Cakrawala

Komunitas Yahudi  di Negeri-negeri Muslim(3): Menemukan Surga di  Maroko

Tidak ada Yahudi di negeri ini. Mereka semua adalah rakyat Maroko,” ucap Raja Mohammad V, ayah Raja Maroko sekarang. memberi jaminan keamanan kepada para pemimpin Yahudi. Pada intinya, Raja tidak ingin penduduk Yahudi lari meninggalkan Maroko lantaran pemburuan oleh pasukan Nazi pada Perang Dunia II. “Tidak akan terjadi apa-apa pada kalian sebagaimana tidak akan terjadi apa-apa pada kami,” tegas Raja meyakinkan Joseph Berdugo, salah satu tetua komunitas Yahudi kala itu.

 Ungkapan tulus itu merupakan bukti keharmonisan umat Yahudi Maroko sebagai minoritas di sebuah negeri Islam. Kedua kelompok umat itu hidup rukun berdampingan. Di beberapa kota di Maroko, dengan mudah kita jumpai puluhan sinagog dan mellah, atau barak-barak khas di perkampungan Yahudi. Demikian pula halnya suasana di beberapa kotapraja, seperti Fez, Marrakesh, Meknes, dan Rabat. Kota-kota pantai seperti Sale, El Jadida, Essaouira, dan Agadir, malah masih menyimpan jejak-jejak kebesaran para saudagar Yahudi masa lalu.

Adapun di kota-kota kawasan timur Maroko, seperti Oujda dan Debdou, kita bisa menyaksikan beberapa mellah yang indah dan telah berusia. Memang, Maroko merupakan satu-satunya negeri muslim di dunia ini yang kaya akan sejarah dan budaya komunitas Yahudi. Jumlah populasi keturunan Nabi Ishak itu saat ini mencapai 7.500 jiwa dari total penduduk 30.645.305 (per 2001), atau sekitar 0,200. Zaman keemasan bagi kehidupan kaum Yahudi di Maroko terjadi pada awal 1950, ketika jumlah mereka mencapai 280.000, dan tinggal di beberapa kota di wilayah Maroko.

Pemukiman Yahudi di Fez, Maroko

Disayang penguasa

Perasaan terlindungi di kalangan Yahudi oleh penguasa mungkin menjadi kunci mengapa mereka betah membangun kehidupan sosial dan berkarya di sana. Mereka bahkan memiliki peranan cukup vital. Tak mengherankan jika sejarah migrasi mereka ke Maroko, sejak 2.000 tahun silam itu, berlangsung tanpa hambatan kultural. Peranperan yang selama ini dipercayakan kepada orang Yahudi biasanya dalam hal perdagangan dan diplomatik. Itulah yang menyebabkan seluruh orang Yahudi Maroko merasa “at home’ di negeri itu.

Abdurahman (1833-1855) adalah salah satu dari sultan-sultan Maroko yang dikenal memberikan perlakuan istimewa kepada kaum Yahudi. Konon, ia memberi fasilitas kepada pedagang Yahudi untuk berkeliling di kawasan Maroko melalui laut. Perlakuan baik ini diteruskan oleh putranya, Muhammad (1859-1873), yang berusaha melakukan amandemen undang-undang agar menguntungkan warga Yahudi. Sikap politik penguasa Maroko tersebut sempat ditentang keras ketua-ketua kabilah. Pencurian dan perampokan pun terjadi di mana-mana. Sasaran utamanya adalah warga Yahudi.

Menurut laporan organisasi “Persatuan Warga Yahudi Maroko”, tidak kurang 249 warga Yahudi terbunuh sepanjang 1864 1880. Kondisi itu baru membaik setelah para penguasa Maroko mampu memadamkan kerusuhan. Namun, kerusuhan yang lebih besar terjadi kembali setelah: wafatnya Sultan Hassan I (1873-1894). Kerusuhan itu lahir akibat campur tangan imperialisme Eropa, melalui keputusan-keputusan yang dikeluarkan kerajaan. Maklum, Kerajaan Maroko sendiri, kala itu, mulai kehilangan wibawanya.

Penguasa kerajaan akhirnya mengeluarkan keputusan untuk melindungi warga Yahudi. Akan tetapi, keputusan itu tidak melahirkan dampak yang positif. Setelah datang utusan dari pemerintah Prancis dan Inggris, serta utusan dari organisasi Yahudi di Eropa, yang menekan penguasa Maroko untuk memperbaiki nasib Yahudi, konflik rasial bisa diatasi. Kerajaan membangunkan sebuah kawasan khusus warga Yahudi, yang dilindungi pemerintah, pada 1894. Konflik antara penduduk asli dan Yahudi kembali meletus di Maroko setelah keluar peraturan yang mengharuskan warga Yahudi melepas sepatu di depan tempat-tempat suci di Maroko, sekitar 1908. Padahal peraturan ini sudah dihapus sejak pemerintahan Raja Hassan di akhir abad ke-19. Akibat salah pengertian ini, terjadi bentrokan antara warga pribumi dan orang-orang Yahudi pada 1912 di Kota Fez.

Kondisi Maroko semakin memburuk setelah jatuh di bawah kekuasaan Prancis. Pada 1919, seorang pemimpin spiritual Yahudi Rabbi atau Hakham Daud Abu Hashirah terbunuh secara misterius. Tapi, oleh sejumlah rabbi Maroko dikatakan bahwa Daud dibunuh Raja Maroko Sultan Muhamad bin Kasim. Semenjak peristiwa pembunuhan itu, banyak warga Yahudi mulai meninggalkan Maroko. Casablanca: firdaus Yahudi

Kalau Maroko secara keseluruhan adalah surga bagi Yahudi, Casablanca adalah firdausnya. Terletak dekat Rabat adalah bandara laut Atlantik sekaligus ibu kota Maroko, kota tersebut dihuni sekitar tiga juta orang, dan lima ribu di antaranya adalah komunitas Yahudi. Casablanca, dulunya, adalah bagian dari Kota Anfa, yang sekarang menjadi daerah pinggiran perkotaan modern.

Pada awal abad ke-20, tercatat sekitar 20.000 jiwa penduduk Casablanca, termasuk enam ribu orang Yahudi, dengan dua sinagog, delapan sekolah di Talmud dan Taurah, serta empat lembaga pendidikan agama.

Perkembangan pesat Yahudi di Casablanca terjadi setelah 1907, atau setelah terjadinya huru-hara yang mengakibatkan terbunuhnya puluhan penduduk secara massal, termasuk 30 orang yahudi. Pada tahun itu, secara ekonomis, Casablanca mengalami kemajuan. Para saudagar kaya di kota itu mendirikan pelbagai organisasi sosial untuk membantu Yahudi miskin yang datang dari wilayah lain, dan yang ingin datang ke situ. Tak heran kalau orang-orang Yahudi datang berduyun-duyun ke Casablanca untuk mencari kehidupan yang damai dan lebih baik di tanah “firdaus”.

Penulis: Anis Maftuhin; kini Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Salatiga, Jawa Tengah.
Laporan: M. Guntur Romli (Kairo, Mesir); kini aktivis Partai Demokrasi Perjuangan (PDI-P)
Sumber: Majalah Panjimas, Juli 2003

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button