Rumah bercat putih yang berdiri di kawasan Beji, Depok itu tampak asri. Memasuki halaman dalamnya yang luas, terlihat bangunan rumah utama dengan teras besar di bagian selatan yang menghadap ke satu pendopo terbuka. Jarak antara teras dan pendopo hanya sekitar sepuluh langkah. Di latar belakang pendopo, terbentang spanduk besar, antara lain bertuliskan “Sanggar Suluk Nusantara”.
Di pendopo itulah, pada Selasa pagi (20/10), alunan musik keroncong terdengar memperindah sekaligus menyejukkan udara kemarau yang kering dan panas. Lima pemusik memainkan instrumen masing-masing, mengiringi para penyanyi yang tampil bergiliran.
Sebagian tamu duduk di pendopo, sambil menikmati lagu dan bercengkerama, juga sambil menunggu giliran menyumbangkan suara. Sebagian lainnya duduk berbincang di teras rumah induk. Sungguh suasana yang akrab, bagai satu pertemuan keluarga besar, dengan musik keroncong sebagai pengikatnya.
Pemilik rumah tersebut adalah Pak Bambang Wiwoho, wartawan senior yang namanya sudah lama saya kenal, antara lain saat beliau aktif di harian Suara Karya, dan belakangan majalah Panji Masyarakat. Sejak sekitar enam bulan terakhir, kami juga sama-sama tergabung dalam grup WA Serikat Wartawan 60 Plus (SW60+), wadah baru tempat silaturahmi virtual (dan sesekali juga jumpa fisik) sekitar 200 wartawan senior. Namun, baru kali ini saya berkesempatan bertemu langsung tatap muka.
Maka, selain ingin menikmati keroncong, kedatangan saya hari itu sekaligus menjadi kesempatan memperluas pertemanan dengan sesama insan pers, khususnya para senior yang telah bertungkus-lumus menempuh perjalanan panjang di jalur profesi istimewa tersebut.
Saya diajak ke acara itu oleh Bang Zulkarimein Nasution, mantan wartawan dan pensiunan dosen Komunikasi di Universitas Indonesa. Bang Zul sendiri diberi tahu oleh tuan rumah sekitar sepekan sebelumnya. Ketika kami tiba di sana sekitar pukul 10.30, acara sudah berlangsung beberapa saat.
Begitu tiba, saya langsung menjumpai dan memperkenalkan diri ke Pak Wiwoho. Lalu bergabung berbincang santai di teras rumah utama. Beberapa orang telah duduk di kursi-kursi di situ, salah seorang di antaranya adalah Mas Ninok Leksono, yang tiba sebelum saya. Beliau senior saya ketika bekerja di Kompas hampir empat dasawarsa silam. Juga senior beda jurusan di almamater kami, ITB. Mas Ninok masuk tahun 1975, tujuh tahun sebelum saya mulai tercatat sebagai mahasiswa di Kampus Ganesha itu.
Belakangan, dari perbincangan dengan Pak Wiwoho di sela-sela acara pagi itu, saya mengetahui bahwa lahan seluas sekitar 1.200 meter persegi tersebut beliau beli secara bertahap sejak 1990. Pembangunan dimulai pada tahun 1992, dan setahun kemudian mulai dihuni.
Berselang setahun setelah itu, tempat itu sudah digunakan untuk kegiatan pengajian ibu-ibu warga sekitar, dan menjadi kegiatan rutin mingguan setiap Jumat, selepas ashar hingga tiba waktu maghrib. Dari kegiatan keagamaan itulah pemanfaatannya perlahan berkembang hingga menjadi tempat berbagai kegiatan seni dan kemasyarakatan.
Sanggar Suluk Nusantara kini dipimpin oleh Iskandar Ismanaji, adik kandung Pak Wiwoho. Selain keroncong, sanggar tersebut juga menyelenggarakan kegiatan tari tradisional, karawitan, dan angklung. Setiap kegiatan ini ada pembinanya. Untuk musik keroncong, dipercayakan kepada Pak Wahyudin, sejak pembina sebelumnya, Pak Pramono, berpulang beberapa waktu lalu. Pak Wahyudin dibantu juga oleh pengurus lama, Ibu Dewi Hermala dan Mbak Christianty Pujiariani (Ani). Yang disebut belakangan ini juga merangkap sebagai seksi umum yang mengatur acara, menyiapkan rekaman video, juga menyiapkan konsumsi dan berbagai urusan lainnya.
Menarik membayangkan bagaimana satu rumah yang mula-mula dibangun sebagai tempat tinggal keluarga, dalam perjalanan lebih dari tiga dasawarsa, tumbuh menjadi ruang bersama yang begitu hidup. Suatu kemurahan hati yang sederhana, tetapi tidak semua orang bersedia melakukannya: membuka sebagian ruang miliknya agar orang lain dapat berkumpul, bersilaturahmi, dan bergembira ria bersama.
Pagi itu sekitar 40 orang hadir menikmati persembahan alunan musik keroncong, diiringi lima pemain musik. Siapa saja yang ingin menyanyi dipersilakan mendaftarkan diri, kemudian tampil sesuai nomor urut. Permainan kelima pemusik itu sungguh apik, dan tampak sangat menjiwai profesi mereka. Mereka mengiringi para penyanyi dengan amat terampil, termasuk ketika harus menyesuaikan diri dengan kemampuan dan gaya masing-masing penampil.

Saya dan Bang Zul ikut mendaftarkan diri untuk menyanyi. Karena kami datang agak terlambat, nomor urut yang tersedia sudah mencapai belasan. Bang Zul mendapat nomor 14, sedangkan saya di nomor setelahnya, dan itu urutan terakhir. Ketika giliran tiba, saya membawakan lagu “Hanya Engkau” ciptaan Abdulgani (bersama Oetjin Noerhasyim). Ini memang salah satu nomor favorit saya dari khasanah musik keroncong, di samping “Sepasang Mata Bola” (ciptaan Ismail Marzuki dan Suto Iskandar), “Jembatan Merah” (Gesang), dan “Lambaian Bunga” (Ismail Marzuki).
Acara penampilan musik keroncong tersebut ternyata bukan sekadar ajang menyanyi bersama. Sejak sekitar tiga tahun terakhir, ada juga unsur belajar bersama yang cukup serius di dalamnya. Pembimbingnya adalah Pak Djoko Moeljono, mantan pejabat tinggi Departemen Perdagangan yang pernah diberi amanah sebagai Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, juga pernah sebagai Dirjen Perdagangan Luar Negeri, di era lima presiden yang berbeda. Setahun terakhir, dua nama lagi bergabung sebagai pembimbing, yaitu Mbak Ika Kurniawan, dan Mbak Tuti Maryati. Nama yang disebutkan terakhir ini adalah salah seorang penyanyi keroncong legendaris Indonesia, yang dahulu lebih dikenal dengan nama Tuti Tri Sedya. Di acara kumpul-kumpul ini, ketiga pembimbing tersebut juga sempat tampil membawakan lagu pilihan mereka.
Di acara itu pula saya mengetahui bahwa usia Pak Djoko sudah berada di angka 83 tahun. Namun, suaranya yang sangat stabil dan mantap, membuat pendengar lebih percaya bahwa suara itu seakan-akan keluar dari rongga dada dan mulut seseorang berusia 40-an tahun. Begitu pula dengan MbakTuti, yang tampil prima di usianya yang baru menjejak angka 70 tahun di tanggal 8 Oktober lalu. Agaknya kecintaan terhadap musik yang terus dipelihara, membuat usia tidak serta-merta mengurangi kemampuan seseorang untuk tampil memikat mempersembahkan suara guna menghibur orang lain.
Saya juga mendapat kejutan kecil ketika berbincang dengan MbakTuti. Ternyata beliau tinggal di kawasan Cinere, berjarak hanya sekitar satu kilometer dari rumah saya. Selama ini kami tak saling mengenal, dan kini dipertemukan di satu pendopo di Beji. Dunia memang kadang terasa luas ketika kita sibuk dengan urusan masing-masing, tetapi mendadak menjadi begitu kecil setelah hadir jembatan untuk saling mengenal. Pertemuan semacam itulah yang membuat silaturahmi selalu menarik dan penuh kejutan. Kadangkala kita tak tahu siapa yang akan dijumpai, dan cerita apa yang akan didengar.

Para tamu yang hadir pun datang dari latar belakang yang beragam dan menarik. Ada Mbak Threes Emir, yang pernah bergiat di majalah Femina, lalu Gadis dan kemudian Mode Beliau masih tampak energik di usia yang telah melampaui 74 tahun. Pertemuan dengan Mbak Threes membawa kenangan tersendiri bagi saya. Ketika masih mahasiswa, saya juga menulis untuk Gadis, baik berupa cerita pendek ataupun cerita bersambung (novelette), maupun puisi. Salah satu novelette saya yang terbit di Gadis berjudul “Musim Gugur di Ganesha”, yang dimuat bersambung tiga edisi, pada bulan Desember 1985. Isinya tentang seorang mahasiswa yang kehilangan kekasih hatinya, yang dilukiskan bagai gugurnya daun-daun mahoni yang tegak kokoh rimbun di kedua sisi jalan Ganesha, Bandung, lokasi kampus ITB.
Hadir pula Pak Syakib Bafagih, mantan Direktur Keuangan PT Paiton Energy, perusahaan pembangkit listrik swasta di Probolinggo. Selain itu, ada Pak Martiono Hadianto, yang pernah memangku sejumlah jabatan di pemerintahan maupun sektor swasta, salah satunya sebagai Direktur Utama Pertamina (1998-2000).
Menarik melihat bagaimana orang-orang yang pernah memegang tanggung jawab besar dalam profesi masing-masing itu berkumpul dalam suasana begitu santai. Mereka datang untuk menikmati musik, bertemu kawan, dan berbagi kegembiraan.
Kegembiraan hari itu bertambah karena acara keroncong sekaligus dirangkai dengan perayaan ulang tahun dari empat orang, yakni istri Pak Wiwoho, Pak Djoko Moeljono, Mbak Tuti Mariati, dan Pak Iskandar. Ada kue ulang tahun, lalu menyanyikan bersama lagu “Panjang Umur”, ucapan selamat, dan suasana hangat yang menyertai perayaan sederhana tersebut. Pak Wiwoho juga menyampaikan sambutan dan memperkenalkan sejumlah tamu yang baru pertama kali hadir, termasuk Mas Ninok, Bang Zul, dan saya.
Santap siang juga tak kalah menyenangkan: pecel yang khusus dipesan oleh Pak Djoko. Menikmati hidangan khas Jawa Timur, di saat jeda alunan keroncong beberapa menit sebelumnya, dan diselingi percakapan yang mengalir santai, hangat-akrab tanpa beban, merupakan kebahagiaan tersendiri karena memiliki kesempatan berbagi waktu bersama orang-orang dengan hobi dan kecintaan yang sama pada musik keroncong.
Menjelang pukul 14.30, Pak Wiwoho mengajak sebagian tamunya masuk ke ruang tamu rumah utama. Musik masih terus mengalun di pendopo, selepas jeda santap siang dan sholat. Di ruang dalam rumah ini, kami duduk mengelilingi meja kaca berbentuk segi delapan. Dari menikmati musik keroncong, kami beralih ke percakapan tentang berbagai persoalan mutakhir yang dihadapi Indonesia, terutama perkembangan politik dan ekonomi.
Kami memiliki kerisauan sekaligus kepedulian yang sama saat memandang negeri tercinta ini di hari-hari mendatang, dengan setumpuk beban persoalan yang tak mudah diurai dan dibenahi. Dengan latar belakang pengalaman yang begitu beragam, tentu menarik mendengarkan pandangan masing-masing. Juga tukar menukar informasi dan analisis. Tak semua pandangan harus sejalan. Justru perbedaan itulah yang membuat percakapan menjadi hidup dan memperkaya pemahaman. Sesekali muncul pula komentar yang mengundang tawa.
Di tengah pertemuan itu, ada satu hal yang menarik perhatian saya: semangat hidup para pesertanya. Bang Zul berusia 75 tahun. Pak Wiwoho, Pak Syakib Bafagih, dan Pak Martiono sama-sama sudah berusia 78 tahun. Pak Djoko Moeljono bahkan telah mencapai usia 83 tahun, tetapi masih sangat bersemangat dalam berdiskusi, juga begitu prima saat tampil menyanyi dengan suara yang mengagumkan. Mereka telah melewati perjalanan hidup yang panjang, dengan pengalaman dan pencapaian masing-masing, tetapi tak kehilangan keinginan untuk terus bergaul, belajar, dan menikmati kehidupan.
Tentu usia membawa keterbatasan. Tenaga tak lagi seperti ketika muda, dan kemampuan fisik pun tak selalu dapat diajak berkompromi. Namun, semangat untuk tetap terhubung dengan sesama rupanya bisa bertahan jauh lebih lama. Di usia saya menjelang 63 tahun ini, mendadak saya merasa sebagai seseorang yang tengah menjalani proses magang dan menyantrik, menimba ilmu dan pengalaman, serta semangat dari para senior ini.
Kami akhirnya berpamitan sekitar pukul 16.00, ketika sebagian tamu dan para pemusik sudah lebih dahulu meninggalkan tempat. Saya pulang dengan perasaan gembira, membawa sejumlah perkenalan baru, kenangan lama yang kembali muncul, dan hati bahagia saat mendendangkan lagu “Hanya Engkau”.
Terima kasih kepada Pak Wiwoho atas keramahan dan kesediaannya membuka rumah untuk begitu banyak kegiatan, kepada Pak Iskandar dan seluruh penggerak Sanggar Suluk Nusantara, kepada Pak Wahyudin selaku pembina grup keroncong yang luar biasa ini, dan juga kepada Pak Djoko, serta Mbak Tuti dan Mbak Ika, yang tentu telah memberikan sumbangsih berarti, agar para pecinta musik keroncong di komunitas yang guyub ini semakin prima saat tampil menyumbangkan suara mereka. Satu kunjungan yang semula saya bayangkan hanya akan diisi dengan acara menikmati musik ternyata berkembang menjadi satu pengalaman yang jauh lebih kaya.
Saat menuliskan catatan ini, saya teringat kembali pada pendopo terbuka di seberang teras rumah putih itu. Selama lebih dari tiga dasawarsa, tempat tersebut telah menjadi saksi orang-orang datang dan pergi, mereka yang berkumpul untuk mengaji, berkesenian, dan menjalin persahabatan. Barangkali di situlah letak salah satu rahasia menikmati usia senja, yakni terus membuka pintu, memelihara rasa ingin tahu, dan memberi ruang bagi orang lain untuk ikut menikmati kehidupan. Sebab, sebagaimana musik keroncong yang mengalun menyentuh gendang telinga dan hati, sejak pagi hingga ambang sore itu, hidup terasa lebih indah ketika kita memainkan nada-nadanya bersisian dengan para pemain lain.
Penulis: Arya Gunawan Usis Pernah bekerja sebagai wartawan di harian Kompas (1987-1995), dan BBC London (1995-2000). Selepas dari BBC, bekerja di UNESCO (2000-2013), dan terakhir di satu lembaga multilateral yang bermarkas di Wina (Austria) mulai tahun 2013 hingga pensiun di tahun 2024.




