Kisah itu sangat berguna sebab darinya kita dapat memperoleh hikmah, pelajaran, atau peringatan. Misalnya, ada satu kisah tatkala Nabi Muhammad s.a.w. menghadapi satu kerajaan yang walaupun relatif kecil, tetapi berat menantang. Perhitungan dari segi militer, kerajaan itu dapat dilumpuhkan dalam satu hari apabila diberikan pukulan yang menentukan, Saat itu, para panglima perang Rasul umumnya menghendaki agar kerajaan itu diserang saja karena jika dalam waktu bermunggu-minggu dikepung saja, sementara perintah Rasul untuk menyerang belum juga datang, itu akan sangat menguras energi.
https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&us_privacy=1—&gpp_sid=-1&client=ca-pub-6975646565507985&output=html&h=280&adk=1034262788&adf=723238378&w=600&abgtt=6&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1736810379&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=6424621173&ad_type=text_image&format=600×280&url=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2F2024%2F09%2F13%2Fbagainana-nabi-meredam-konflik%2F&fwr=0&pra=3&rh=150&rw=600&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMC4wIiwieDg2IiwiIiwiMTMxLjAuNjc3OC4yMDUiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siR29vZ2xlIENocm9tZSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJOb3RfQSBCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl1dLDBd&dt=1736810378826&bpp=4&bdt=1254&idt=-M&shv=r20250109&mjsv=m202501090101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D9c3493f4247f26dc%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MaX8JqtACDibKwh0M9lG65lwWbxQw&gpic=UID%3D00000f5e841bcd04%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MYHgiV2NGjThtXl2g-kHZBhDQl_Aw&eo_id_str=ID%3Db829a250c1d1ed39%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DAA-AfjZDlyLQch3Y-p_fSNO2qbbE&prev_fmts=0x0%2C1200x280&nras=3&correlator=2491159971564&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=25&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1040&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&dmc=8&adx=487&ady=1924&biw=1903&bih=953&scr_x=0&scr_y=259&eid=95330276%2C95344787%2C95350246%2C95347432%2C95348348&oid=2&pvsid=3861785248616363&tmod=1711068816&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2Fadab-rasul%2F&fc=1408&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1920%2C0%2C1920%2C1040%2C1920%2C953&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&ifi=4&uci=a!4&btvi=1&fsb=1&dtd=411
Apa yang terjadi? Kerajaan itu makin angkuh saja karena menganggap pasukan Rasul dihinggapi perasaan takut untuk bertempur. Sang raja kemudian mengirim surat kepada Rasul, yang oleh para panglima perang dan para sahabat Rasul dianggap sebagai pelecehan dan ejekan. Karena itu, mereka tidak tahan lagi menunggu perintah Rasul untuk menyerang kerajaan itu.
Anggapan para panglima Rasul ternyata salah. Isi surat itu bukan pelecehan atau ejekan, melainkan justru sebuah kesediaan sang raja untuk berunding mengakhiri perlawanan. Sang raja bersedia berunding dengan catatan bahwa dalam perundingan itu kedudukan Rasul bukan sebagai Nabi, bukan sebagai Rasul, tetapi sebagai pribadi Muhammad. Dan Rasul pun menyepakatinya. Di sinilah kelihatan Rasulullah benar-benar bijak dalam setiap pengambilan keputusan. Beliau tidak dipengaruhi oleh emosi yang sedang melanda para panglima perangnya, yang menginginkan agar kerajaan itu dipukul saja. Apalagi ditambah dengan permintaan yang diajukan raja itu. Nabi rupanya tahu betul apa yang akan terjadi. Beliau mengatakan kepada para panglimanya, jangan kita pukul karena kita hanya membutuhkan sedikit waktu lagi, maka kerajaan itu akan bergabung dengan kita.
Nabi mengingatkan, dalam menghadapi mereka, hendaklah kita tidak menganggapnya sebagai musuh, tetapi golongan yang belum memahami misi kita. Meskipun kekuatan mereka kecil dan kita bisa menaklukkan dalam waktu beberapa saat saja, kita tidak boleh menempuh cara kekerasan. Sebab meskipun kita dapat menaklukkan, tetapi korban akan banyak berjatuhan sehingga sama attinya kita tidak memenangkan peperangan. Kalau kita bisa menyelamatkan mereka dan sekaligus mereka mengikuti misi kita, itulah tanda keberhasilan perjuangan kita.
https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&us_privacy=1—&gpp_sid=-1&client=ca-pub-6975646565507985&output=html&h=280&adk=1034262788&adf=2462188464&w=600&abgtt=6&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1736810379&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=6424621173&ad_type=text_image&format=600×280&url=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2F2024%2F09%2F13%2Fbagainana-nabi-meredam-konflik%2F&fwr=0&pra=3&rh=150&rw=600&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMC4wIiwieDg2IiwiIiwiMTMxLjAuNjc3OC4yMDUiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siR29vZ2xlIENocm9tZSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJOb3RfQSBCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl1dLDBd&dt=1736810378826&bpp=2&bdt=1254&idt=-M&shv=r20250109&mjsv=m202501090101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D9c3493f4247f26dc%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MaX8JqtACDibKwh0M9lG65lwWbxQw&gpic=UID%3D00000f5e841bcd04%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MYHgiV2NGjThtXl2g-kHZBhDQl_Aw&eo_id_str=ID%3Db829a250c1d1ed39%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DAA-AfjZDlyLQch3Y-p_fSNO2qbbE&prev_fmts=0x0%2C1200x280%2C600x280&nras=4&correlator=2491159971564&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=25&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1040&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&dmc=8&adx=487&ady=2924&biw=1903&bih=953&scr_x=0&scr_y=259&eid=95330276%2C95344787%2C95350246%2C95347432%2C95348348&oid=2&pvsid=3861785248616363&tmod=1711068816&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2Fadab-rasul%2F&fc=1408&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1920%2C0%2C1920%2C1040%2C1920%2C953&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&ifi=5&uci=a!5&btvi=2&fsb=1&dtd=467
Maka dikirimlah surat kepada raja tersebut yang ditandatangani oleh Muhammad dalam kedudukan bukan sebagai Nabi atau Rasul, tetapi sebagai pribadi biasa. Segera setelah surat itu dibaca, raja langsung gemetar dan menangis karena menyadari bahwa permintaannya supaya ia berbicara dengan Muhammad bukan sebagai Nabi adalah perbuatan yang terkutuk sebab sejak semula ia mengetahui bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul.
Berserulah sang raja kepada seluruh pasukannya, mari kita menghentikan perlawanan karena yang kita hadapi adalah seorang yang sangat bijak, Buktinya, meski sesun puhnya ia mampu mengalahkan kita, tetapi itu tidak Dilakukannya, malah mengajak kita bergabung dengannya demi keselamatan kita. Karena itu, berakhirlah perlawanan raja. Raja beserta pasukannya bergabung dengan Nabi seraya memohon maaf atas segala kelarican annya dan bersyahadat menjadi muslim.
Kisah ini membuktikan, betapa kearifan merupakan langkah yang sangat efektif, Konflik yang hampir menimbulkan pertumpahan darah dapat diakhiri dengan pendekatan persuasif tanpa korban seorang pun dan tanpa kerusakan harta benda. Di sini pula dapat dipetik hik mah bahwa hendaklah dalam menghadapi golongan kecil kita tidak menggunakan kekerasan, tetapi mengajak mereka dengan bijak dan jujur sehingga dapat diakhiri perlawanannya tanpa mengakibatkan korban.
https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&us_privacy=1—&gpp_sid=-1&client=ca-pub-6975646565507985&output=html&h=280&adk=1034262788&adf=3773035170&w=600&abgtt=6&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1736810379&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=6424621173&ad_type=text_image&format=600×280&url=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2F2024%2F09%2F13%2Fbagainana-nabi-meredam-konflik%2F&fwr=0&pra=3&rh=150&rw=600&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMC4wIiwieDg2IiwiIiwiMTMxLjAuNjc3OC4yMDUiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siR29vZ2xlIENocm9tZSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJOb3RfQSBCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl1dLDBd&dt=1736810378826&bpp=2&bdt=1255&idt=2&shv=r20250109&mjsv=m202501090101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D9c3493f4247f26dc%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MaX8JqtACDibKwh0M9lG65lwWbxQw&gpic=UID%3D00000f5e841bcd04%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MYHgiV2NGjThtXl2g-kHZBhDQl_Aw&eo_id_str=ID%3Db829a250c1d1ed39%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DAA-AfjZDlyLQch3Y-p_fSNO2qbbE&prev_fmts=0x0%2C1200x280%2C600x280%2C600x280%2C300x600%2C300x600%2C300x600&nras=8&correlator=2491159971564&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=25&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1040&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&dmc=8&adx=487&ady=3819&biw=1903&bih=953&scr_x=0&scr_y=259&eid=95330276%2C95344787%2C95350246%2C95347432%2C95348348&oid=2&pvsid=3861785248616363&tmod=1711068816&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2Fadab-rasul%2F&fc=1408&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1920%2C0%2C1920%2C1040%2C1920%2C953&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&ifi=6&uci=a!6&btvi=6&fsb=1&dtd=535
Melihat keadaan dunia maupun kondisi setiap negara dewasa ini yang penuh dengan gejolak sosial yang kadang-kadang menimbulkan sengketa (konflik), kisah itu tetap perlu dijadikan pelajaran dalam mengatasi konflik sosial. Sungguh merupakan rahmat kalau kisah ini selalu diingat oleh setiap pemimpin, mulai dari tingkat bawah sampai ke tingkat atas. Sebab di setiap lingkungan sosial mana pun tidak akan pernah bersih dari gejolak sosial betapapun kecilnya. Hendaknya diingat bahwa konflik sosial, apabila berkepanjangan bisa membesar. Akibatnya pun akan besar pula.
Masalahnya ialah sering yang terlibat dalam konflik, masing-masing mempertahankan pendiriannya, tidak mau bermusyawarah. Ada kalanya sesungguhnya tidak ada konflik, yang ada hanyalah kesalahpahaman antara pihak-pihak yang bersengketa itu. Karena masingmasing pihak sudah dikuasai oleh emosi dan merasa hanya dirinyalah yang benar, apalagi kalau dikipasi pihak ketiga, maka terjadilah konflik fisik.
Oleh karena itu, cara yang terbaik ditempuh dalam menghadapi masalah ini ialah memupuk saling percaya dan langsung mengadakan dialog tanpa perantara. Perantara memang perlu, tktapi kita harus berhati-hati sebab apabila perantara itu tidak beritikad baik atau memihak kepada salah satu pihak, maka tidak akan mungkin kita dapat memberikan saran-saran penyelesaian yang objektif. Yang terbaik ialah kita berdialog langsung dan ketika kita tetap sulit menemukan pemecahan, barulah kita mengundang perantara yang jujur.
https://googleads.g.doubleclick.net/pagead/ads?gdpr=0&us_privacy=1—&gpp_sid=-1&client=ca-pub-6975646565507985&output=html&h=280&adk=1034262788&adf=1843793086&w=600&abgtt=6&fwrn=4&fwrnh=100&lmt=1736810379&num_ads=1&rafmt=1&armr=3&sem=mc&pwprc=6424621173&ad_type=text_image&format=600×280&url=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2F2024%2F09%2F13%2Fbagainana-nabi-meredam-konflik%2F&fwr=0&pra=3&rh=150&rw=600&rpe=1&resp_fmts=3&wgl=1&fa=27&uach=WyJXaW5kb3dzIiwiMTAuMC4wIiwieDg2IiwiIiwiMTMxLjAuNjc3OC4yMDUiLG51bGwsMCxudWxsLCI2NCIsW1siR29vZ2xlIENocm9tZSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJDaHJvbWl1bSIsIjEzMS4wLjY3NzguMjA1Il0sWyJOb3RfQSBCcmFuZCIsIjI0LjAuMC4wIl1dLDBd&dt=1736810378836&bpp=4&bdt=1264&idt=4&shv=r20250109&mjsv=m202501090101&ptt=9&saldr=aa&abxe=1&cookie=ID%3D9c3493f4247f26dc%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MaX8JqtACDibKwh0M9lG65lwWbxQw&gpic=UID%3D00000f5e841bcd04%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DALNI_MYHgiV2NGjThtXl2g-kHZBhDQl_Aw&eo_id_str=ID%3Db829a250c1d1ed39%3AT%3D1730608121%3ART%3D1736810177%3AS%3DAA-AfjZDlyLQch3Y-p_fSNO2qbbE&prev_fmts=0x0%2C1200x280%2C600x280%2C600x280%2C300x600%2C300x600%2C300x600%2C600x280%2C260x894&nras=9&correlator=2491159971564&frm=20&pv=1&u_tz=420&u_his=25&u_h=1080&u_w=1920&u_ah=1040&u_aw=1920&u_cd=24&u_sd=1&dmc=8&adx=487&ady=3927&biw=1903&bih=953&scr_x=0&scr_y=506&eid=95330276%2C95344787%2C95350246%2C95347432%2C95348348&oid=2&pvsid=3861785248616363&tmod=1711068816&uas=0&nvt=1&ref=https%3A%2F%2Fpanjimasyarakat.com%2Fadab-rasul%2F&fc=1408&brdim=0%2C0%2C0%2C0%2C1920%2C0%2C1920%2C1040%2C1920%2C953&vis=1&rsz=%7C%7Cs%7C&abl=NS&fu=128&bc=31&bz=1&td=1&tdf=2&psd=W251bGwsbnVsbCxudWxsLDNd&nt=1&ifi=7&uci=a!7&btvi=8&fsb=1&dtd=882
Namun di atas segala-galanya hendaklah lebih dahulu ditumbuhkan kesadaran dalam hati kita bahwa tujuan pokoknya adalah menyelesaikan konflik, bukan mengalahkan pihak lain. Kita tidak boleh berpendapatan bahwa karena musuh kita lemah, maka kita kalahkan saja karena mereka tidak memiliki kekuatan.
Yang perlu diingat ialah bukan karena lemahnya suatu golongan maka kita tidak perlu memperhitungkan posisinya. Yang pokok dan yang menentukan ialah ide apa yang diperjuangkan golongan tersebut. Kalau idenya baik, seyogianya kita menyambutnya dengan baik. Bahkan kalau berbeda dengan ide kita sendiri pun tidak boleh kita lantas memeranginya: Karena boleh jadi, mereka masih bersikap negatif kepada kita karena mereka belum memperoleh informasi yang benar atau belum kita ajak dengan sungguh-sungguh sehingga mereka menjauhi bahkan memusuhi kita. Sikap yang diberikan oleh Rasulullah, yang melarang menyerang kerajaan karena Rasulullah berpendapat, mereka belum memahami misi kita yang sesungguhnya, adalah teladan yang baik bagi kita.

Penulis: Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, S.H. (1935-2001). Lopa menulis artikel ini saat menjabat Rektor Universitas Islam Azzahra, Jakarta. Semasa hidupnya, Lopa pernah menempati pos Jaksa Agung RI dan Menteri Hukum dan HAM pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Pada tahun 1993-1998, mantan jaksa ini menjadi anggota Komnas HAM, lalu menempati pos sebagai Dubes RI untuk Arab Saudi.
Sumber: Panji Masyarakat. 29 Desember 1997

