Relung

Tentang Keteladanan dan Sendi Moral 

Ibnu Khaldun ilmuwan Islam yang terkenal pernah mengatakan, “Al-qaumu ala dini mulukihim.”  Agama rakyat mengikut agama rajanya . Makna dari ucapan ibnu Khaldun di atas ialah rakyat mencontoh segala tingkah laku dari pemimpinnya.

Sehubungan dengan itu, menurut hikayat, pada zaman pemerintah dinasti Khalifah Muawiyah, pernah satu masa seorang khalifah yang berkuasa amat gemar memakai busana mode terakhir.  Setiap kali muncul di hadapan majelis-majelis resmi, dia tampil dengan busana mode yang paling baru, baik potongan maupun bahannya yang serba wah.

Akibat gemar bergaya itu, para menteri dan orang-orang lingkungan istana pun ketularan mengikut tingkah laku raja, sampat pada rakyat lapisan bawah. Kendati tidak semua orang bisa memakai busana baru setiap hari, setiap orang terbawa punya hobi yang sama dengan rajanya.Perhatian orang hanyalah pada mode paling baru kemudian meniru apa yang dipakai rajanya. Konon setelah khalifah itu turun takhta, mungkin dia mangkat, penggantinya punya kegemaran lain. Pesta pora dan makanan yang serba enak, tak ketinggalan tari-tarian ala dongeng istana zaman 1001 malam. Kegemaran raja itu pun ditiru oleh rakyat, di mana-mana orang berpesta pora dan makan besar, kalau tak mampu, cukup dalam mimpi atau mengobrol di warung-warung tentang makanan paling enak yang dinikmati raja-raja di istana. 

Beberapa waktu setelah itu, muncullah seorang khalifah yang amat sholeh, namanya Umar bin Abdul Aziz. Sayang khalifah ini memerintah dalam waktu yang amat singkat, hanya 3 tahun. Tapi kesan dari kesalehannya menjadi teladan sampai beberapa abad kemudian. Dia terkenal karena keadilannya, memiliki rasa kasih sayang terhadap rakyat terutama orang miskin dan hidup sederhana meniru Rasulullah dan Khalifah Yang Empat atau Khulafaur Rasyidin, yang juga digelari Amirul Mukminin. Tidak mementingkan keluarga, bahkan anak-anaknya yang pernah hidup mewah, sebelum dia menjadi Khalifah dipaksa hidup sederhana untuk menjadi teladan bagi rakyat. 

Suatu ketika beberapa kerabat khalifah datang menghadap beliau menuntut hak-hak dan fasilitas istimewa hanya karena hubungan kekerabatan itu. Kepada mereka Umar berkata: “Bagi kaum kerabatku, memang ada kehormatan dan kemuliaan. Tapi tidak dalam urusan pembagian rezeki. Sekali-kali saya tidak akan memberikan hak dan fasilitas kepada sanak famili yang diambil dari haknya masyarakat banyak. “ Salah satu dari kebiasaan Khalifah Umar ialah salat tahajud setiap malam. Kebiasaan ttu ditiru oleh para menten, pembesar sampai pada rakyat jelata. 

Tidak seperti pada masa dua khalifah yang terdahulu, di mana-mana orang berbicara soal agama dan kenikmatan salat tahajud yang dilakukannya di waktu malam. “Berapa rakaat. Anda salat tadi malam?” demikian orang saling bertanya dalam setiap pertemuan. Lebih jauh pada zaman Umar ini pula mulai berkembang berbagai-bagai cabang ilmu dan peradaban Islam. 

Baik Umar maupun dua khalifah sebelumnya sesungguhnya jarang sekali menganjurkan orang supaya meniru kegemaran mereka. Apalagi menjadikan kegemaran berbusana, pesta pora atau salat tahajud itu sebagai program nasional. Para pembesar dan rakyat yang mengikuti kegemaran itu hanyalah karena mencontoh belaka hobi pemimpinnya, maklum di kala itu sifat paternalistik rakyat masih kuat. Karena paternalistik dan kebiasaan rakyat suka meniru itulah, Ibnu Khaldun mengatakan, “Agama rakyat mengikut agama rajanya.”

Moral dari kisah para khalifah di atas ialah tentang perlunya keteladanan yang baik dari setiap pemimpin ter hadap rakyatnya. Kita di Indonesia yang hidup dalam abad sekarang belum kunjung lepas dari sistemkemasyarakatan yang paternalistik, di mana keteladanan pemimpin sangat menentukan dalam pembinaan mofal dan tingkah laku rakyat lapisan bawah. 

Akan tetapi justeru pada saat ini pula kita merasakan terjadinya krisis keteladanan dari kalangan pemimpin terhadap rakyatnya. Krisis keteladanan ditandai dengan sikap mumpung dari orang-orang yang bernama pemimpin, yang memuaskan diri sendiri, tanpa memedulikannasib mayoritas orang yang sengsara. 

Istana-istana model sultan zaman 1001 malam yang megah dan mewah, (lengkap dengan koleksi kendaraan mewah, red) bermunculan. Sementara di sekitarnya bertebaran gubuk-gubuk kumuh rakyat menanti saat untuk digusur. Dampak krisis keteladanan niscaya terasa pada moral kalangan bawah. Mereka yang hidup pas-pasan sebagai buruh harian atau petani penggarap di desa, terdorong mengikuti gaya hidup hedonisme yang dipraktikkan orang di atas.

Konsumerisme, hilangnya kreativitas adalah akibat dari krisis keteladanan pemimpin itu. Lebih jauh mereka menempuh jalan pintas dengan melabrak semua norma-norma moral, dengan jalan mengadu untung di meja-meja judi, merampok, untuk segera mencicipi apa yang tak mungkin dicapai oleh orang kecil. Mereka silau melihat kemerlapnyagedung-gedung mewah dan kesenangan para penghuninya yang nampakdari luar.

Keadaan itulah yang mengakibatkan tak terbendungnya arus urbanisasi yang membuat meningkatnya pengangguran dan kriminalitas di kota-kota. 

Menghadapi keprihatinan perekonomian saat ini, perkembangan moral masyarakat yang semakin merosot jelas memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari segenap kalangan terutama yang tergolong pemimpin di negeri ini. “Setiap kita adalah pemimpin yang diminta pertanggungjawabannya   oleh rakyat yang dipimpin,” kata Nabi. Artinya setiap kita wajib menjadi teladan dari siapa yang kita pimpin. Orangtuamenjadi teladan anak-anaknya, guru dari muridnya, pak lurah, camat sampai pada para menteri dan kepala negara. Itulah yang bisa menyelamatkan moral bangsa dari kehancurannya. Oleh sebab itu untuk menghidupkan kembali moral sebagai sendi tegaknya suatu bangsa, para pemimpin, termasuk kaum agama yang menjadi panutan rakyat diharapkan terpanggil mengamalkan rasa keagamaan itu, seperti yang dipraktikkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. 

Penulis:  Rusjdi Hamka (1935-2014), ulama. Wartawan dan politikus, Pernah  memimpin majalah Panji Masyarakat, menjadi anggota DPR RI, dan anggota PP Muhammadiyah. 
Editor: A. Suryana Sudrajat
Sumber: Panji Masyarakat, No 536, 11 April 1987

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button