Di era media sosial, yang paling sibuk bukan hanya manusia, tetapi juga jempol. Setiap hari kita menyaksikan teman membeli rumah, adik kelas menjadi direktur, mantan tampil bahagia, atau kolega berlibur ke luar negeri. Tanpa sadar, muncul pertanyaan dalam hati, “Mengapa hidup mereka terasa lebih cepat daripada hidup saya?”
Padahal, yang sedang kita lihat sering kali hanyalah etalase kehidupan. Media sosial lebih banyak menampilkan puncak gunung daripada jalan terjal menuju puncak itu. Hampir tidak ada yang mengunggah malam-malam penuh kegelisahan, kegagalan yang berulang, penolakan demi penolakan, utang yang harus dilunasi, atau air mata yang mengiringi setiap perjuangan.
Akibatnya, kita mudah terjebak dalam kebiasaan membandingkan bab pertama kehidupan kita dengan bab kesepuluh kehidupan orang lain. Perbandingan seperti ini bukan hanya tidak adil, tetapi juga berbahaya. Ia perlahan menggerus rasa syukur, melemahkan semangat, dan membuat kita merasa tertinggal, padahal belum tentu demikian.
Hidup sesungguhnya bukan perlombaan lari seratus meter yang hanya mengenal siapa tercepat mencapai garis akhir. Kehidupan lebih menyerupai perjalanan panjang. Setiap orang memiliki jalur, ritme, tantangan, dan “zona waktu” yang berbeda. Ada yang menikah di usia muda, ada yang dipertemukan dengan jodohnya ketika telah matang secara emosional. Ada yang memperoleh rezeki melimpah sejak awal karier, ada pula yang baru menikmati hasil jerih payahnya setelah puluhan tahun bekerja dengan tekun.
Tidak ada yang salah dengan keduanya. Sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan ukuran, waktu, dan kadar bagi setiap hamba-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Q.S. Al-Qamar [54]: 49).
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Setiap nikmat, ujian, keberhasilan, bahkan keterlambatan yang kita rasakan berada dalam ilmu dan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apa yang datang terlalu cepat bisa menjadi ujian, sementara apa yang terasa lambat bisa jadi merupakan bentuk kasih sayang-Nya agar kita lebih siap ketika menerimanya.
Ironisnya, kita sering lebih rajin menghitung pencapaian orang lain daripada mensyukuri nikmat yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala anugerahkan kepada diri kita sendiri. Kita hafal siapa yang baru membeli mobil, siapa yang naik jabatan, siapa yang menjadi terkenal, tetapi lupa bahwa tubuh yang sehat, keluarga yang mendukung, kesempatan belajar, pekerjaan yang halal, dan kemampuan untuk terus berikhtiar juga merupakan karunia yang luar biasa.
Padahal rasa syukur bukan hanya membuat hati menjadi tenang, tetapi juga menjadi pintu bertambahnya nikmat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Q.S. Ibrahim [14]: 7)
Rasa syukur bukan berarti berhenti bercita-cita. Syukur justru menjadi fondasi agar cita-cita dibangun tanpa rasa iri dan tanpa kehilangan kedamaian batin. Orang yang bersyukur tetap bekerja keras, tetapi ia tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk membenci dirinya sendiri.
Yang sebenarnya perlu dipercepat bukanlah usia ketika kita sukses, melainkan kualitas ikhtiar, kejujuran, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam menjalani amanah. Sebab kesuksesan yang datang terlalu cepat tanpa kesiapan karakter sering kali justru berubah menjadi beban.
Rasulullah Saw. bersabda: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (H. R. Bukhari dan Muslim). Hadis ini bukan mengajarkan agar kita berhenti bermimpi besar.
Sebaliknya, Rasulullah mengajarkan cara menjaga hati agar tetap dipenuhi rasa syukur. Dalam urusan dunia, melihat kepada mereka yang keadaannya lebih sederhana akan membuat kita menghargai nikmat yang telah dimiliki. Adapun dalam urusan ibadah dan kebaikan, kita dianjurkan berlomba-lomba untuk menjadi lebih baik.
Sering kali kita lupa bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menilai hidup berdasarkan kecepatan, melainkan berdasarkan kualitas amal. Bukan seberapa muda seseorang menjadi kaya, tetapi bagaimana ia memperoleh hartanya. Bukan seberapa cepat seseorang dikenal banyak orang, tetapi apakah ketenarannya membawa manfaat atau justru mudarat.
Maka berhentilah memakai jam tangan kehidupan orang lain. Tidak semua orang harus kaya pada usia tiga puluh tahun. Tidak semua orang harus menjadi pemimpin pada usia empat puluh tahun. Tidak semua orang harus terkenal sebelum usia lima puluh. Setiap manusia memiliki garis waktu yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetapkan dengan kebijaksanaan yang sempurna.
Yang paling penting bukan siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap menjaga iman, integritas, akhlak, dan manfaat sepanjang perjalanan hidupnya.
Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang mengalahkan orang lain, melainkan tentang mengalahkan rasa malas, rasa putus asa, dan kecenderungan untuk terus membandingkan diri. Setiap pagi adalah kesempatan baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada diri kita kemarin.
Sebab kelak Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan bertanya mengapa kita tidak menjadi seperti orang lain. Yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah bagaimana kita memanfaatkan umur, ilmu, harta, dan kesempatan yang telah Dia titipkan kepada kita.
Karena itu, nikmatilah setiap proses. Teruslah belajar, bekerja, berdoa, berkarya, dan memperbaiki diri. Jangan biarkan jam kehidupan orang lain menentukan kebahagiaan kita.
Percayalah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah datang terlambat. Dia juga tidak pernah terlalu cepat. Semua ketetapan-Nya hadir tepat pada waktunya, sesuai hikmah yang mungkin baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.
Maka, jika hari ini kita merasa tertinggal, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa hidup sedang tidak berpihak kepada kita. Bisa jadi Allah Subhanahu Wa Ta’ala sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik, lebih matang, dan lebih berkah daripada yang kita bayangkan.
Sebab dalam hidup ini, yang terbaik bukanlah mereka yang paling cepat mencapai tujuan, melainkan mereka yang tetap istiqamah berjalan di jalan yang benar hingga akhir perjalanan, lalu kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan hati yang tenang dan amal yang diterima.***
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten


