Aktualita

Keulamaan dan Adab

Pendakwah yang juga Utusan Khusus Presiden, Miftah Maulana Habiburahman alias Gus Miftah,  menjadi sorotan publik usai menghina dan mengolok-olok penjual es teh manis, Sunhaji.

Perbuatan Gus Miftah itu bahkan sampai membuat Presiden Prabowo Subianto turun tangan dengan memberi teguran. Peristiwa olok-olok itu terjadi saat acara salawatan di Lapangan drh Soepardi, Sawitan, Mungkid, Kabupaten Magelang, beberapa waktu lalu. Ucapan Gus Miftah pun sontak beredar viral dalam bentuk video. Video yang beredar itu merekam momen Gus Miftah mengumpat ke penjual es teh. Dalam potongan video viral, terlihat awalnya Gus Miftah bertanya dan melontarkan kata umpatan.

Bukan hal yang baru kita menyaksikan Gus Miftah membuat pernyataan yang kontroversial karena cukup sering ia melakukannya namun kali ini membuat fatal. Tidak saja menuai banyak kritik tajam dari masyarakat, tokoh agama, politisi, bahkan sampai Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim ikut memberi reaksi dan akhirnya Gus Miftah mengundurkan diri sebagai Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia.

Perjalanan anak bangsa selama 10 tahun terakhir memang tampak agak berbeda, khususnya tentang perilaku dan langkah-langkah orang-orang yang sebenarnya memiliki ilmu namun perilaku (adab) mereka menjadi tidak mencerminkan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu yang banyak dan bernilai. Mengapa bisa demikian ?

Pandangan materialism dan orientasi materi (baca hubbud dunya) sangat mudah untuk menjerumuskan orang kepada ketidaksesuaian antara intelektualitas dan adab, bahkan lebih parah lagi ketika intelektualitasnya tidak saja melanggar adab (norma-norma) tapi lebih dari itu dijadikannya untuk berbuat maksiat dan merugikan kepentingan orang lain, masyarakat, bangsa dan negara. Akal manusia tidak cukup kuat untuk menahan gejolak hawa nafsu untuk menyimpang, terlebih ketika orientasi materi berupa kekayaan, kedudukan, popularitas, dan sejenisnya terus dia jadikan pilihan hidupnya bersama orang-orang yang menjadi bagian dari diri dan lingkungannya. Bahkan mereka makin asyik dan merasa indah apa yang mereka katakan dan/atau mereka lakukan.

Setiap orang yang mencari ilmu dan kemudian jadi memiliki ilmu serta dengannya ia memahami ilmu dan dapat memanfaatkan ilmu tersebut untuk kebaikan dan kebajikan sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya maka dia adalah orang yang beruntung dan kita patut hormat dan menjadikannya panutan atau tauladan yang baik. Namun ketika seorang yang memiliki ilmu dan ilmunya tidak dimanfaatkan untuk kebaikan atau bahkan dengan ilmunya termasuk dengan dukungan kekuasaan atau lingkungan yang memungkinkannya untuk menyalahgunakan ilmunya, ia berbuat maksiat dan atau merusak kehidupan masyarakat atau bangsa secara sadar maka sesungguhnya ia termasuk tidak memahami makna atau mengabaikan firman  Allah dalam surah Ali Imrah ayat 190 – 191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.’ Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Seseorang yang telah memiliki dan memahami ilmu, seharusnya menjadi bagian penting dalam proses mencerdaskan kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa. Bukan sebaliknya, yaitu membodohi dan memberikan tuntunan tentang adab buruk yang dipertontonkannya kepada keluarga, masyarakat dan bangsa. Oleh sebab itu kita sangat menyayangkan bahkan sangat merisaukan serta mengkritisi apabila dalam kehidupan berbangsa kita saat ini makin banyak dan makin terbuka perilaku-perilaku dan perbuatan-perbuatan yang tidak/kurang beradab. Ketidak-jujuran, berbohong walau dibalut oleh ketentuan atau aturan yang dibuat untuk melegitimasi perbuatan bohong (dusta) dan merugikan, tidak amanah (khianat), meremehkan atau melecehkan rakyat kecil walau sesungguhnya bisa jadi rakyat kecil yang dilecehkan lebih memiliki kemuliaan darinya di mata Allah Swt., penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), koruptif, kolusi, nepotisme dan sebagainya sepertinya menjadi sesuatu yang biasa padahal sesungguhnya adalah suatu yang luas biasa dan dimurkai Allah dan Rasul-Nya.

Undzur ma qala wala tandzur man qala, jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi lihat apa yang disampaikan. Barangkali untuk saat ini perlu kita pertajam dengan sebutan: Jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi lihat apa yang disampaikan dan diperbuatnya, apakah suatu kebaikan dan kebajikan untuk kemaslahatan masyarakat dan bangsa serta negara atau justru sebaliknya. Apakah dia seorang yang amanah ataukah sesorang yang khianat. 

Penulis: Firdaus Badarudin, pemerhati masalah-masalah  sosial dan ekonomi; alumni FEB UI.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button