Cakrawala

Bung Karno dan Pembongkaran Gedung Proklamasi Jalan Pegangsaan Timur 56

          “Mestinya Gedung Pegangsaan Timur 56 itu tidak dibongkar,” ujar Menteri Agama Prof. K.H. Saifuddin Zuhri kepada Presiden Soekarno sambil menikmati jamuan ringan minum teh sehabis upacara pencangkulan pertama pembangunan Gedung Pola pada tanggal 1 Januari 1961.

          “Mengapa?”

          “Gedung itu bekas rumah kediaman Bung Karno yang bersejarah. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan ke seluruh penjuru dunia dari gedung itu,” imbuh Saifuddin Zuhri.

“Saya tidak mau dikultus-individukan!”, ujar Bung Karno.

Kata Saifuddin Zuhri lagi, “Aku pernah melihat bekas kediaman Mao Tse Tung di Kanton tetap dipelihara komplit dengan tempat tidur bambunya. Aku juga mendengar konon bekas rumah kediaman Presiden Abraham Lincoln juga dipelihara dengan baik.”

“Aaahh…..itu tahayul politik kegemaran nasionalis kemenyan. Saya tidak suka!”, tegas Bung Karno.

Cuplikan dialog di atas diungkapkan oleh K.H. Saifuddin Zuhri dalam autobiografinya Berangkat Dari Pesantren (1987).

Solichin Salam, penulis biografi Bung Karno Putera Fajar (1966) juga pernah mengkonfirmasi hal yang sama dan dijawab Bung Karno, “Saya lebih mengutamakan tempatnya dan bukan gedungnya. Sebab, saya taksir gedung Pegangsaan Timur itu paling lama hanya tahan kira-kira 100 tahun, bahkan mungkin tidak sampai. Itu sebabnya saya suruh bongkar.”

Menurut analisa Willard A. Hanna, seorang penulis Amerika Serikat dalam buku Hikayat Jakarta (1988) bahwa pembongkaran tempat proklamasi karena Bung Karno tidak suka diingatkan kembali pada keadaan ketika menjelang proklamasi dia diculik para pemuda radikal. Karena itu gedungnya diratakan dengan tanah.

Sejarah mengabadikan, rumah Pegangsaan Timur 56 Jakarta dipilih oleh Soekarno didampingi Mohammad Hatta, pada 17 Agustus 1945, Jumat Legi, 9 Ramadan 1364 Hijriyah, pukul 10.00 pagi, sebagai tempat memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dihadapan para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan beberapa warga yang hadir. Upacara pembacaan proklamasi sangat sederhana tanpa ada protokoler. Saat itu juga dikibarkan sang saka Merah Putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati.

Bung Karno setelah membacakan teks Proklamasi mengucapkan pidato singkat, “Demikanlah Saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah-air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun negara kita: Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia. Merdeka kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu.”

Dalam buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, Jilid1 (1975) terdapat foto dan keterangan Gedung Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56, yang menjadi pusat kegiatan Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta,

Adapun untuk mengenang proklamasi yang merupakan titik kulminasi perjuangan bangsa didirikan Tugu di lokasi bersejarah itu. Tugu Proklamasi dibangun atas ide Ny. Johanna Masdani, seorang wanita pejuang dan salah satu tokoh Sumpah Pemuda 1928. Tugu Proklamasi diresmikan pada 17 Agustus 1946 oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir bertepatan dengan peringatan satu tahun Proklamasi Kemerdekaan RI.

Pada tahun 1960 Tugu Proklamasi dihancurkan atas perintah Presiden Soekarno bersamaan dengan proyek pembangunan Gedung Pola. Menyusul kemudian Bung Karno memerintahkan pembongkaran bangunan rumah proklamasi Pegangsaan Timur 56.

Bung Karno mewujudkan proyek pembangunan Gedung Pola, sekarang Gedung Perintis Kemerdekaan, tahun 1961. Selain itu atas gagasan Bung Karno didirikan Tugu Petir setinggi 17 meter. Bung Karno memastikan di lokasi itulah ia didampingi Bung Hatta membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945.

Sekitar tahun 1972 atas persetujuan Presiden Soeharto, pemerintah membangun kembali Tugu Proklamasi di lokasi yang sama sesuai dengan bentuk dan ukuran aslinya. Tugu duplikat dipasangi plakat marmer naskah proklamasi dan peta Indonesia yang berhasil diselamatkan dan disimpan oleh Ny. Johanna Masdani.

Tugu yang ada sekarang di area monumen proklamator diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1972 oleh Menteri Penerangan Budiardjo mewakili Presiden Soeharto dan dihadiri oleh Proklamator dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta. Selanjutnya pemerintah membangun monumen patung Proklamator Soekarno-Hatta yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 17 Agustus 1980.

Kemerdekaan dan kedaulatan negara Republik Indonesia bukan hadiah dari bangsa lain. Kemerdekaan dicapai atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa yang dilandasi perjuangan panjang dan pengorbanan rakyat Indonesia dengan kegigihan para pemimpin yang rela mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemuliaan bangsa.

Dirgahayu 80 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

M. Fuad Nasar

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Agama RI, Penggiat Literasi. Ia juga penulis tetap majalah Panji Masyarakat dan panjimasyarakat.com

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button