Minggu ini saya hanya akan menulis yang enteng-enteng saja. Beberapa hari terakhir, silang sengkarut sosial, ekonomi, dan politik membuat kepala terasa seperti rapat paripurna di ruangan yang pendingin udaranya mati: panas, sumpek dan siap-siap mau meledak.
Agar saraf tidak putus, kita memang butuh jeda. Maka, untuk minggu ini, biarlah isu-isu besar berjalan tanpa komentar saya. Biarlah grafik inflasi saling kejar. Biarlah para politisi berbusa-busa di depan mikrofon —siapa tahu mikrofonnya korslet sehingga pura-pura rusak demi menikmati hak cuti tahunan.
Hidup ini masih perlu disikapi dengan senyum. Bukan karena beban hidup mendadak raib, melainkan kalau muka kita pasang tampang beku terus, nanti dikira kulkas dua pintu. Bukan pula karena persoalan negeri sudah selesai, tapi otak juga butuh cuti dan dahi butuh istirahat untuk berkerut. Kalau tegang terus, takutnya dikira satpam arsip rahasia negara.
Pagi-pagi, pikiran saya justru tersangkut pada teka-teki paling purba: mengapa sandal jepit selalu hilang sebelah? Misteri sandal ini, sering kali jauh lebih rumit ketimbang dinamika di DPR setelah keluarnya keputusan MK.
Sandal itu, seringkali berangkat berdua dengan rukun, pulang-pulang sisa satu. Sandal kanan tidak pernah tahu ke mana sandal kiri minggat atau sebaliknya. Jangankan CCTV, tukang tunggu sandal yang disumpah di bawah kitab suci pun mendadak kompak amnesia: “Saya tidak melihat apa-apa, barangkali sandal kiri sedang sibuk lobi membentuk poros koalisi baru” katanya.
Belum beres urusan sandal, giliran tutup cangkir yang bertingkah. Benda bundar satu ini punya tabiat ajaib: dicari setengah mati raib tanpa jejak, giliran sudah tidak butuh, ia nongol sendiri sambil pamer muka tak berdosa. Tutup cangkir seolah punya agenda terselubung. Ia emoh menutup-nutupi sesuatu, sesuai kehendak pemiliknya. Mungkin sambil mengintip, menunggu momentum politik yang pas untuk melakukan kudeta percangkiran.
Sambil menarik napas, saya menyeduh kopi. Sendok tertinggal di dalam cangkir, berdiri tegak tanpa goyah layaknya orator ulung siap orasi. Kopi belum sempat diaduk, tapi sang sendok sudah kelewat mantap dengan pendiriannya. Saya diamkan saja. Mungkin ia sedang memperagakan keistikamahan.
Merenungkan hal-hal konyol begini lumayan mujarab meredam tensi. Walaupun sudah hilang beberapa kali, mengutuk sandal jepit dan tutup cangkir tidak perlu mengerahkan sukarelawan atau buzzer….”
Dari teras, jalanan mulai riuh. Ada yang pontang-panting mengejar angkot, ada yang adu cepat dengan jarum jam, dan ada tetangga yang lari terbirit-birit mengejar kucing garong lantaran ikan asinnya disambar. Si kucing kabur dengan langkah santai tanpa rasa bersalah, persis pelaksana MBG yang juga tidak merasa bersalah, walau banyak murid yang keracunan.
Sekali lagi, meski republik ini masih riuh oleh drama ijazah dan desas-desus pemakzulan yang gentayangan mencari celah pintu, prioritas nasional saya tetap mencari pasangan sandal yang lenyap.
Setelah putus asa mengaduk-aduk kolong rak, saya menemukan sandal yang sama-sama berposisi kanan. Dengan terpaksa, saya pakai juga. Baru lima depa melangkah, tetangga depan rumah sudah mencegat sambil melotot ke arah kaki saya:
“Pak, kok sandalnya kanan semua?”
Saya jawab dengan sedikit bergurau :
“Ini namanya koalisi taktis, Kang…….”
Sialnya, belum sampai ujung gang, sandal sebelah kanan yang kedua mendadak mogok berjalan. Akhirnya saya melangkah pulang dengan telanjang kaki. Rupanya, jangankan untuk urusan penting seperti “impeachment”, sandal jepit pun walau sama-sama kanan, kadangkala tidak mau melangkah bersama: mungkin karena masing-masing mempunyai kepentingan yang berbeda.
Kacau. Ketika hati ingin menulis hal enteng sekalipun, otak ini suka-sukanya menyuruh berinterpretasi.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.



