Reputasi Prof. Dr. H. Salim Haji Said, MA., M.A.I.A. dikenal dalam multidimensi. Ia mengawali karier sebagai wartawan Harian Angkatan Bersenjata (AB) dan jurnalis Majalah Tempo. Dalam riwayat hidupnya Salim Said tercatat sebagai wartawan selama 25 tahun. Ia juga tokoh perfilman khususnya kritikus film. Sewaktu kuliah sosiologi di FISIP Universitas Indonesia (UI) ia menulis karya ilmiah mengangkat sejarah sosial film Indonesia dan menemukan jawaban atas rendahnya mutu film Indonesia di masa itu.
Salim Said menempuh pendidikan magister di OhioUniversity Athens Amerika Serikat. Gelar Ph.D diperolehnya dari OhioStateUniversity Amerika Serikat dalam bidang ilmu politik dengan topik disertasinya mengenai peran politik militer Indonesia pada periode revolusi kemerdekaan atau judul aslinya “The Genesis of Power: General Sudirman and Indonesian Military in Politics 1945 – 1949”.
Dalam pengabdiannya kepada negara Salim Said pernah diangkat sebagai anggota MPR-RI mewakili utusan holongan cendekiawan. Namun ia menolak ketika ditawari menjadi Menteri Pertahanan dan Gubernur Lemhannas RI. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Salim Said kemudian diangkat menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Ceko berkedudukan di Praha.
Karya tulisnya sebagai pemikir, budayawan, pengamat militer dan sejarawan politik banyak dikutip penulis dalam dan luar negeri. Salim Said menghasilkan beberapa karya penting dan bernilai historikal tinggi tentang dinamika perpolitikan Indonesia kontemporer dan pergulatan para elite politik di lingkaran kekuasaan. Ia beruntung mengalami hidup di tiga zaman: Orde Lama, Orde Baru dan orde Reformasi, dengan segala kelebihan dan kekurangan di setiap periode.
Ketertarikan saya terhadap karya intelektual Salim Said timbul setelah membaca dua buku terbarunya yang judul dan isinya amat menarik, Dari Gestapu Ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (Penerbit Mizan, 2013) dan Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (Penerbit Mizan, 2016). Penerbit Sinar Harapan pernah menerbitkan kumpulan wawancara Salim Said tentang Tentara dan Politik (2001).
Saya tidak perlu membedah isi buku beliau dalam artikel obituari ini. Tetapi ingin menggarisbawahi testimoni Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, “Membaca buku Salim Said sungguh memberikan pemahaman baru bagi saya tentang perjalanan sejarah Indonesia, khususnya menjelang pemberontakan PKI dan perjalanan bangsa Indonesia semasa Orde Baru. Buku ini sangat baik untuk dibaca oleh para perwira TNI maupun pemimpin-pemimpin muda Indonesia umumnya.”
Dalam buku Salim Said berjudul Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto, guru besar emeritus ilmu politik dan pengamat Indonesia dari OhioStateUniversity Prof. Dr. R. WilliamLiddle merekomendasikan buku tersebut sebagai sejarah dan analisis terbaik mengenai Orde Baru. Selain saksi hidup – kata Liddle – penulis adalah seorang sejarawanyang tidak berpihak dan selalu melihat manusia dalam segala kerumitannya. Siapa pun yang menulis di kemudian hari tentang periode ini harus memakai buku Salim Said ini karena substansinya dan juga karena analisisnya.
Salim Said dalam kata pengantar mengemukakan, “Buku ini ditulis dengan niat memberi sumbangan kepada penjernihan sejarah kita sebagai bangsa. Semoga Allah membimbing kita agar bangsa Indonesia terhindar dari mengulang kesalahan masa lalu. Terutama kesalahan yang banyak mengorbankan orang-orang yang sebenarnya tidak berdosa.” Saya terhenyak dan merenung membaca kalimat di atas.
Salah satu kekuatan karya Salim Said tentang politik kontemporer Indonesia adalah karena dia seorang aktivis dan jurnalis yang menyaksikan langsung situasi di seputar Gestapu 1965. Kesaksiannya didukung ketekunan dan kegigihan dalam menelusuri dokumen dan literatur langka. Dia juga punya akses untuk mewawancarai sejumlah tokoh kunci baik sipil maupun militer. Salim Said dengan nama pena yang belakangan digunakannya Salim Haji Said menulis buku Gestapu, PKI, Aidit, Soekarno dan Soeharto.
Setelah terbitnya buku-buku tersebut, dia mengaku terobsesi untuk menyelesaikan penelitian dan menulis buku mengenai dinamika hubungan Presiden Soekarno dan militer dari masa revolusi hingga naiknya Jenderal Soeharto menjadi Presiden.
Sejarrawan kawakan Prof. Dr. Taufik Abdullah mengatakan, wartawan tahu sedikit tentang banyak hal, sedangkan ilmuwan tahu banyak tentang hal yang sedikit. Tetapi, bagaimana kalau ilmuwan adalah juga wartawan? Maka, karya yang dihasilkannya memancarkan keluasan pengetahuan yang didampingi kedalaman pemahaman. Inilah yang terpancar dari karya Salim Haji Said, sang wartawan yang telah menjadi ilmuwan.
Dalam kapasitasnya sebagai ilmuwan dan Guru Besar Ilmu Politik pada Universitas Pertahanan (Unhan), Salim Said juga diminta sebagai tenaga pengajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, Laut dan Udara (SESKOAD, SESKOAL, SESKOAU), Sekolah Staf dan Komando TNI, dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Ia pernah diangkat sebagai Penasihat Politik Kapolri.
Salim Said lahir pada 10 November 1943 di Desa Amparita, Kabupaten Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Semasa kecilnya pernah bersekolah di Ibtidaiyah (Sekolah Rendah) 3 tahun di lingkungan Perguruan Darud Dakwah wal Irsyad, Pare-Pare.
Menjelang akhir 2022 saat usianya genap 80 tahun beliau menghibahkan ribuan koleksi bukunya kepada Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Di Gedung Mohammad Hatta Perpustakaan Pusat dan Museum UII Yogyakarta disiapkan “Salim Said Corner”, tempat menyimpan ribuan buku koleksi milik Salim Said yang terbuka untuk dibaca oleh siapa saja yang haus ilmu pengetahuan.
Menurut rilis dari UII, tahap awal, 4.189 dari sekitar 10.000 buku koleksi pribadi Salim Said telah dibawa ke Perpustakaan UII di Yogyakarta. Selebihnya akan diserahkan ke UII setelah beliau tiada. Saat membaca berita itu, dalam hati saya terbetik doa semoga Allah memberkahi warisan kekayaan sumber ilmu Salim Said dan melanggengkan manfaatnya kepada generasi mendatang.
Salim Said berpulang ke rahmatullah Sabtu 18 Mei 2024 pukul 19.33 WIB di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Jenazahnya dikebumikan Ahad 19 Mei 2024 ba’da zuhur di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan.

Tokoh perfilman, aktor dan sutradara Slamet Rahardjo yang hadir di pemakaman dalam sambutannya mengenang Salim Said sebagai sosok yang berjasa mempersatukan insan perfilman. Sementara itu Prof. Dr. Jimly Assiddiqie (Anggota DPD-RI) menyebut sepanjang hidupnya almarhum Salim Said memberi manfaat yang banyak dalam berbagai dimensi, sebagai tokoh pers hingga sejarawan politik dan militer. Dari kalangan senior insan pers saya berjumpa Bambang Wiwoho dan Parni Hadi yang hadir menyaksikan detik-detik jenazah almarhum Salim Said di turunkan ke liang lahat.
Hari ini bangsa Indonesia kembali kehilangan salah seorang intelektual teladan dan pemikir bangsa yang multitalenta. Kepedulian Salim Said terhadap pentingnya kesadaran sejarah bagi generasi muda sungguh luar biasa, sama seperti kepeduliannya terhadap perkembangan politik nasional dan global.
Salim Said mengingatkan para pemimpin dan segenap anak bangsa mengenai pentingnya belajar sejarah dengan baik dan benar, agar kita tidak mengelola negeri dengan amatiran karena tidak tahu sejarah. Sebagai ilmuwan dan sejarawan politik beliau pernah mengungkapkan bahwa berbagai persoalan di republik ini timbul karena para pemimpin tidak memahami sejarah.
Semoga almarhum Salim Haji Said husnul khatimah, dimudahkan perjalanannya menuju surga Jannatun Naim. Semoga Ibu Pertiwi melahirkan para penerusnya untuk mengisi lembaran sejarah di masa depan.
Selamat jalan Pak Salim Said!