Manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal, bukan saling meniadakan. (Terinspirasi dari Q.S. Al-Hujurat: 13)
Ketika mendengar nama Rusia, banyak orang segera membayangkan hamparan salju, Kremlin yang megah, balet, sastra karya Tolstoy dan Dostoevsky, atau sosok beruang merah yang menjadi simbol kekuatan negeri itu. Tidak sedikit pula yang menganggap Rusia identik dengan tradisi Kristen Ortodoks.
Namun, di balik citra tersebut, ada fakta menarik yang sering luput dari perhatian dunia: Islam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Rusia selama berabad-abad. Bahkan, Islam bukanlah “agama pendatang baru” di negeri itu. Ia tumbuh, berkembang, dan berakar kuat jauh sebelum Rusia modern terbentuk seperti yang kita kenal hari ini.
Islam yang Tumbuh dari Tanah Rusia
Berbeda dengan sebagian negara Eropa Barat yang populasi Muslimnya didominasi oleh imigran generasi baru, mayoritas umat Islam di Rusia justru merupakan penduduk pribumi asli.
Diperkirakan terdapat sekitar 15 hingga 20 juta Muslim di Rusia, atau sekitar 10–15 persen dari total populasi negara tersebut. Mereka berasal dari berbagai kelompok etnis yang telah mendiami wilayah Rusia selama ratusan tahun, seperti bangsa Tatar, Bashkir, serta berbagai suku di kawasan Kaukasus.
Fakta ini mengajarkan bahwa identitas keislaman dan identitas kebangsaan bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Seseorang dapat menjadi Muslim yang taat sekaligus warga negara yang mencintai tanah airnya.
Jejak Sejarah yang Panjang
Sejarah mencatat bahwa Islam telah hadir di wilayah Rusia sejak abad ke-7 hingga ke-10 Masehi. Salah satu tonggak pentingnya adalah masuknya Islam ke wilayah Volga Bulgaria, sebuah kerajaan yang terletak di kawasan Volga-Ural.
Jauh sebelum berdirinya Kekaisaran Rusia maupun Uni Soviet, azan telah berkumandang di berbagai kawasan tersebut. Sejarawan Inggris, Arnold J. Toynbee, pernah menegaskan bahwa peradaban besar bertahan bukan karena keseragaman mutlak, melainkan karena kemampuannya mengelola keberagaman. Dalam konteks Rusia, keberadaan Islam menjadi salah satu bukti nyata bagaimana sejarah panjang dapat membentuk mosaik kebudayaan yang unik.
Dari Chechnya hingga Tatarstan
Komunitas Muslim Rusia tersebar di berbagai wilayah dengan karakter yang beragam. Di kawasan Kaukasus Utara, seperti Chechnya, Dagestan, dan Ingushetia, Islam menjadi bagian yang sangat kuat dalam kehidupan sosial masyarakat.
Sementara itu, di kawasan Volga-Ural, terutama di Tatarstan dan Bashkortostan, tradisi Islam berkembang berdampingan dengan kemajuan pendidikan, industri, dan budaya lokal. Di kota-kota metropolitan seperti Moskow dan Saint Petersburg, populasi Muslim juga cukup besar. Mereka berasal dari komunitas lokal maupun warga dari negara-negara bekas Uni Soviet yang datang untuk belajar dan bekerja. Keberagaman ini menunjukkan bahwa Islam di Rusia bukanlah wajah tunggal, melainkan mozaik dengan corak budaya yang kaya.
Mazhab yang Menyatukan
Mayoritas umat Islam di Rusia menganut paham Suni. Menariknya, terdapat dua mazhab fikih utama yang hidup berdampingan. Mazhab Syafi’i banyak dianut masyarakat Kaukasus Utara. Sedangka mazhab Hanafi* lebih dominan di wilayah Tatarstan dan kawasan Volga-Ural.
Perbedaan mazhab tersebut tidak menjadikan umat tercerai-berai. Sebaliknya, ia menjadi bukti bahwa keragaman dalam Islam dapat menjadi kekayaan intelektual dan spiritual. Imam Muhammad ibn Idris Asy-Stafi’i pernah berkata, “Pendapatku benar tetapi mungkin mengandung kesalahan, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin mengandung kebenaran.” Sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya kerendahan hati dalam menyikapi perbedaan.
Diakui sebagai Agama Tradisional
Salah satu hal yang menarik adalah status Islam di Rusia. Karena sejarahnya yang panjang dan keterikatannya dengan berbagai suku asli, pemerintah Rusia mengakui Islam sebagai salah satu **agama tradisional Rusia**, sejajar dengan beberapa agama besar lainnya. Pengakuan tersebut bukan sekadar simbolik. Ia tercermin dalam keberadaan ribuan institusi keagamaan, mulai dari masjid, madrasah, hingga perguruan tinggi Islam.
Salah satu ikon Islam modern di Rusia adalah Moscow Cathedral Mosque. Masjid megah ini mampu menampung puluhan ribu jamaah dan menjadi pusat aktivitas keagamaan umat Islam di ibu kota Rusia.
Selain itu, terdapat pula Kul Sharif Mosque yang berdiri anggun di dalam kompleks Kremlin Kazan. Arsitekturnya memadukan warisan Tatar dengan sentuhan modern, menjadi simbol kebangkitan identitas Islam di kawasan tersebut.
Bangunan-bangunan itu bukan hanya tempat ibadah, melainkan penanda bahwa Islam turut memberi warna dalam lanskap peradaban Rusia.
Ketika Idul Fitri Menjadi Pesta Kebersamaan
Saat Idul Fitri dan Idul Adha tiba, jutaan Muslim Rusia memadati masjid dan lapangan terbuka.
Pemandangan ribuan jamaah bersujud di tengah dinginnya udara Moskow sering menjadi perhatian media internasional. Tak jarang, jalan-jalan di sekitar masjid dipenuhi lautan manusia yang datang untuk menunaikan salat hari raya.
Momen itu memperlihatkan satu hal sederhana namun mendalam: di mana pun berada, umat Islam tetap membawa semangat persaudaraan, syukur, dan kepedulian sosial.
Pelajaran dari Rusia
Kisah Islam di Rusia mengajarkan bahwa identitas dapat tumbuh berdampingan tanpa harus saling menghapus.
Keberagaman bukan ancaman jika disertai saling menghormati. Perbedaan mazhab tidak harus melahirkan permusuhan. Tradisi lokal tidak selalu bertentangan dengan keyakinan agama.
Di tengah dunia yang sering gaduh oleh prasangka, pengalaman Muslim Rusia memberi pesan penting bahwa harmoni dapat dibangun melalui pengakuan sejarah, penghormatan terhadap identitas, dan kemauan untuk hidup bersama.
Akhirnya, mungkin kita perlu mengingat kembali bahwa Islam bukan hanya hadir di gurun pasir atau negeri-negeri Timur Tengah. Ia juga tumbuh di antara salju Siberia, berkumandang di tepian Sungai Volga, dan hidup di hati jutaan warga Rusia yang menjadikan iman sebagai cahaya dalam keberagaman. Untuk menjadi indah, peradaban manusia pun membutuhkan keberagaman agar tetap utuh dan bermakna.***
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten





