Pernahkah kita bertanya, mengapa ada orang yang bergelimang harta, tetapi hatinya gelisah? Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi mampu menjalani kehidupan dengan tenang. Mereka sama-sama menghadapi persoalan, tetapi berbeda dalam memaknainya. Sebab, kebahagiaan bukan semata-mata tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan bagaimana kita menyikapi nikmat dan menerima kenyataan hidup dengan lapang dada.
Al-Qur’an memberikan petunjuk tentang kebahagiaan melalui Surah Al-Mu’minun ayat 1–11. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang beruntung adalah mereka yang khusyuk dalam shalat, menjauhi perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kehormatan diri, memelihara amanah dan janji, serta menjaga salatnya. Pesan ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati tidak hanya diukur dari kekayaan, jabatan, atau popularitas, tetapi juga dari kualitas iman, akhlak, ibadah, dan tanggung jawab dalam kehidupan.
Lalu, bagaimana menjaga ketenangan ketika usaha gagal, harapan belum terwujud, atau kepercayaan dikhianati? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Ar-Ra‘d ayat 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Zikir bukan sekadar ucapan, melainkan upaya menghadirkan kesadaran akan kebesaran Allah, menata hati, dan menghadapi kenyataan dengan lebih jernih. Ketenangan bukan berarti bebas dari kesedihan, tetapi kemampuan menjaga harapan agar kesedihan tidak berubah menjadi keputusasaan.
Dalam Surah An-Nahl ayat 97, Allah menjanjikan hayatan thayyibah, kehidupan yang baik, kepada laki-laki maupun perempuan yang beramal saleh dalam keadaan beriman. Kehidupan yang baik tidak semata-mata ditentukan oleh kelimpahan materi, tetapi juga oleh keberkahan, ketenteraman, dan amal yang bermanfaat. Artinya, seseorang tetap dapat menemukan makna kehidupan di tengah keterbatasan selama ia menjaga iman, berusaha melakukan kebaikan, dan tidak kehilangan harapan kepada rahmat Allah.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis riwayat Muslim bahwa menakjubkan perkara seorang mukmin. Ketika memperoleh kegembiraan, ia bersyukur; ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar. Keduanya menjadi kebaikan baginya. Di sinilah kekuatan iman bekerja. Syukur mencegah keberhasilan berubah menjadi kesombongan, sedangkan sabar membantu kegagalan tidak berujung pada keputusasaan. Keduanya bukan alasan untuk pasif, melainkan bekal untuk mengevaluasi diri, memperbaiki ikhtiar, dan terus melangkah menghadapi kehidupan.
Dalam pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, kebahagiaan hati berkaitan erat dengan tiga perkara: syukur, sabar, dan taubat. Syukur mengajarkan kita mengenali nikmat dan menggunakannya dalam kebaikan. Sabar melatih kita menghadapi ujian tanpa melampaui batas. Taubat mengingatkan bahwa manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali kepada Allah. Ketiganya membentuk perjalanan batin yang utuh: syukur menjaga kita dari keinginan tanpa akhir, sabar menguatkan kita ketika kenyataan tidak sesuai harapan, dan taubat menjauhkan kita dari kesombongan merasa selalu benar.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukan berarti seluruh keinginan terpenuhi atau semua persoalan lenyap. Kebahagiaan adalah kemampuan menjalani kehidupan dengan iman, berbuat baik ketika memiliki kesempatan, dan tetap berharap di tengah kesulitan. Kita boleh mengejar kekayaan, membangun karier, dan memperjuangkan masa depan. Namun, jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita kehilangan ketenangan, merusak hubungan dengan sesama, atau melupakan tujuan hidup. Sebab, ada orang yang memiliki segalanya, tetapi kehilangan ketenteraman; ada pula yang hidup sederhana, tetapi mampu menemukan makna dan rasa syukur dalam setiap langkahnya.
Maka, jangan hanya bertanya, “Seberapa banyak yang sudah saya miliki?” Tanyakan pula, “Seberapa besar rasa syukur saya, seberapa kuat kesabaran saya, dan seberapa tulus saya memperbaiki diri?” Pertanyaan ini mengajak kita melihat ke dalam diri, bukan sekadar membandingkan kehidupan dengan orang lain. Kebahagiaan sejati tidak selalu hadir ketika keadaan berubah sesuai keinginan, tetapi dapat tumbuh ketika hati belajar menerima, berusaha, dan berserah diri tanpa meninggalkan tanggung jawab. Pada akhirnya, yang terpenting bukan sekadar pencapaian duniawi, melainkan bagaimana kita menjalani kehidupan dengan iman dan akhlak yang baik.
Kebahagiaan sejati bukan tentang memiliki segala yang kita inginkan, melainkan menjaga iman ketika memperoleh nikmat, mempertahankan kesabaran ketika menghadapi ujian, dan merendahkan hati untuk kembali kepada Allah ketika melakukan kesalahan.**
Referensi
- Al-Qur’an, Surah Al-Mu’minun ayat 1–11, Ar-Ra‘d ayat 28, dan An-Nahl ayat 97.
- Shahih Muslim, hadis tentang keadaan seorang mukmin ketika memperoleh kesenangan dan ditimpa kesusahan.
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Wabil ash-Shayyib, serta pembahasan tentang syukur, sabar, dan taubat dalam karya-karyanya.
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

