Berbagai persoalan hidup yang mendera masyarakat, mulai dari cuaca panas ekstrem, persoalan lingkungan, hingga situasi kemanusiaan di berbagai belahan dunia, tidak bisa tidak, kecuali dihadapi dengan kesabaran. Bukan sabar dalam pengertian sikap menerima keadaan tanpa berbuat apa-apa. Tapi kesabaran sebagai sikap aktif untuk membaca situasi secara jernih, memahami akar masalah, serta menentukan langkah penyelesaian yang tepat.
Kita rasakan, seperti di Pati dan banyak kota-kota lain di Indonesia, cuaca bisa sampai 36 derajat atau bahkan lebih. Kalau di sini kita merasakan panas yang luar biasa, bagaimana dengan saudara kita di Kalimantan? Mereka tak hanya dipanggang panas, tetapi juga dikepung asap sehingga untuk bernapas pun sulit. Bahkan di Gaza, tak sekadar asap, tetapi malah peluru.
Celakanya, berbagai persoalan tersebut berjalan beriringan dengan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Kesulitan mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup menjadi keluhan yang terus muncul. Sementara di sisi lain, kebijakan perpajakan juga menjadi perhatian pelaku usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga sektor marketplace.
Tak syak lagi, kondisi itu, semakin terasa kontras ketika masyarakat menyaksikan adanya pameran kekayaan secara secara tidak masuk akal, dan pelbagai kasus korupsi dalam skala besar. Maka tidak mengherankan,
berbagai ketimpangan ini kemudian memunculkan kemarahan, terutama dari masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil.
Namun, kemarahan tidak boleh menjadi satu-satunya respons dalam menghadapi keadaan. Sebab kemarahan yang tidak dikelola berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menguntungkan diri sendiri maupun kelompoknya.
Akibatnya, masyarakat justru dapat terjebak dalam persoalan baru meskipun sebelumnya berusaha keluar dari masalah yang dihadapi. Lepas dari mulut singa, masuk mulut buaya. Yang demikian hampir selalu berulang.
Karena itu, kita, masyarakat, perlu membaca setiap peristiwa secara lebih mendalam. Tidak seharusnya kita hanya terpaku pada apa yang terlihat atau narasi yang beredar, tetapi perlu menelusuri persoalan di baliknya. Oleh karena itu, kita juga harus mulai membaca semua fenomena yang terjadi sebagai ayat-ayat yang harus kita baca dengan hati-hati. Kita tak boleh berhenti pada apa yang tampak atau narasi yang muncul, tetapi harus berani membongkar lapisan-lapisan tersembunyi di baliknya, sekaligus mencoba membaca apa pesan yang disampaikan Allah kepada kita melalui semua peristiwa ini.
Sejatinya ajaran Islam menempatkan sabar dan salat sebagai jalan untuk memohon pertolongan Allah. Keduanya menjadi landasan penting dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk ketika seseorang berada dalam situasi sulit. Namun, sekali lagi,kesabaran harus disertai upaya memahami keadaan dan mencari petunjuk Allah. Proses ini membutuhkan kejernihan hati agar seseorang tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi.
Ketika kemarahan mampu diredam, seseorang dapat menjadikan situasi yang dihadapi sebagai cermin untuk mengevaluasi diri sekaligus memahami persoalan secara lebih objektif.
Pertama, seseorang perlu melihat sejauh mana peran dan kontribusi dirinya terhadap keadaan yang memicu kemarahan. Kedua, berusaha mengenali fakta dan jaringan kepentingan yang mungkin berada di balik suatu peristiwa. Dan ketiga, menggunakan pemahaman tersebut untuk mencari jalan keluar, setidaknya bagi diri sendiri dan keluarga, serta jika memungkinkan bagi lingkungan sekitar.
Bila kita mampu mengendapkan kemarahan, insya Allah kita akan mampu melihat semua yang terjadi seperti cermin. Pertama, kita akan melihat seberapa besar peran dan partisipasi kita sendiri pada semua keadaan yang membuat kita marah tersebut. Kedua, sedikit demi sedikit kita akan mulai bisa membaca fakta-fakta dan jaringan-jaringan kepentingan yang ada di baliknya. Ketiga, dari situ kita bisa mulai mencari jalan keluar.
Lebih jauh, surah Al-’Ashr menegaskan pentingnya menempatkan kesabaran bersama kebenaran. Seseorang harus terlebih dahulu berada di jalur yang benar sebelum berbicara mengenai kesabaran dalam menghadapi suatu keadaan.
Orang yang menunggu kereta api di terminal adalah contoh kesabaran yang tidak tepat karena dilakukan di tempat yang keliru. Menunggu kereta api di terminal itu bukan kesabaran, tetapi kesesatan, karena tak akan ada kereta api yang mampir di terminal. Ini hampir sama dengan orang yang membakar hutan lantas minta kita bersabar karena toh nanti apinya akan padam sendiri. Oleh karena itu, kita harus berada pada jalur benar lebih dahulu, baru setelah itu bersabar.
Perlu diingat, bahwa kemampuan membaca situasi dengan sabar dapat membantu masyarakat terhindar dari jebakan narasi yang dibangun oleh pihak-pihak yang sedang berkonflik maupun mereka yang mengambil keuntungan dari konflik tersebut.
Pihak-pihak yang digerakkan oleh kepentingan pribadi atau kelompok berpotensi mengabaikan fakta di lapangan, atau bahkan memanipulasinya, demi memperoleh dukungan. Oleh karena itu, dalam kondisi seperti ini, masyarakat perlu bersikap kritis dan tidak mudah terbawa arus informasi.
Hemat saya, faktor manusia dan kepentingan yang melatarbelakangi tindakannya perlu menjadi perhatian dalam memahami persoalan tersebut. Ada yang menyebut agama menyebabkan kekerasan, ideologi menyebabkan kekerasan.
Sejatinya kekerasan itu tidak murni muncul dari agama atau ideologi, tetapi dari manusianya. Kuncinya manusia. Bila kepentingan diri dan kelompok menguasai diri, maka manusia bisa melakukan apa saja untuk mengajak orang agar mendukung dia, termasuk dengan cara-cara yang jahat dan tak bermoral. Maka, kalau engkau lihat kejahatan, cobalah lihat, apakah kejahatan itu ada pada dirimu? Bersihkan dulu yang ada dalam dirimu.***




