“Islam Berkemajuan” adalah salah satu gagasan paling penting yang lahir dari rahim Muhammadiyah. Di tengah berbagai tantangan zaman, slogan ini menghadirkan optimisme bahwa Islam bukan agama yang terjebak masa lalu, melainkan ajaran yang mampu menjawab kebutuhan masa kini dan masa depan.
Namun, sebagaimana semua gagasan besar, Islam Berkemajuan juga tidak luput dari kritik. Dan kritik sesungguhnya bukan ancaman, melainkan vitamin bagi sebuah gerakan agar tetap hidup dan relevan.
Salah satu kritik yang sering muncul adalah kesan bahwa wacana kemajuan lebih banyak berputar di ruang seminar, kampus, dan forum intelektual. Buku-buku ditulis, diskusi digelar, dan konsep-konsep cemerlang dirumuskan. Akan tetapi, pertanyaan yang patut diajukan adalah: sejauh mana semangat itu benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat akar rumput?
Kemajuan tidak hanya diukur dari banyaknya konsep yang diproduksi, tetapi juga dari seberapa jauh konsep itu membumi. Masyarakat kecil tidak selalu membutuhkan istilah yang rumit. Mereka membutuhkan pendidikan yang mencerahkan, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, ekonomi yang memberdayakan, dan teladan yang menginspirasi. Jika gagasan kemajuan berhenti di ruang elite, maka ia berisiko menjadi menara gading yang megah tetapi jauh dari kehidupan rakyat.
Kritik lain menyentuh kata “berkemajuan” itu sendiri. Sebagian orang khawatir istilah ini secara tidak langsung menciptakan dikotomi: ada Islam yang berkemajuan dan ada Islam yang tidak berkemajuan. Padahal, sejarah Islam menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki cara masing-masing dalam memahami dan mengamalkan agama sesuai tantangan zamannya.
Tentu, maksud para penggagas Islam Berkemajuan bukanlah menghakimi kelompok lain. Namun, komunikasi sebuah gagasan sering kali tidak hanya ditentukan oleh niat, melainkan juga oleh cara ia diterima. Karena itu, penting untuk menegaskan bahwa Islam Berkemajuan bukan label eksklusif, melainkan ajakan kolektif untuk terus bergerak maju bersama.
Kemajuan sejati tidak lahir dari perasaan paling benar. Ia tumbuh dari kerendahan hati untuk terus belajar, berdialog, dan memperbaiki diri.
Lebih jauh lagi, tantangan zaman saat ini tidak sesederhana persoalan pendidikan atau teknologi. Dunia sedang menghadapi krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, eksploitasi sumber daya alam, serta konsentrasi kekuasaan yang semakin kuat. Dalam konteks ini, Islam Berkemajuan perlu terus mengembangkan daya kritisnya.
Kemajuan bukan hanya soal membangun gedung yang megah atau menguasai teknologi mutakhir. Kemajuan juga berarti menjaga kelestarian alam, memperjuangkan keadilan sosial, membela kelompok rentan, dan memastikan bahwa pembangunan tidak meninggalkan mereka yang lemah.
Sebab apa artinya kemajuan jika sungai-sungai tercemar? Apa makna modernitas jika jurang antara si kaya dan si miskin semakin lebar? Dan untuk apa kecanggihan teknologi jika manusia kehilangan kepekaan terhadap sesama?
Di sinilah Islam Berkemajuan menemukan ujian terbesarnya: apakah ia sekadar slogan yang indah didengar atau benar-benar menjadi kekuatan moral yang membela kemanusiaan.
Pada akhirnya, kemajuan bukanlah sebuah status yang bisa diklaim selesai. Ia adalah proses tanpa akhir. Setiap generasi harus terus bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kita benar-benar sedang bergerak maju, atau hanya merasa maju?
Barangkali ukuran paling sederhana dari kemajuan adalah ini: “apakah kehadiran kita membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik?”
Jika jawabannya ya, maka kita sedang berada di jalan kemajuan yang sesungguhnya. Bukan kemajuan yang sibuk dipamerkan, melainkan kemajuan yang dirasakan manfaatnya oleh manusia dan semesta.***
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten


