Dua belas Rabiulawal datang seperti angin yang membawa harum dari masa jauh. Dari lorong waktu, menggema sebuah nama yang mengalir dalam shalawat: Muhammad.
Nama itu turun perlahan, mengetuk pintu semesta, menyentuh kalbu, lalu berdiam di dalam dada orang-orang yang merindu. Bermilyar manusia mengenang sebuah kelahiran yang membuat semesta menemukan arah.
Di sebuah kota yang dikelilingi gurun, dari celah bukit Wada lahirlah seorang bayi. Tidak ada kemilau kemewahan yang mengelilinginya. Tapi langit, seakan mengetahui bahwa kasih sayang sedang diturunkan ke bumi dalam rupa seorang anak yatim yang kelak akan berjalan di antara orang-orang yang kehilangan harapan, akan menyentuh mereka, bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan kelembutan.
Dengan cintanya, budak menemukan kembali martabatnya, perempuan memperoleh kemuliaannya, orang miskin didengarkan suaranya, dan musuh masih memiliki pintu untuk dimaafkan.
Ia tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana menghadap Tuhan, tetapi juga bagaimana menghadapi sesama. Karena jalan menuju Tuhan tidak seluruhnya terbentang di atas sajadah. Ia tersembunyi pula dalam makanan yang dibagi kepada orang lapar, dalam tangan yang menuntun orang papa, dalam air mata yang diam-diam diusap, dalam lidah yang tidak melukai dsb. Muhammad adalah jalan bagi manusia yang tersesat di dalam dirinya sendiri.
Sekarang, banyak orang yang mengenangnya dengan peringatan yang begitu meriah, sampai-sampai lupa akan misi kehadirannya. Sholawat memenuhi masjid, nama Nabi disebut dengan penuh cinta, tetapi nama saudara, koyak oleh percakapan. Kita berdiri ketika kisah kelahirannya dibacakan, tetapi tidak benar-benar menteladaninya.
Nabi mencintai kejujuran, sedangkan kita masih memelihara dusta di balik senyum. Nabi mencintai kesederhanaan, sedangkan kita sibuk menghitung pangkat, harta, dan tepuk tangan. Nabi mencintai kaum lemah, sedangkan kita berlomba mendekati mereka yang berkuasa.
Kita merindukan perjumpaan dengannya di akhirat, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, justru berjalan menjauhi jejaknya. Padahal cinta padanya bukan sekadar menyebut nama yang dirindukan, tapi juga kesetiaan untuk menyerupai sifatnya.
Air tidak pernah mengaku sebagai sungai; ia hanya mengalir. Matahari tidak berpidato tentang cahaya; ia hanya menerangi. Bunga tidak mengumumkan keharumannya; ia hanya mekar, lalu membiarkan angin menyampaikan kabarnya.
Maulid adalah cermin yang diletakkan di hadapan hati. Di dalamnya, tidak ditanya seberapa meriah perayaan yang diselenggarakan, melainkan seberapa banyak, kasih sayang yang telah ditebarkan. Nabi tidak datang untuk menghadirkan suasana surga di bumi—dengan keadilan, persaudaraan, pengampunan, dan penghormatan kepada martabat manusia. Ia adalah pelita yang menunjukkan jalan ke dalam diri. Sebab kegelapan paling pekat bukanlah malam tanpa bulan, melainkan hati yang merasa dirinya paling suci.
Belajarlah dari Muhammad dalam shiddiq, tablig, amanah, fathanah. Kita memang tidak pernah melihat wajahnya, tidak pernah mendengar suaranya, tidak pernah menggenggam tangannya, atau berdiri di belakangnya ketika ia bersujud, namun, jarak berabad-abad tidak mampu memadamkan kerinduan padanya.
Dengan merdunya,
Bimbo bersenandung:
Rindu kami padamu, Ya Rasul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu, Ya Rasul
Serasa dikau di sini
Cinta kepada Rasulullah tidak mengenal kalender. Setiap sholawat adalah langkah kecil kecintaan itu.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.
Lalu, di antara shalawat dan air mata, barangkali kita perlu bertanya dalam sunyi: jika malam ini Rasulullah mengetuk pintu rumah kita, akankah beliau tersenyum melihat kehidupan yang kita jalani?
Maulid bukan hanya mengenang saat Nabi dilahirkan. Maulid adalah saat kita mencoba melahirkan kembali Nabi dalam diri—dalam kelembutan ucapan dan tangan, kejernihan pikiran, keberanian membela yang lemah, serta hati yang tidak lelah mengampuni.
Mengikuti jejak Muhammad adalah jalan sunyi menuju kedalaman cinta. Siapa pun yang istiqomah di dalam ajarannya, kelak akan berpulang husnul khatimah.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.
