Cakrawala

Miskin Sampai Mati: Ketika Kemiskinan Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Perangkap Struktural

Ada orang yang miskin karena pilihan, tetapi ada pula yang miskin karena keadaan yang sejak awal tidak memberinya banyak pilihan. Ia lahir di keluarga miskin, tumbuh dalam keterbatasan, memperoleh pendidikan seadanya, lalu memasuki dunia kerja dengan keterampilan dan penghasilan rendah. Karena pendapatan kecil, ia sulit menabung atau membangun aset. Ketika memiliki anak, kondisi serupa berpotensi terulang. Kemiskinan akhirnya bukan sekadar keadaan ekonomi, tetapi lingkaran yang sulit diputus.

Inilah kemiskinan struktural. Orang miskin tidak selalu malas. Banyak yang justru bekerja sangat keras, tetapi berada di sektor informal dengan pendapatan rendah, tanpa kepastian penghasilan, perlindungan sosial, atau kemampuan menabung. Mereka bekerja hari ini agar bisa makan hari ini, lalu harus bekerja lagi untuk kebutuhan besok.

Ketika penghasilan hanya cukup untuk bertahan hidup, hampir tidak ada ruang untuk investasi pendidikan, kesehatan, keterampilan, modal usaha, atau aset produktif. Sedikit saja terjadi guncangan—sakit, kehilangan pekerjaan, kecelakaan, kenaikan harga pangan, atau kebutuhan mendadak—kondisi ekonomi yang rapuh dapat langsung runtuh.

Kemiskinan absolut bukan sekadar tidak mampu membeli rumah bagus atau menikmati gaya hidup tertentu, melainkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, air bersih, sanitasi, kesehatan, dan pendidikan. Orang dalam kondisi ini tidak sedang memilih antara ingin kaya atau tidak. Ia sedang berjuang agar besok masih bisa makan.

Karena itu, mengatakan kepada orang miskin, “Bekerjalah lebih keras,” sering kali terlalu sederhana. Banyak orang miskin sudah bekerja lebih lama daripada mereka yang hidup berkecukupan. Persoalannya bukan semata kemauan bekerja, tetapi juga produktivitas, pendidikan, keterampilan, akses modal, kepemilikan aset, posisi tawar, kesempatan kerja, serta struktur ekonomi yang menentukan nilai dari kerja keras seseorang.

Buruh harian dapat bekerja sepuluh jam sehari tanpa pernah mampu memiliki rumah. Petani bekerja sepanjang musim tetapi tetap terlilit utang karena harga hasil panennya tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Pedagang kecil berjualan dari pagi hingga malam, tetapi keuntungan habis untuk kebutuhan rumah tangga. Kerja keras tidak otomatis membuka jalan keluar dari kemiskinan.

Persoalan menjadi semakin berat ketika kemiskinan diwariskan kepada anak. Anak dari keluarga miskin mungkin tumbuh dengan gizi kurang, pendidikan terbatas, akses teknologi minim, dan lingkungan yang tidak banyak memberikan pilihan. Ketika dewasa, ia memasuki dunia kerja dengan modal manusia yang lebih rendah dan penghasilan kecil. Ketika memiliki anak, lingkaran yang sama berpotensi terulang.

Inilah jebakan kemiskinan: pendapatan rendah menyebabkan tabungan rendah; tabungan rendah membuat investasi rendah; investasi rendah membuat produktivitas rendah; dan produktivitas rendah kembali menghasilkan pendapatan rendah. Lingkaran itu dapat berlangsung selama puluhan tahun.

Karena itu, “miskin sampai mati” bukan sekadar ungkapan dramatis. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat menjalani seluruh hidupnya dalam kemiskinan karena tidak pernah memperoleh titik pijak yang cukup kuat untuk keluar dari lingkaran tersebut.

Negara memang tidak dapat menjamin semua orang menjadi kaya. Tetapi negara dapat memastikan bahwa kemiskinan tidak menjadi hukuman seumur hidup. Pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, perlindungan sosial, lapangan kerja produktif, akses permodalan, infrastruktur, perlindungan pekerja, serta kebijakan yang membuka mobilitas sosial merupakan bagian penting untuk memutus rantai kemiskinan.

Keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang gedung tinggi, besarnya investasi, atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah orang yang lahir miskin memiliki peluang nyata untuk tidak mati dalam kemiskinan? Jika seorang anak lahir miskin, tumbuh dengan pendidikan terbatas, lalu ketika dewasa tetap miskin karena kesempatan ekonominya sempit, persoalannya tidak cukup dijelaskan dengan moralitas individu. Ada struktur yang perlu diperbaiki.

Kemiskinan juga tidak boleh dilihat hanya dari angka statistik. Di balik angka itu ada ibu yang mengurangi makan agar anaknya kenyang, ayah yang tetap bekerja meski sakit karena tidak punya tabungan, dan anak yang berhenti sekolah bukan karena tidak ingin belajar, tetapi karena keluarganya tidak mampu.

Karena itu, kita perlu membedakan kemiskinan sebagai kondisi dan kemiskinan sebagai struktur. Kondisi terlihat dari pendapatan yang rendah, sedangkan struktur terlihat dari mengapa pendapatan itu terus rendah dan mengapa seseorang begitu sulit keluar darinya.

Bantuan sosial tetap penting untuk menyelamatkan mereka yang rentan, terutama ketika menghadapi krisis. Tetapi dalam jangka panjang, masyarakat membutuhkan “tangga” untuk naik: pendidikan yang baik, keterampilan yang relevan, pekerjaan produktif, akses modal, kepemilikan aset, dan kesempatan ekonomi.

Memberi ikan mungkin menyelamatkan seseorang hari ini. Memberi kail mungkin membantunya menangkap ikan besok. Tetapi jika sungainya dikuasai, ikannya langka, dan akses terhadap sungai ditutup, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang memiliki kail. Di situlah kita harus berbicara tentang struktur.

Pada akhirnya, kemiskinan bukan hanya soal berapa rupiah di dalam dompet. Ia juga menyangkut siapa yang memiliki kesempatan, aset, pendidikan berkualitas, akses modal, dan kekuatan untuk menentukan masa depannya sendiri.

Masyarakat yang adil bukan masyarakat tanpa orang miskin. Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang tidak membiarkan kemiskinan menjadi takdir yang diwariskan dari orang tua kepada anak, lalu dari anak kepada cucu. Kemiskinan boleh menjadi titik awal kehidupan seseorang, tetapi tidak seharusnya menjadi vonis atas seluruh hidupnya. Jangan sampai seseorang miskin sampai mati hanya karena ia dilahirkan miskin.

Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

Ruli Alqodri Mustafa

The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon Banten

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button