Mendiang Arief Budiman pernah mengatakan bahwa yang menguasai hajat hidup kita adalah adalah budaya yang bersandar pada nilai-nilai matrialisme, egoisme dan persaingan. Doktor sosiologi yang juga dikenal aktivis ini menyebutnya kebudayaan MEP, yang sebenarnya sudah milik dunia sekarang. Meski bisa dipisahkan, ketiganya merupakan satu kesatuan.
Kekayaan, misalnya, dianggap ukuran martabat. Erich Fromm dalam To Have or To Bemengatakan, masyaraat kapitalis sekarang selalu mempersoalkan what do you have, bukan what are you. Apa yang kamu punya, bukan siapa kamu. Anda bisa seorang yang jujur, yang pandai, tapi orang selalu mengatakan: ya, tapi kok miskin. Tak berarti nilai kejujuran tak penting. Tapi kaya sekaligus jujur lebih baik. Kalau jujur tapi miskin, sepertinya percuma.
Nilai kedua, egoisme, mengedepankan diri sendiri sebagai yang paling utama. Orang Aran menyebutnya anania, sedangkan orang Jakarta memakai ungkapan elu elu, gue gue.Soolidaritas tentu boleh, tapi yang penting saya dulu.
Adapun yang ketiga mengutamakan prinsip “yang kuat yang menang” – jika perlu dengan memperlemah orang lain. Kita selalu ingin meningkatkan daya saing, tapi hany supaya bertambah kaya. Manusia adalah serigala bagi manusia lain – homo homini lupus. Bersaing dalam kejujuran diangap tidak berguna lantaran hanya sedikit menambah profit. Seakah tidak apa-apa, bahkan mungkin dianggap perlu.
Persaingan bukan hal buruk, sebenarnya. Ungkapan Al-Qur’an yang populer: Fastabiqul khairat, bersainglah dalam hal-hal baik. Lagi pula, tanpa kompetisi, mana mungkin hidup kita bergairah? Mandeg. Tanpa gerak kemajuan. Hanya, seperti diingatkan Arief Budiman yang bernama asli Soe Hok Djien itu, kalau persaingan itu berkombinasi dengan materialismdan egoisme, ia bisa menjadi sangat destruktif; menciptakan masyarakat berkelas yang orang kayanya makin menjerembapkan orang miskin ke bawah. Keadaan ini akan semakin parah jika rezim politik yang berkuasa, alih-alih meningkatkan derajat orang-orang miskin, tapi justru memanfaatkannya untuk melanggengkan kekuasaan.
Lalu apa yang mesti dilakukan untuk mengikis, paling tidak untuk menangkal segi-segi negatif tiga nilai budaya, yang jauh dari rasa keagamaan atau religiusitas itu?