Aktualita

Kawasan Timur Tengah yang Makin Membara

Konflik di Timur Tengah hari-hari ke depan diperkirakan makin panas dan membara. Tindakan Iran menembakkan  200 rudal balistik  ke Tel Aviv (Selasa, 1 Oktober 2024) telah memicu  perang besar makin sulit untuk dicegah. Israel dan Iran sekarang saling ancam yang sewaktu-waktu meletuskan peperangan.

Eskalasi perang yang makin besar  sulit diatasi. Latar belakang pemicu baru selalu muncul dan magnitude kawasan konflik juga makin bertambah. Berawal antara Hamas dan Israel di Gaza, kini mulai melebar ke  Libanon dengan Hizbullah, milisi Houti di Yaman, Kelompok Perlawanan Islam di Irak,  dan bahkan mulai merembet ancaman perang antara Israel dan Iran.

Meninggalnya tokoh-tokoh penting yang dibunuh zionis Israel mulai dari pemimpin Hamas Ismail Haniyeh (31 Juli 2024), tokoh Hizbullah Fuad Shukr (30 Juli 2024),  Hassan Nasrallah (27 /9/2024)  dan Jenderal Abbas Nilforushan, Wakil Komandan Operasi Korp Garda Revolusi Iran (IRGC), pada 27 September 2024, serta rakyat sipil telah memicu amarah, dendam, melukai harga diri dan martabat kehormatan di antara bangsa yang bertikai. Serangan 200 roket balistik Iran  ke Israel (1 Oktober 2024) seperti dinyatakan Iran adalah balasan terhadap terbunuhnya Ismail Haniyeh, Hasan Nasrallah dan Abbas Nilforushan.

Pasukan Iran untuk pertama kali menggunakan misil hipersonik Fattah. Dan, mengklaim 90% berhasil mencapai target sasaran di Israel.

Tel Aviv, ibu kota Israel, yang dihujani roket Iran telah membuat Perdana Menteri  Benyamin Netanyahu murka. Ia bersumpah bahwa Iran akan membayar mahal atas serangan misil tersebut. “Iran membuat kesalahan besar dan akan membayarnya,” gertaknya.

Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkiaan  menyatakan, serangan Iran ke Israel adalah hak mempertahankan diri yang sah, sesuai piagam PBB. Ia menambahkan, serangan itu merupakan tanggapan tegas atas agresi yang dilakukan oleh Israel.

“Biarkan Netanyahu tahu bahwa Iran bukanlah negara yang suka berperang , tetapi kami akan berdiri teguh melawan ancaman apapun. Ini hanya sebagian kecil dari kekuatan kami. Jangan coba-coba memulai konflik dengan Iran,” tandasnya.

Pernyataan yang sama dikemukakan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Ia menganggap serangan rudalnya terhadap Israel dianggap selesai. Tetapi, jika Israel memprovokasi perang, pihak Iran akan merespon balik serangan tersebut.

“Tindakan kami selesai, kecuali rezim Israel memutuskan untuk melakukan pembalasan. Dalam skenario tersebut, respon kami akan lebih kuat dan lebih dahsyat,” tegasnya.

Bahkan, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyatakan, eksistensi Israel tidak akan bertahan lama. Ini disampaikannya ketika menjadi khatib Jum’at (4/102024) di Masjid Agung Mosalla Imam Khomenei, Teheran.          

Sementara itu saling ancam di antara kedua negara tampaknya sudah mulai melontarkan. Israel sebelumnya mengancam akan menyerang situs nuklir dan fasilitas minyak milik Iran untuk diserang. Iran balik membalas dengan menyatakan bakal menargetkan infrastruktur energi, kilang gas Israel dan pembangkit listrik milik negara zionis Israel itu untuk diserang.

“Iran akan menargetkan semua lokasi energi jika Israel membuat kesalahan, dengan melakukan serangan balasan atas rentetan rudal Iran,” ujar Brigadir Jenderal Ali Fadavi, Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Selanjutnya di forum Dewan Keamanan PBB dalam pertemuan darurat (2/10/2024) membahas eskalasi Timur Tengah pasca terbunuhnya pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah, serangan darat Israel ke Lebanon, dan usai serangan rudal balistik Iran ke Israel, menjadi ajang percekcokan antara wakil Israel dan Iran.

Duta Besar Israel untuk PBB,Danny Danon, menyatakan apa yang dilakukan negaranya hanya untuk membela diri. “Israel akan membela diri. Kami akan berindak. Konsekuensi yang akan dihadapi Iran atas tindakan mereka akan jauh lebih besar dari pada yang pernah mereka bayangkan,” ancamnya.

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menjawab, serangan iran ke Israel pada Selasa awal Oktober kemarin untuk memulihkan keseimbangan kawasan.

“Eskalasi lebih lanjut dapat dihindari jika Israel menghentikan perang di Gaza dan serangan terhadap Lebanon. Iran sepenuhnya siap untuk mengambil tindakan defensif lebih lanjut, jika diperlukan untuk melindungi kepentingan sahnya dan mempertahankan integritas teritorial serta kedaulatan terhadap tindakan agresi Israel dan penggunaan kekuaan illegal apapun,” tandasnya. 

Dalam pertemuan tersebut Wakil tetap Amerika Serikat di PBB, Linda Thomas Greenfield, tampak membela Israel. Dia menyebut dukungan Washington untuk Tel Aviv bersifat defensif.

“Rezim Iran harus bertanggungjawab atas tindakannya. Kami mengingatkan Iran dan proksinya, agar tidak mengambil tindakan terhadap AS dan tindakan lebih lanjut terhadap Israel,” ujarnya.

Sedangkan Dubes Rusia di PBB, Vassily Nebenzia, memuji Iran atas kemapuan mengendaliakan diri yang luar biasa. Ia mengatakan serangan rudal terhadap Israel tidak terjadi begitu saja, seolah tidak ada yang terjadi di Lebanon, Gaza, Suriah dan Yaman. “Hal itu memang terjadi dan menyebabkan munculnya konflik baru yang berbahaya di Timur Tengah,” jelas Nebenzia.

Sekretaris Jenderal, Antonio Guterres, mengutuk keras perluasan konflik di Timur Tengah. “Gencatan senjata harus dilaksanakan karena eskalasi konflik terus terjadi.” 

Konflik Iran-Israel tampaknya memang sulit diredam. Apalagi negara-negara yang mendukung Israel bakal mendukung negara Yahudi ini  bila terjadi pertempuran. Amerika Serikat  melaui Presiden AS Joe Bidan menyatakan mendukung penuh Israel. Dan tim keamanan nasional Amerika Serikat terus melakukan kontak dengan rekan-rekan mereka di Israel.

Hal yang sama dikemukan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, yang menyampaikan kepada mitranya Benyamin Netanyahu, komitmen teguh negaranya terhadap keamanan Israel setelah serangan rudal Iran.

Demikian juga Prancis menyatakan dukungan terhadap Israel. Bahkan, mulai mengerahkan sumber daya militernya ke kawasan Timur Tengah setelah adanya serangan Iran ke Israel 1 Oktober ini.

“Prancis mengutuk serangan terhadap Israel oleh rudal balistik Iran. Prancis menegaskan komitmen mutlaknya terhadap keamanan Israel melalui sarana militernya di Timur Tengah untuk melawan ancaman Iran,” ujar pernyataan Kemenlu Perancis.

Keterlibatan negara-negara besar membantu secara militer makin membuat perdamian di kawasan Timur Tengah makin tipis harapan. Seharusnya negara-negara besar menekan Israel untuk melakukan gencatan senjata dan membawa ke meja perundingan. Jika kekuatan militer yang ditonjolkan maka akan menimbulkan penderitaan bagi umat manusia. Perang hanya menambah kesengsaraan bagi rakyat banyak. Seharusnya para elit negara yang bertikai menyadari hal itu. Dan, negara lain yang tidak ikut terlibat perang mendorong mendamaikan, bukan malah memprovokasi perang yang menghancurkan kehidupan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button