(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”(Q.S.Ibrahim 7).
Kisah Raja Midas adalah legenda dari mitologi Yunani tentang seorang raja kaya yang meminta anugerah “sentuhan emas”, namun berujung pada penyesalan dan petaka ketika makanan serta putrinya ikut berubah menjadi emas. Hikmah utama dari kisah Raja Midas adalah keserakahan membawa kehancuran, kekayaan materi tidak menjamin kebahagiaan, dan hal-hal hidup yang sederhana jauh lebih berharga daripada emas.
Konon, Raja Midas adalah orang paling beruntung di zamannya. Ia memperoleh hadiah yang diidamkan banyak orang: apa pun yang disentuhnya berubah menjadi emas. Bagi sebagian orang zaman sekarang, itu mungkin terdengar seperti fitur premium yang lebih canggih daripada aplikasi investasi mana pun.
Sayangnya, kebahagiaan Raja Midas hanya bertahan seumur jagung. Roti berubah menjadi emas. Air berubah menjadi emas. Bahkan putri yang dipeluknya pun menjelma menjadi patung emas. Saat itulah Midas sadar bahwa emas memang berkilau, tetapi tidak bisa dimakan, tidak bisa dipeluk, dan tentu saja tidak bisa membalas pelukan.
Ironisnya, kisah kuno itu terasa semakin modern.
Hari ini, “sentuhan emas” hadir dalam bentuk yang berbeda. Apa pun ingin dimonetisasi. Persahabatan dijadikan jaringan bisnis. Hobi dijadikan konten. Waktu bersama keluarga diubah menjadi materi media sosial. Bahkan secangkir kopi pun kadang lebih sibuk difoto daripada diminum.
Seolah-olah, hidup baru dianggap berhasil jika menghasilkan cuan.
Padahal, tidak semua hal harus bernilai rupiah agar bernilai.
Kita hidup di zaman ketika seseorang rela kehilangan waktu tidur demi mengejar angka di rekening, tetapi kehilangan waktu berbincang dengan orang tuanya dianggap hal biasa. Kita berlomba membeli rumah yang lebih besar, tetapi semakin jarang benar-benar pulang. Kita mengejar jabatan setinggi langit, tetapi lupa menyapa tetangga yang tinggal hanya beberapa meter dari rumah.
Lucunya, manusia modern sering mengeluh tidak punya waktu. Padahal, laporan penggunaan gawai menunjukkan kita sanggup menghabiskan berjam-jam menggulir layar tanpa tujuan yang jelas. Waktu ternyata ada, hanya prioritasnya yang tersesat.
Keserakahan memang pandai menyamar.
Ia tidak selalu datang membawa karung uang. Kadang ia hadir sebagai ambisi yang tampak mulia, sebagai keinginan untuk “sekadar sedikit lagi”, atau sebagai kalimat yang terdengar bijak: “Nanti kalau sudah cukup mapan, baru saya menikmati hidup.”
Masalahnya, kata “cukup” sering kali pindah garis finis setiap kali kita mendekatinya.
Midas tidak gagal karena mencintai emas. Ia gagal karena menganggap emas adalah jawaban bagi semua persoalan. Di situlah letak satir kehidupan. Banyak orang mengira kebahagiaan berada satu kenaikan gaji lagi, satu mobil lagi, satu rumah lagi, atau satu jabatan lagi. Setelah semuanya diperoleh, ternyata hati masih meminta “lagi”.
Keserakahan tidak pernah mengenal kata pensiun.
Yang lebih menggelikan, ada orang yang begitu sibuk mengumpulkan harta sampai lupa menikmati hasil jerih payahnya. Ia bekerja siang malam demi masa depan, tetapi ketika masa depan datang, kesehatannya sudah pergi lebih dahulu. Tabungannya penuh, jadwal kontrol kesehatannya juga penuh.
Barangkali dokterlah yang akhirnya paling sering menikmati hasil kerja kerasnya.
Namun, kisah Midas bukan sekadar cerita tentang hukuman. Ia adalah kisah tentang kesadaran.
Ketika semua berubah menjadi emas, Midas akhirnya mengerti bahwa nilai sejati kehidupan justru terletak pada hal-hal yang tidak bisa diubah menjadi emas: tawa anak, pelukan keluarga, sepotong roti hangat, segelas air, sahabat yang tulus, kesehatan, dan hati yang tenang.
Itulah kekayaan yang tidak pernah tercatat di laporan keuangan, tetapi menentukan kualitas hidup seseorang.
Bersyukur bukan berarti berhenti bekerja keras. Bersyukur adalah mengetahui kapan harus berkata, “Ini sudah cukup.” Ambisi boleh tinggi, tetapi jangan sampai menggadaikan hati. Rezeki boleh dicari, tetapi jangan sampai keluarga hanya menjadi foto di dompet dan nama di daftar kontak.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan siapa yang meninggalkan emas paling banyak, melainkan siapa yang meninggalkan jejak kebaikan paling dalam.
Raja Midas mengajarkan bahwa manusia bisa mati karena terlalu banyak emas, tetapi tidak pernah ada orang yang celaka karena terlalu banyak rasa syukur.
Maka, sebelum kita meminta “sentuhan emas” dalam hidup, mungkin ada baiknya kita bertanya lebih dulu: jika semua berubah menjadi emas, masih adakah yang tersisa untuk benar-benar kita cintai?
Sebab, sering kali yang paling berharga dalam hidup bukanlah sesuatu yang berkilau, melainkan sesuatu yang tetap hidup.
“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051) ***
Tentang Penulis
Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten. Menempuh pendidikan di FEUI Jakarta (1983). Ilmu Hukum di STIH Iblam Jakarta (2000). Alumnus Madrasah Ibtidaiyah Al Hadid komplek Krakatau Steel Cilegon Banten (1976) dan pernah nyantri di sebuah Ponpes di Tasikmalaya, Jawa Barat (1979) serta mengaji Kepada Ustadz Kampung di seputaran Banten dan Kepada beberapa Kiai Sepuh MU dan NU di Cilegon, Jakarta, Tasikmalaya, Sukabumi dan Surabaya.


