Ada sebuah fenomena aneh dalam kehidupan politik: gedung parlemen semakin megah, partai politik semakin banyak, media semakin ramai, dan media sosial tidak pernah tidur. Tetapi di tengah keramaian itu, justru terasa semakin sedikit ruang bagi gagasan yang benar-benar serius. Inilah yang secara metaforis dapat disebut homeless intellectual discourse—tunawisma diskursus intelektual. Bukan berarti tidak ada orang pintar. Bukan pula berarti tidak ada akademisi atau intelektual. Masalahnya adalah gagasan intelektual seolah kehilangan rumah untuk hidup dan memengaruhi keputusan publik.
Politik akhirnya lebih sibuk mengurus siapa mendapatkan posisi daripada membicarakan untuk apa posisi itu digunakan. Perdebatan mengenai masa depan bangsa sering kalah menarik dibandingkan drama politik, sensasi, konflik personal, dan pernyataan yang sengaja dibuat untuk menjadi viral. Gagasan yang seharusnya menjadi bahan bakar politik perlahan digantikan oleh gimik politik. Akibatnya, masyarakat melihat politik bukan sebagai arena pertarungan gagasan, melainkan sebagai panggung perebutan pengaruh, popularitas, dan kekuasaan.
Partai politik seharusnya menjadi rumah bagi ideologi, pemikiran, dan desain kebijakan. Parlemen seharusnya menjadi tempat bertemunya argumentasi yang berbasis data. Pemerintahan seharusnya menjadi ruang menerjemahkan gagasan menjadi kebijakan nyata. Tetapi ketika institusi-institusi tersebut lebih sibuk dengan kalkulasi kekuasaan, gagasan kritis dapat kehilangan tempat berpijak. Intelektual boleh saja hadir, tetapi gagasannya belum tentu menjadi bagian penting dari proses pengambilan keputusan.
Akhirnya, intelektual berbicara di luar pagar. Mereka menulis artikel, membuat podcast, berdiskusi di kampus, tampil di kanal YouTube, berdebat di media sosial, atau berbicara dalam forum-forum kecil. Gagasannya tetap hidup, tetapi tidak selalu memiliki pintu masuk menuju ruang pengambilan keputusan. Di satu sisi, masyarakat memperoleh semakin banyak ruang untuk berbicara. Namun di sisi lain, suara yang paling keras belum tentu membawa gagasan yang paling dalam. Di sinilah paradoks ruang publik modern mulai terlihat.
Ruang publik kemudian lebih mudah dikuasai oleh narasi yang paling cepat viral, bukan oleh argumentasi yang paling kuat. Yang pendek mengalahkan yang mendalam. Yang emosional mengalahkan yang rasional. Yang kontroversial mengalahkan yang argumentatif. Masyarakat akhirnya dibanjiri informasi, tetapi kekurangan pemikiran. Kita mempunyai banyak suara, tetapi belum tentu mempunyai banyak gagasan. Kita mempunyai banyak perdebatan, tetapi belum tentu mempunyai dialog yang benar-benar memperkaya kehidupan demokrasi.
Di sinilah bahayanya homeless intellectual discourse. Ketika gagasan kehilangan rumah, politik dapat berubah menjadi sekadar permainan kekuasaan. Ketika kekuasaan kehilangan gagasan, kebijakan mudah berubah menjadi keputusan jangka pendek yang hanya mengejar popularitas. Politik akhirnya berjalan mengikuti survei, tren media sosial, dan kalkulasi elektoral. Sementara persoalan mendasar seperti pendidikan, ekonomi, hukum, teknologi, ketimpangan, dan masa depan generasi muda justru membutuhkan pemikiran panjang yang sering tidak menarik secara elektoral.
Bangsa yang sehat bukan bangsa yang tidak memiliki konflik pemikiran. Justru sebaliknya, bangsa yang sehat membutuhkan perdebatan intelektual yang keras, terbuka, dan berbasis argumentasi. Demokrasi tidak boleh hanya menjadi mekanisme untuk menghitung berapa banyak suara yang diperoleh seseorang. Demokrasi juga harus menjadi ruang untuk menguji gagasan, mempertanggungjawabkan kebijakan, dan memperdebatkan arah masa depan bangsa. Tanpa tradisi intelektual, demokrasi mudah berubah menjadi kompetisi popularitas.
Sebab demokrasi bukan sekadar menghitung berapa banyak suara yang diperoleh. Demokrasi juga harus mampu menjawab satu pertanyaan penting: Apa gagasan yang akan kita perjuangkan setelah suara itu diperoleh?. Jika pertanyaan tersebut tidak lagi penting, mungkin persoalan kita bukan kekurangan orang pintar. Persoalannya adalah gagasan-gagasan pintar itu sedang menjadi tunawisma di rumah politiknya sendiri. Dan ketika gagasan tidak memiliki rumah, jangan heran jika politik akhirnya hanya memiliki panggung—tetapi kehilangan arah.
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
