Aktualita

Sudah Merdeka Tapi Masih Terjajah: Wajah Penjajahan Modern dalam Sistem, Ekonomi, Budaya, dan Pikiran

Kemerdekaan sering kita bayangkan sebagai sebuah peristiwa yang selesai pada satu tanggal: penjajah pergi, bendera dikibarkan, teks proklamasi dibacakan, lalu sebuah bangsa dinyatakan bebas. Padahal, sejarah mungkin telah menutup satu bab, tetapi kehidupan membuka persoalan baru. Sebab setelah penjajah pergi, ternyata tidak semua bentuk belenggu ikut angkat kaki.

Indonesia telah merdeka secara politik. Namun, apakah seluruh rakyat sudah benar-benar merasakan kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan ini layak diajukan, bukan untuk mengurangi makna perjuangan para pahlawan, melainkan untuk mengisi kemerdekaan dengan sikap yang lebih jujur dan kritis.

Setiap Agustus, merah putih menghiasi jalanan. Bendera berkibar, gapura dipercantik, lomba tujuhbelasan digelar, dan semangat kemerdekaan kembali bergema. Namun, setelah lomba makan kerupuk selesai dan hadiah dibagikan, persoalan lama masih menunggu : korupsi, ketidakadilan, ketergantungan, rendah diri, dan ketakutan yang membelenggu pikiran.

Korupsi : Penjajahan dari Dalam

Dahulu kekayaan negeri dirampas oleh penjajah. Kini, ironisnya, sebagian kekayaan rakyat kadang justru bocor melalui tangan-tangan yang seharusnya menjaganya. Uang yang seharusnya membangun sekolah, rumah sakit, jalan, dan kesejahteraan bisa saja “kehilangan alamat” sebelum sampai kepada rakyat.

Korupsi bukan sekadar soal uang yang dicuri. Dana pendidikan yang dikorupsi dapat merampas masa depan, anggaran kesehatan yang diselewengkan mempertaruhkan keselamatan, dan pembangunan yang bocor membuat rakyat membayar pajak sambil tetap akrab dengan jalan berlubang. Kita merdeka dari penjajah asing, tetapi jangan sampai masa depan bangsa dijajah oleh keserakahan bangsanya sendiri.

Ketidakadilan Sistem : Hukum Jangan Punya Sensor Ukuran

Konon, hukum berlaku sama bagi semua. Namun masyarakat kadang merasa hukum seperti pintu otomatis: yang kecil cepat terbuka, yang besar sensornya kadang perlu diperiksa. Kesalahan kecil bisa cepat diproses, sementara perkara besar yang rumit sering membuat rakyat diminta bersabar dengan durasi yang tidak tercantum di kalender.

Tentu banyak aparat dan lembaga bekerja dengan jujur. Karena itulah kritik terhadap ketidakadilan bukan berarti membenci negara. Justru negara yang sehat membutuhkan keberanian untuk mengoreksi dirinya. Kemerdekaan belum lengkap apabila hak dan keadilan masih terasa lebih mudah diperoleh oleh mereka yang memiliki uang, kekuasaan, atau “kenalan yang mengenal kenalan”.

Ketergantungan: Merdeka, Tetapi Tombolnya Dipegang Orang Lain

Globalisasi bukan musuh. Kita membutuhkan perdagangan, investasi, teknologi, dan kerja sama internasional. Namun kerja sama berbeda dengan ketergantungan. Jika kebutuhan penting bangsa terlalu bergantung kepada pihak lain, daya tawar kita pun dapat melemah.

Kemerdekaan ekonomi bukan berarti menutup pintu terhadap dunia. Itu bukan nasionalisme, bisa-bisa hanya sulit bersosialisasi. Kemerdekaan ekonomi berarti mampu berdiri tegak dalam kerja sama: belajar dari luar, tetapi tetap mengembangkan kemampuan sendiri; menggunakan teknologi global, tetapi terus membangun inovasi nasional. Jangan sampai kita sibuk mengimpor hampir semuanya, lalu yang belum diimpor tinggal udara.

Penjajahan Budaya : Ketika Menjadi Diri Sendiri Dianggap Kurang Keren

Menyukai budaya asing tentu tidak salah. Yang menjadi masalah adalah ketika segala sesuatu dari luar selalu dianggap lebih hebat, sementara milik sendiri dinilai kuno bahkan sebelum dipahami. Bahasa sendiri dianggap kurang bergengsi, produk lokal pilihan kedua, dan tradisi dianggap tidak modern.

Bangsa yang percaya diri tidak harus menutup diri. Kita dapat belajar dari mana saja tanpa kehilangan akar. Menjadi terbuka kepada dunia tidak sama dengan menyerahkan identitas kepada dunia. Jangan sampai kita terlalu sibuk terlihat internasional hingga lupa bahwa jati diri nasional bukan barang diskonan.

Penjajahan Pikiran: Belenggu yang Tidak Terlihat

Penjajahan paling berbahaya mungkin justru tinggal di dalam kepala. Tidak semua belenggu terbuat dari besi. Ada yang berupa rasa takut, rendah diri, takut gagal, takut berbeda, takut mencoba, bahkan takut bermimpi terlalu tinggi.

Mentalitas “Ah, kita mana bisa?” dapat menjadi penjara yang sangat efektif. Penjajah tidak perlu datang jika seseorang telah lebih dahulu meyakinkan dirinya bahwa ia tidak mampu. Ditambah tekanan kehidupan modern dan media sosial, kita semakin mudah membandingkan diri dengan orang lain. Baru membuka telepon sebentar, orang lain tampak sudah sukses, kaya, bahagia, dan produktif; kita pun menutupnya sambil bertanya, “Saya ini sedang hidup atau ketinggalan kereta?”.

Padahal yang terlihat di layar sering kali hanya panggung, bukan seluruh perjuangan di belakangnya. Merdeka secara mental berarti berani membebaskan diri dari ketakutan yang tidak perlu, berhenti meremehkan diri sendiri, dan berani bertumbuh dengan kemampuan yang kita miliki.

Kemerdekaan Adalah Pekerjaan yang Terus Berjalan

Kemerdekaan tidak boleh berhenti pada upacara, spanduk, dan lomba tujuhbelasan. Kemerdekaan harus hadir dalam birokrasi yang melayani, hukum yang adil, ekonomi yang memberi kesempatan, pendidikan yang mencerdaskan, serta masyarakat yang percaya diri.

Kritik juga tidak cukup hanya menjadi bahan obrolan warung kopi atau status panjang di media sosial. Kritik harus diikuti kemauan memperbaiki. Melawan korupsi dimulai dari menolak kecurangan. Menuntut keadilan harus disertai kesediaan berlaku adil. Mengurangi ketergantungan dimulai dengan meningkatkan kemampuan. Melawan penjajahan pikiran dimulai dengan berhenti menyerah sebelum berjuang.

Indonesia telah merdeka sejak 17 Agustus 1945, tetapi mengisi kemerdekaan adalah tugas yang tidak pernah selesai. Musuh hari ini mungkin tidak lagi datang dengan kapal perang dan meriam. Ia dapat hadir dalam bentuk keserakahan, sistem yang tidak adil, ketergantungan yang melemahkan, rendah diri, serta pikiran yang menyerah sebelum bertindak.

Maka, ketika kita kembali meneriakkan “Merdeka!”, jangan hanya memastikan suara kita keras. Pastikan pula kemerdekaan itu benar-benar terasa dalam kehidupan rakyat.

Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajah masa lalu. Merdeka adalah ketika rakyat tidak dirampas haknya, keadilan tidak memilih alamat, bangsa mampu berdiri tegak, dan manusia tidak lagi menjadi penjajah bagi sesamanya—termasuk bagi pikirannya sendiri.

Sebab penjajahan modern tidak bisa diusir hanya dengan upacara atau lomba panjat pinang. Ia harus dilawan dengan kejujuran, keberanian, kecerdasan, keadilan, dan kemauan bersama untuk terus memperbaiki negeri.***

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button