalamnya. Sekurang-kurangnya menurut Rasuna , pelajar hendaknya dilengkapi dengan berbagai macam kepandaian yang diperlukan untuk seseorang yang akan berkecimpung dalam pergerakan. Apabila perlu pelajaran agama dan kegiatan-kegiatan agama hendaknya memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi latihan berpolitik”.
Dalam tulisan Deliar Noer di atas bisa dipahami bahwa Rasuna Said telah menyelipkan pelajaran politik kepada para pelajar putri ketika mengajar dan juga disampaikan atau diberikan pada saat-saat informal ketika berbincang-bincang dengan pelajar Diniyah Puteri. Bagi Rasuna Said tampaknya para pelajar ini bahkan harus disiapkan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan politik. Bukan hanya sampai disitu, Rasuna Said bahkan mengusulkan kegiatan-kegiatan agama juga diberikan kesempatan untuk latihan berpolitik.
Sementara itu Aminuddin Rasyad dalam tulisannya di Majalah Prisma nomr 8 Agustus l977 hal 107 juga menyebutkan,” Rasuna Said pada tahun l930 pernah membawa dan mengajarkan politik kepada murid-murid Diniyah Puteri”.
Mengapa politik penting diajarkan kepada pelajar? Dalam hal ini bisa dikatakan, karena Indonesia hidup dalam situasi terjajah, dan Rasuna Said memiliki gairah dan motivasi perjuangan yang tinggi untuk meraih kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan, dia melihat politik itu adalah jalan untuk memperjuangkan kemerdekaan. Karena itu bagi Rasuna Said, setiap pelajar perlu berpolitik dan mengambil bagian di dalamnya. Ia menegaskan, setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan adalah pejuang, dan politik merupakan bagian dari perjuangan.
Tegasnya bagi Rasuna Said, politik itu penting karena situasi bangsa sedang tidak baik-baik saja. Dengan demikian kesadaran politik itu penting ditumbuhkan supaya ada kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dari sini bisa pula dipahami bahwa politik itu pengertiannya bagi Rasuna Said adalah untuk menentang dan membebaskan diri dari kolonialis Belanda.
Disamping itu sebagai politisi perempuan, Rasuna Said menekankan pentingnya pendidikan politik bagi perempuan. Dalam pemikirannya, keterlibatan perempuan dalam politik sangat penting untuk memastikan kepentingan perempuan terwakili dalam pengambilan kebijakan. Ia mendorong kaum perempuan untuk berani terjun ke dunia politik dan mengambil peran dalam pembangunan bangsa (Siti Fatimatuzzaro, Mengkaji Kontribusi Rasuna Said dalam Bidang Politik, Surabaya, 2024). Dalam konteks masa penjajahan tentu Rasuna Said mendorong keterlibatan wanita dalam politik dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa.
Hal ini tampaknya berbeda pengertian politik bagi Rahmah El Yunusiyah. Bagi Rahmah El Yunusiyah, sebelum ia menjelaskan pemahamannya tentang politik, ia menekankan perlunya lebih dahulu ditanamkannya Iman dan keyakinan pada murid supaya kuat agamanya. Agama atau Iman ini apabila sudah kuat ia akan menjadi pegangan atau kompas dalam menjalani kehidupan, termasuk pegangan dalam kehidupan berpolitik manakala politik menjadi kehidupan yang dijalani.
Rahmah El Yunusiyah menambahkan, politik itu bagi pelajar nanti setelah mereka tamat dari sekolah. Yang penting mereka dibekali dulu dengan ajaran Islam dan Iman yang kuat sebagai pedoman hidup mereka. Cinta kepada tanah air dan sikap berpolitik akan terasa mantap jika disandarkan pada ajaran Iman dan ajaran Islam. Sebaliknya, aktivitas apapun yang dilakukan bila tidak didasarkan pada keimanan bisa menjadi bumerang, menimbulkan hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan bahkan bisa menghancurkan agama Islam.
Secara dasariah sebenarnya baik Rahmah El Yunusiyah maupun Rasuna Said menganggap politik itu penting dipahami dan dimengerti oleh para pelajar. Bagaimana pun juga bisa dipahami bahwa apa yang dimaksud dengan politik pada waktu itu belum luas benar pengertiannya seperti sekarang yang merupakan pengelompokan atau partai yang bersifat eksklusif, dalam arti punya ideologi, cita-cita dan program tersendiri, serta berorientasi merebut kekuasaan. Politik pada waktu itu lebih dipahami sebagai cita-cita luhur untuk menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat serta terbebas dari penjajahan asing. Karena itu baik Rahmah maupun Rasuna pastilah memahami politik itu aktivitas yang suci dan makna yang terhormat. Karena itu yang menjadi poin penting pada waktu itu adalah mencari timing dan waktu yang tepat memberikan pelajaran politik kepada para pelajar. Bagi Rahmah El Yunusiyah ia ingin para pelajar dan kegiatan belajar- mengajar fokus dan mandiri. Ia berharap Siswi Diniyah Puteri konsentrasi untuk belajar, tanpa terganggu perhatiannya dengan kegiatan-kegiatan di luar belajarnya dengan soal-soal lain. Dan, berpolitik nanti setelah tamat belajar dan punya bekal yang bisa menjadi pedoman untuk berpolitik sehingga tidak menyimpang. Dan, pedoman itu adalah ajaran Islam dan Iman yang kuat di dada dan hati. Pernyataan inilah yang disampaikan oleh Rahmah El Yunusiyah,” Politik untuk murid-murid adalah kecintaan seseorang kepada tanah air, harus didasarkan kepada iman yang tebal dalam dada setiap orang. Kalau iman tidak ada , maka politik dapat menjadi bumerang, yaitu akan menentang dan menghancurkan agama” ( Aminuddin Rasyad hal, 1977 hal. 107). Demikian juga ketika Kongres Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) pada tahun l931 yang meminta agar Diniyah Puteri di bawah naungan PERMI sebagai partai politik, Rahmah El Yunusiyah menolaknya. Ia mengatakan,” Biarkanlah perguruan ini tetap terasing selama-lamanya dari partai politik, dan tinggalkan ia (politik) menjadi urusan dan tanggungan orang banyak (umum), sekalipun umum itu dalam aliran politiknya bermacam warna dan ragam, tapi untuk perguruan dan menanggung jawab atasnya, haruslah mereka itu satu adanya. Inilah pendirian pengurus dan guru-guru dari perguruan kita” (Aminuddin Rayad, ibid. hal. 107). Rahmah juga melihat, bila sekolahnya di bawah supervisi partai politik akan sangat menghambat kemajuan sekolahnya, oleh sebab sekolahnya akan tergantung pada maju mundurnya suatu organisasi yang bergerak di dalam bidang yang berlainan dengan sekolahnya ( Deliar Noer, l990, hal. 65).
Memahami perbedaan Rahmah El Yunusiyah dan Rasuna Said dalam memandang pentingnya pendidikan politik bagi pelajar sebenarnya tumbuh akibat dari latar belakang pendidikan masing-masing yang berbeda. Sosialisasi Rahmah El Yunusiyah besar di lingkungan suasana keluarga yang terlibat di dunia pengelolaan pendidikan. Kakaknya Zainuddin Labay El Yunusy adalah pendiri dan membina Diniyah School yang menjadi mentor Rahmah mendirikan sekolah Diniyah Puteri. Otomatis lingkungan dan pemikiran Rahmah sangat dipengaruhi untuk selalu mengejar obsesi kesuksesan lembaga pendidikan yang dirintisnya. Pikiran di luar itu, seperti kegandrungan pada politik, tidaklah terlalu besar pengaruhnya.
Sementara itu Rasuna Said dibesarkan di lingkungan yang harus menuntut keberanian dan mampu berpikir menonjol, karena masa pendidikannya di pesantren hanya ia sendiri yang perempuan. Teman-temannya semua laki-laki. Sehingga basis dasar pertumbuhan artikulasi pemikirannya terbiasa berani dan terbuka. Kegandrungannya pada politik setelah memasuki usia muda jadi sudah ada potensi dan talentanya hingga menjelang usia remaja.
Kemudian pada sisi lain, Rasuna Said ketika belajar dan mendalami agama dengan Haji Rasul ia menyerap pemikiran-pemikiran bebas, progresif dan kritis dari Haji Rasul (ayah dari Hamka). Haji Rasul atau Haji Abdul Karim Amrullah dikenal ulama yang keras, tegas dan menentang dengan berani bila menemukan hal-hal yang menyimpang dari keyakinan Islam yang dipahaminya. Interaksi Rasuna Said dengan Haji Rasul membantunya memahami bahwa agama tidak hanya tentang aturan yang kaku, tetapi juga tentang pengembangan intelektual dan pemikiran yang kritis. Inilah yang menjadi pembentuk karakter Rasuna Said untuk terlibat dalam perjuangan politik dan sikapnya yang keras tanpa kompromi menentang penjajahan dan kezaliman Belanda sehingga ia sempat dihukum masuk penjara di Semarang, Jawa Tengah, selama satu tahun enam bulan oleh penjajah. Hamka, yang sempat bertemu dengannya memberikan kesan, bahwa Rahmah sejak gadisnya memang telah gandrung kepada politik, dan mudah muncul simpatinya kepada gerakan politik menentang penjajah.
Sementara Rahmah El Yunusiyah pribadi yang komitmennya sangat kuat untuk memajukan pendidikan kaum wanita. Ia tidak pernah patah semangat untuk mengembangkan lembaga pendidikan yang didirikannya. Bahkan, ketika sekolahnya hancur dihantam gempa tahun l926 itu ia berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia dan bahkan sampai ke luar negeri, Malaysia, mencari pendanaan untuk membangun kembali lembaga pendidikannya. Ini artinya, bahwa Rahmah El Yunusiyah, memang porsi perhatian hidupnya sebagian besar didedikasikan untuk memajukan kaum wanita melalui pendidikan, bukan memilih jalur politik. Untuk itu bahkan beliau tidak hidup berumah tangga, setelah perceraiannya dalam perkawinan pertama. Rumah tangga dan anaknya adalah Diniyah Puteri, sekolah yang dicintainya.
Meskipun Rahmah tidak setuju politik diajarkan di sekolah kita tidak bisa mengatakan Rahmah tidak mengerti politik. Bahwa ia juga paham politik bisa kita lihat dengan sikapnya yang menolak bantuan pemerintah Hindia Belanda untuk memberikan subsidi terhadap Diniyah Puteri. Ia tentu paham motivasi dan latar belakang penjajah Belanda memberikan subsidi yang suatu saat pasti melakukan intervensi dan mempengaruhi kebijakan terhadap sekolah yang dipimpinnya. Sebab, pemerintah Belanda juga khawatir perguruan ini akan melahirkan tokoh-tokoh pejuang wanita yang bakal menjadi ancaman bagi kekuasaannya( Aminuddin Rasyad hal. 107).
Catatan penutup
Dalam perspektif masa depan bangsa sesungguhnya pendekatan politik yang menjadi dasar perjuangan Rasuna Said dan pendekatan pendidikan yang dijalankan Rahmah El Yunusiyah sesungguhnya saling melengkapi. Perjuangan politik menunjukkan bangsa ini punya jiwa patriotisme, punya marwah dan kehormatan. Menunjukkan bangsa yang tidak mau diperlakukan seenaknya oleh bangsa lain. Dengan demikian perjuangan politik yang bisa saja berujung perjuangan fisik dan pemberontakan, unjuk rasa, protes dan semacamnya menandakan bangsa ini memiliki harga diri. Tidak membiarkan adanya tindakan dan perlakuan sewenang-wenang oleh bangsa lain yang melakukan penjajahan.
Sedangkan pendekatan melalui pendidikan adalah mempersiapkan generasi terpelajar, kelompok terdidik yang nantinya akan mengisi berbagai posisi baik ekonomi, politik, birokrasi, industri, pemerintahan dan lainnya jika telah merdeka yang menjadikan negara dan bangsa ini bisa berjalan dan berfungsi. Karena itu pendidikan jelas punya peran strategis. Dalam masa perjuangan kemerdekaan, kalau ada yang mengelola pendidikan pada dasarnya itu juga sebuah perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Melalui pendidikan juga banyak orang sadar politik atau melek politik, dan mengerti serta memahami bangsanya sedang terjajah dan termotivasi untuk berjuang membebaskan diri dari kekuasaan asing. Dari sini bisa muncul kesadaran politik dan kesadaran untuk merdeka.
Sekarang ini dengan Rahmah El Yunusiyah telah diangkat sebagai pahlawan nasional pada 11 November 2025 lalu lengkap sudah pejuang pendidikan dan pejuang fisik atau pejuang politik diangkat sebagai pahlawan nasional , yaitu Rahmah El Yunusiyah sebagai pahlawan pendidikan dan Rasuna Said pahlawan politik dan perjuangan. Keduanya mendapatkan kehormatan dan penghargaan yang sama.

