Aktualita

Anies Terjegal, Kotak Kosong Muncul?

Menurut survey Kompas yang menelisik elektabilitas calon gubernur DKI  Jakarta, nama Anies Baswedan memuncaki  persentase tertinggi di antara 9 figur tokoh penting. Presentase perolehan suaranya mencapai 29,8%. Survei yang diadakan 15-20 Juni 2024 lalu itu  menempatkan tokoh lain di bawahnya, Ahok 20,0%, Ridwan Kamil 8,5%,  ErickThohir 2,3%, Sri Mulyani 1,3%, Andika Perkasa, Kaesang Pangarep, Heru Budi Hartono dan Tri Rismaharini berbagi angka sama masing-masing 1,0%.

Meski disebut-sebut Anies berpeluang besar untuk menjabat gubernur Jakarta  untuk kedua kalinya,  namanya terancam tergusur. Santer berita akhir-akhir ini Anies bakal “dijegal” untuk maju berkontestasi, dan peluang besar untuk menang bakal diraih Ridwan Kamil, kader Golkar yang sengaja “hijrah” dari Jawa Barat ke Jakarta. Bahkan, rumours muncul, RK, pangilan akrabnya, bakal berhadapan dengan kotak kosong.

Kok bisa? Politik memang kadang membingungkan. Pada Pilkada serentak 27 November 2024 nanti bakal digelar pemilihan kepala daerah mulai dari provinsi, kabupaten dan kota. Pilkada digelar di 37 provonsi dan 508 kabupaten dan kota.

Pilkada di Jakarta  paling disorot publik karena kembalinya Anies Baswedan dalam kontestasi. Anies yang pada Pilpres 2024 lalu turut bertarung ketat bersama Prabowo Subianto sebagai capres, kini muncul kembali di gelanggang, dan didukung partai pengusungnya PKS,Nasdem dan PKB. Dengan Prabowo yang terpilih sebagai presiden dan koalisinya, maka seolah pilkada DKI ini seperti pertarungan jilid dua antara Koalisi Indonesia Maju (KIM) dan Koalisi Perubahan.

Anies Baswedan pada Juni 2024 lalu telah dideklarasikan oleh PKS dan berpasangan dengan Shohibul Iman (AMAN) sebagai cawagub. Anies juga didukung oleh partai Nasdem dan PKB. Namun, koalisi pendukung Anies ini belakangan menemui jalan buntu seputar figur cawagub pendamping Anies. Baik PKB maupun Nasdem tampaknya belum bisa menerima pasangan yang diusung PKS. Sementara PKS yang memperoleh perolehan suara tertinggi di Jakarta ngotot kadernya harus jadi cagub atau cawagub.

Menurut Ketua DPW PKS DKI Jakarta, Khoiruddin, sebagai partai pemenang wilayah  Jakarta,  PKS punya tanggung jawab kepada warga  Jakarta.

“Sebagai bentuk pertanggungjawaban ke masyarakat karena PKS jadi pemenang, maka PKS harus dapat posisi cagub atau cawagub,” ujar Khoiruddin.

Belum adanya kesepakatan duet Anies-Shohibul ini diterima Nasdem dan PKB memang berbuntut serius. Ketentuan untuk maju dalam pilkada serentak calon gubernur dan pasangannya harus didukung 20 persen suara di DPRD atau dengan jumlah 22 kursi. Sementara perolehan kursi PKS hanya 18 kursi, butuh 4 kursi tambahan. Diharapkan, tambahan datang dari PKB dan Nasdem, ternyata tidak mulus.

Adanya “deadlock” atau kebuntuan dukungan terhadap kubu cagub Anies ini memunculkan manuver baru di kubu KIM yang sudah memastikan Ridwan Kamil untuk maju di pilkada Jakarta.  Ridwan Kamil  tidak cukup hanya didukung kubu KIM yang sudah gemuk, kini muncul KIM Plus untuk menampung partai lain untuk bergabung mendukung RK. Jadi KIM selain didukung oleh koalisi sebelumnya saat kontestasi pilpres, yaitu Golkar, Gerindra, PAN, Partai Demokrat, dan partai non-parlemen seperti PSI, Partai Garuda, PBB, dan Partai Gelora. Maka, dalam KIM Plus diharapkan pula ikut bergabung PKB, Nasdem, PKS dan PDIP.

Mungkinkah partai non KIM ini menyeberang? Beberapa isyarat dan sinyal mulai berbicara, tapi pastinya ditentukan tanggal 27-29 Agustus 2024 saat pendaftaran yang tinggal beberapa hari lagi. 

Namun, Nasdem salah satu partai pendukung Anies  membuat publik terkejut. Melalui Bendahara Umum Nasdem, Ahmad Syahroni, mengeluarkan pernyataan perihal Anies Baswedan. Menurut Wakil Ketua Komisi III DPR-RI ini, rekomendasi  Nasdem buat Anies maju di Pilgub Jakarta belum pasti berlanjut hingga pendaftaran ke KPU. Ia menyebut politik itu dinamis.


“Jangan salah, yang sudah ditetapkan, belum tentu didaftar, karena politik itu sangat dinamis. Boleh ada rekomendasi, tahu-tahu rekomendasi dibatalin,” katanya pada awak media (31/7/2024).

Ketika disinggung apakah yang kemungkinan dibatalkan itu Anies, ia tidak menjelaskan secara terang. Hanya mengatakan, belum melihat secara langsung surat rekomendasi partainya kepada Anies.     

Sahroni menambahkan, rekomendasi yang diberikan partainya kepada bakal calon kepala daerah sekarang ini bukan berarti sudah pasti dan terkunci. “Kita tunggu kepastiannya pada saat pendaftaran calon ke KPU. Jadi, jangan kecele, rekomendasi bisa saja dikasih, tapi tahu-tahu tidak didaftarkan,” ujarnya.

Lain halnya dengan PKB, yang mengatakan masih mendukung Anies. Hanya saja PKB merasa kurang sreg dengan PKS karena sebelumnya mengusung  Anies Baswedan dan Shohibul Umam tanpa berkomunikasi dengan PKB.

“Memang ada kendala, yakni PKS mengumumkan sendiri tanpa musyawarah, tiba-tiba muncul AMAN, Anies-Shohibul Iman, tanpa memberi tahu partai koalisi yang lain, yang mestinya dimusyawarahkan. PKB juga belum tentu menerima Shohibul Uman,” jelas Hasbiallah Ilyas, Ketua DPW PKB DKI Jakarta.   

Mengenai PKS yang sedang mencoba mencari opsi lain, di antaranya berniat meninggalkan Anies dan bergabung ke KIM, sedang dalam pembahasan.

Latar belakangnya, menurut Jubir PKS, Muhammad Kholid, PKS telah memberikan tenggat waktu 40 hari sejak deklarasi AMAN 25 Juni 2024 lalu kepada Anies. Tenggat waktu 40 hari itu dinilai cukup. Bahkan Presiden PKS Ahmad Syaikhu sempat turun gunung mencari mitra koalisi buat Anies Baswedan untuk memenuhi kekurangan kursi. Dan sekarang tenggat waktu itu sudah habis.

Muhammad Kholid menilai, Anies telah gagal mencari mitra koalisi yang bisa mengusung duet Anies- Shohibul Iman atau AMAN. Karena itu PKS mulai membuka komunikasi dengan semua pihak agar ada kepastian PKS bisa ikut berkontestasi di Pilkada Jakarta.

“PKS saat ini sudah mulai serius membicarakan opsi bergabung ke koalisi KIM yang mengusung Ridwan Kamil sebagai cagub di pilkada Jakarta,” ucapnya.

Jika Nasdem, PKS dan PKB menjadi kenyataan bergabung ke Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus, maka tamatlah harapan Anies Baswedan maju di Pilkada Jakarta. Ia dengan sendirinya terjegal dengan perubahan koalisi pendukungnya yang berubah haluan. Dan, pada sisi lain jika KIM Plus ini tidak terhindari, dengan masuknya partai non KIM, maka pilkada Jakarta dan calon dari KIM Ridwan Kamil tidak memiliki pesaing. Dan, RK akan berhadapan dengan kotak kosong. Tentu, ini sangat tragis, masyarakat tidak punya pilihan lain. Dan, orang akan heran pilkada Jakarta yang menjadi barometer nasional pemilihan kepala daerah harus tampil dengan calon tunggal melawan kotak kosong.  Dan, siapa yang akan jadi pemenang. Bisa diramalkan bahwa Ridwan Kamil yang juga memiliki nama besar dipastikan unggul. Hanya, yang menjadi teka-teki sekarang ini siapa calon wakil gubernur pendamping Ridwan Kamil. Santer disebut-sebut Kaesang Pangarep, Ketum PSI yang juga putra bungsu Presiden Jokowi. Apakah calon tunggal Pilkada Jakarta ini untuk meloloskan pula Kaesang Pangarep?

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button