Ada momen-momen tertentu ketika dunia terasa seperti tidak patuh pada perasaan kita. Kita sudah yakin, sudah takut, sudah berharap—lalu kenyataan berjalan ke arah lain. Di sanalah kegelisahan lahir. Bukan karena dunia salah, tetapi karena batin kita kehilangan pijakan. Pengalaman ini begitu umum sehingga kita jarang menyadari betapa seringnya kita menghabiskan hidup bukan untuk memahami kenyataan, melainkan untuk menyesuaikannya dengan perasaan yang sudah terlanjur kita peluk.
Selama puluhan tahun, Teori Disonansi Kognitif dari Festinger memberi nama pada ketegangan ini. Ia menjelaskan bagaimana manusia merasa tidak nyaman ketika keyakinan, emosi, dan fakta tidak sejalan, lalu berusaha mengurangi ketidaknyamanan itu. Teori ini terasa begitu tepat sasaran hingga menjadi semacam kunci pembuka untuk menjelaskan hampir semua perilaku keras kepala manusia—dari agama sampai politik, dari konsumsi sampai cinta.
Namun temuan-temuan terbaru memaksa kita untuk lebih rendah hati. Bukan karena disonansi kognitif tidak ada, melainkan karena ia tidak sesederhana yang selama ini kita bayangkan.
Dalam kisah klasik gempa India 1934, orang-orang yang selamat justru percaya bahwa bencana lebih besar akan datang. Festinger melihatnya sebagai upaya membenarkan ketakutan yang sudah terlanjur membesar. Emosi dan fakta tidak selaras, maka fakta yang dibengkokkan. Kisah ini lama dianggap contoh murni cara kerja batin manusia. Tapi penelitian ulang atas studi paling terkenal Festinger—”When Prophecy Fails”—menunjukkan bahwa perilaku para pengikut sekte apokaliptik mungkin tidak sepenuhnya lahir dari disonansi mereka sendiri, melainkan dipengaruhi secara aktif oleh para peneliti yang menyusup dan mendorong keyakinan itu.
Penemuan ini tidak meruntuhkan gagasan bahwa manusia ingin konsisten. Tetapi ia meruntuhkan kepercayaan kita bahwa ada satu mekanisme tunggal yang bekerja rapi di balik semua itu. Manusia ternyata jauh lebih berantakan. Ada yang menggandakan keyakinan, ada yang diam-diam mengendurkannya, ada yang mengganti topik, ada yang menyerah tanpa drama. Semua mungkin sedang “mengurangi disonansi”, tetapi dengan cara yang sangat berbeda.
Di wilayah iman, keragaman respons ini terasa nyata. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan yang diterima sebagai kepastian. Lalu hidup datang membawa luka, kehilangan, dan ketidakadilan. Doa tidak dijawab sebagaimana diharapkan. Orang saleh menderita. Orang culas justru berjaya. Di titik ini, sebagian orang memperkeras iman: menutup pertanyaan, memperketat batas, memperbanyak dalil. Sebagian lain melunak: menafsir ulang, menunda kepastian, atau bahkan mengambil jarak. Ada pula yang tetap beriman, tetapi dengan cara yang lebih sunyi dan rapuh.
Teori lama mungkin akan menyebut semua ini sebagai variasi reduksi disonansi. Tapi pengalaman religius manusia terlalu kaya untuk diperas menjadi satu formula. Keraguan tidak selalu tanda iman yang gagal. Kadang ia justru tanda iman yang sedang tumbuh, beralih dari kepastian anak-anak menuju kepercayaan orang dewasa—yang tahu bahwa Tuhan tidak selalu hadir sebagai jawaban cepat, melainkan sebagai ruang yang harus ditempuh dengan sabar.
Politik Indonesia hari ini memperlihatkan dinamika yang sama, tetapi dalam skala massal. Dukungan politik sering dimulai dari rasa: rasa diwakili, rasa terancam, rasa marah, atau rasa berharap. Ketika fakta-fakta yang mengganggu muncul—janji yang tak ditepati, kasus hukum, kontradiksi pernyataan—reaksinya beragam. Ada yang menyangkal, ada yang membenarkan, ada yang berkata “semua juga sama”, ada pula yang perlahan menjauh tanpa mengumumkan perubahan sikapnya.
Menariknya, propaganda modern tidak selalu bekerja dengan memaksa orang menggandakan keyakinan. Ia sering cukup menjaga agar orang tidak terlalu lama tinggal bersama kegelisahan. Dengan banjir isu baru, humor politik, atau konflik identitas, disonansi dialihkan, bukan diselesaikan. Orang tidak harus percaya sepenuhnya; cukup tetap berada di kubu yang sama.
Media sosial memperkeras semua ini. Algoritma tidak menuntut konsistensi intelektual, hanya konsistensi atensi. Ia memberi kita potongan dunia yang selaras dengan emosi kita hari itu. Jika kita marah, ia memberi alasan untuk marah. Jika kita takut, ia memberi ancaman baru. Jika kita yakin, ia memberi pembenaran. Dalam ruang seperti ini, disonansi tidak selalu diselesaikan dengan mengubah keyakinan, tetapi sering kali dengan mengganti konteks.
Di kehidupan sehari-hari, kita bisa melihatnya dalam hal-hal kecil. Seorang teman yang dulu sangat vokal membela tokoh tertentu kini jarang membicarakannya, tanpa pernah mengakui perubahan sikap. Seorang kerabat yang dulu rajin menyebarkan ceramah kini lebih sering membagikan kutipan umum tentang “ikhlas”. Bukan berarti mereka tidak mengalami ketegangan batin. Mungkin justru sebaliknya: mereka sedang mencari cara yang lebih tenang untuk hidup bersama ketidaksesuaian.
Temuan baru tentang keterbatasan teori disonansi kognitif mengajarkan satu hal penting: manusia bukan mesin yang selalu membela keyakinannya secara agresif. Kita juga makhluk yang pandai mengendapkan, melupakan, mengalihkan, dan hidup dengan kontradiksi yang belum selesai. Dan mungkin di situlah kemanusiaan kita.
Festinger sendiri pernah memperingatkan agar konsep disonansi tidak dipakai untuk menjelaskan segalanya. Jika semua perilaku bisa disebut “reduksi disonansi”, maka konsep itu kehilangan daya jelaskannya. Peringatan ini relevan hari ini, ketika istilah psikologi sering dipakai sebagai senjata moral untuk merendahkan orang lain: mereka dianggap irasional, sementara kita merasa sudah paham mekanismenya.
Padahal, mungkin yang lebih jujur adalah mengakui bahwa kita semua sedang meraba-raba. Kita semua, dalam kadar tertentu, adalah makhluk yang merasionalisasi. Kita mencari cerita yang membuat hidup terasa0 masuk akal, meski cerita itu sementara dan rapuh. Dalam iman, politik, dan media sosial, kebijaksanaan mungkinp bukan terletak pada seberapa cepat kita menutup kegelisahan, tetapi pada kesediaan untuk hidup lebih lama di dalamnya—tanpa harus segera menang, membalas, atau membenarkan diri.
Ketika dunia tidak sesuai dengan perasaan kita, pilihan paling manusiawi bukan selalu membengkokkan dunia atau menyingkirkan perasaan. Kadang, pilihan itu adalah duduk sejenak di antara keduanya, dan mengakui: aku belum sepenuhnya mengerti, tapi aku masih mau belajar.
Tulisan ini adalah “tafsiran” dari tulisan di majalah New Yorker “Is Cognitive Dissonance Actually a Thing?” ,oleh Shayla Love, tanggal 17 Desember 2025.


