Perang Israel dengan Iran tampaknya ditentukan oleh dua orang yang merasa paling berkuasa meletuskan senjata. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan PM Israel Benyamin Netanyahu. Karena kedua orang inilah yang membuat eskalasi ketegangan di Timur Tengah dengan ancaman-ancamannya yang sesumbar menghancurkan Iran dan mengancam membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Sementara yang terakhir ini dengan tenang menjawab, akan memberikan balasan yang setimpal dan menyakitkan jika diserang oleh dua negara yang merasa superior tersebut.
Perseteruan Israel versus Iran, plus negara Paman Sam karena keinginan kedua negara ini, AS dan Israel,untuk mengendalikan dan membatasi kemajuan industri nuklir Iran. Sesuatu yang terasa aneh, karena dua negara ini sendiri memiliki senjata tersebut dalam jumlah yang cukup besar, termasuk para sekutunya dan pendukungnya, seperti Inggris dan Perancis.
Nampaknya, terpendam sesuatu kecemasan pada kedua negara di atas jika Iran memiliki senjata canggih bom nuklir, keduanya merasa tidak aman. Sesuatu ketakutan yang berlebihan.Padahal, Iran sendiri sudah menyatakan industri nuklir yang dikembangkannya hanya untuk kepentingan sipil dan damai.
Ancaman Menghabisi Ayatollah Ali Khamenei
Serentatan pernyataan yang berisi ancaman dikemukakan oleh Donald Trump. Yang terbaru ia menegaskan, memberi waktu dua pekan ini bagi Iran untuk menghindari serangan udara Amerika Serikat.
“Saya memberi waktu dua pekan, dan itu adalah waktu yang maksimal,” katanya. Pernyataan Donald Trump muncul di saat Liga Arab dan negara OKI bertemu di Istanbul,Turki, membahas ketegangan Iran-Israel yang makin memuncak. Trump menolak upaya diplomatik karena melihat Isrel sangat sulit menghentikan serangannya ke Iran.
Donald Trump juga menuntut Iran untuk menyerah tanpa syarat. Bahkan, ia sesumbar mengancam pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, “ Kami tahu persis di mana sosoknya bersembunyi. Ia adalah target yang mudah , tetapi aman di sana. Kami tidak akan menghabisinya, setidaknya untuk saat ini,” akunya. Sebelumnya, Donald Trump juga membuat pernyataan yang membuat konflik makin tegang. Katanya, “Kesabaran saya sudah habis terhadap Iran, namun belum terlambat untuk berunding.”
Ketika Israel menghantam Iran dengan serangan pada Jum’at (13/6/2025 ) yang menewaskan ratusan orang orang, termasuk sejumlah komandan militer, ilmuan nuklir Iran, dan warga sipil, Trump berujar,” Akan ada serangan yang lebih brutal dari serangan Israel”, ancamnya.
Sementara itu PerdanaMenteri Israel Benyamin Netanyahu juga bersambisi untuk melenyapkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.Dalam sesumbarnya menyatakan, perang Israel dan Iran hanya akan berakhir jika Ayatollah Ali Khamenei terbunuh.
Dalam beberapa peperangan zionis Israel memang terlihat menjadikan figur-figur kunci militer sebagai target pembunuhan. Seperti dalam peperangan dengan Hamas, milisi Hizbullah, dan dengan Iran sendiri yang telah menewaskan para figur dan pentolan militer tertinggi. Namun, hal ini tidak meredupkan perjuangan karena figur pemimpin baru selalu muncul sebagai penggantinya. Bahkan, Ayatoillah Ali Khamenei sendiri telah menunjuk tiga ulama senior sebagai penerusnya, jika ia terbunuh dalam jihad melawan Israel. Hal ini dilakukan jika Iran terpukul keras melawan tentara musuh, rantai komando tidak terputus dan tetap berfungsi.
Sementara itu bagi Iran dialog hanya bisa dilakukan jika Israel menghentikan serangannya. Termasuk dialog mengenai tudingan pengayaan uranium yang menjadi sumber konflik.
Menyangkut ancaman perang dan pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Iran menyatakan negaranya tidak akan pernah menyerah ke Israel. Bahkan, Ali Khamenei mengatakan, Iran telah merespon yang mengejutkan Israel dengan menembakkan rudal hipersonik dalam serangkaian gelombang serangan- serangan ke Israel. Ali Khamenei juga mengingatkan Amerika untuk tidak ikut campur membela Israel,”bahwa intervensi militer apapun niscaya akan mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki,” tegasnya.
Dalam pernyataannya usai Iran di bombardir Israel pada jum’at, Ali Khamenei menegaskan, perdamaian dan peperangan tidak bisa dipaksakan kepada Republik Islam Iran. “ orang-orang cerdas yang mengenal Iran, bangsa Iran,dan sejarah Iran, tidak akan pernah berbicara kepada bangsa ini dengan bahasa yang mengancam, karena bangsa Iran tidak akan pernah menyerah,” tandasnya.
Peperangan Israel-Iran telah memasuki hari yang ke-19. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan telah melakukan penyerangan pada Sabtu (21/6/2025) dan Minggu (22/6/2025)dini hari terhadap 14 situs militer dan industri strategis Israel. Operasi True Promise (operasi pembalasan) pada Sabtu dan Minggu pagi dini hari tersebut dilakukan dengan operasi rudal dan pesawat nirawak.
“Operasi tersebut mengerahkan rudal Qadr jarak jauh dan kawanan pesawat nirawak kamikaze menyerang target bernilai tinggi di Haifa dan Tel Aviv,” ujar Jubir IRGC, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini.
Serangan Iran ke Israel ini sebagai balasan serangan Amerika Serikat pada tiga fasilitas nuklir utama Iran di Natanz, Isfahan, dan Fordo. Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengkonrfirmasi serangan tersebut pada pidatonya di Gedung Putih (Minggu, 22 Juni 2025). Donald Trump berharap serangan tersebut bisa memaksa Iran untuk mengakhiri perang dan kembali ke meja perundingan.
Amerika Serikat menggunakan 6 pesawat pengebom B-2 yang dijatuhkan di Fordow, dan kapal selam Angkatan Laut AS menembakkan 30 rudal ke situs Natanz dan Isfahan. Donald Trump juga mengancam Iran dengan serangan yang lebih besar jika berani melakukan pembalasan.
Sementara itu Televisi Pemerintah Iran menyatakan setiap warga negara Amerika Serikat dan personil militer di wilayah tersebut kini menjadi target yang sah. Ini akibat serangan AS terhadap situs nuklir Iran. Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak terlibat dalam konflik ini.
“Kerugian yang besar akan diderita oleh AS jika mereka terlibat secara militer,” tandas Ali Khamenei. Dengan serangan Amerika Serikat terhadap situs nuklir Iran menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah bergabung dengan Israel dalam peperangan dengan Iran. Dan, ini rupanya membuat Israel menyambut gembira. Netanyahu mengucapkan selamat kepada Donald Trump atas keberaniannya menyerang situs nuklir Iran.
Perang Israel-Iran menandai kecemasan terancamnya kehidupan dunia. Ini tidak terlepas dari perasaan ego dan yang dipicu ambisi pemegang kekuasaan. Bagi mantan Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono,selalu ada warlike leaders atau pemimpin yang gemar berperang . Padahal sejatinya di dunia manusia mencintai perdamaian.
“Jika perang Israel-Iran ini out of control, dunia benar-benar di ambang malapetaka,” tutur SBY di akun-X-nya
SBY mengungkapkan, nasib perdamaian dunia sekarang ini tergantung pada lima tokoh dunia yang berpengaruh dalam geopolitik internasional, yaitu Benyamin Netanyahu, Ayatollah Ali Khamenei, Donald Trump, Vladimir Putin, dan Xi Jinping.
Harapan SBY kelima pemimpin berpengaruh ini memiliki kearifan dan kejernihan dalam mengambil keputusan. “ Kalau gegabah dan salah mengambil keputusan, akan menimbulkan kematian dan kehancuran yang dahsyat,” ujar SBY mengingatkan.
Kini dengan Amerika Serikat menyerang Iran dunia tentu bisa menebak siapa sesungguhnya pemimpin yang ego, ambisius dan suka berperang!


