Ada orang yang tahu semua hal, kecuali tahu diri.
Ia hafal teori kepemimpinan, tetapi gagal memimpin emosinya. Ia fasih mengutip ayat dan hadis, tetapi lisannya lebih tajam daripada pedang. Ia sibuk mengoreksi dunia, padahal cermin di rumahnya sudah lama berdebu.
Barangkali itulah ironi zaman ini. Kita hidup di era ketika semua orang merasa menjadi pakar. Media sosial telah melahirkan jutaan profesor dadakan, hakim tanpa pengadilan, dan mufti tanpa rasa malu. Semua ingin menjadi mikrofon, tetapi sedikit yang bersedia menjadi telinga.
Islam mengajarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih sulit: tahu diri dan tahu batas.
Dua kalimat pendek ini sesungguhnya merupakan fondasi akhlak seorang mukmin.
Tahu diri bukan berarti minder. Bukan pula merasa tidak berharga. Justru sebaliknya, tahu diri adalah mengetahui siapa diri kita sebenarnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dari tanah. Dari asal yang sama, lalu diberi ruh, akal, dan kesempatan untuk menjadi mulia. Karena itu, kemuliaan bukan berasal dari mobil yang dikendarai, jabatan yang disandang, jumlah pengikut di media sosial, atau panjangnya gelar akademik. Semua itu hanyalah atribut yang sewaktu-waktu bisa dicabut.
Ironisnya, manusia sering lupa asal-usulnya. Baru memperoleh sedikit kekuasaan, cara berjalannya berubah. Baru mendapat sedikit ilmu, cara bicaranya berubah. Baru memiliki sedikit harta, sapanya pun berubah.
Padahal tanah tidak pernah sombong meski setiap hari diinjak.
Mungkin karena kita berasal dari tanah, seharusnya kita belajar rendah hati darinya.
Islam menyebut proses mengenal diri sebagai ma’rifatun nafs. Orang yang mengenal dirinya akan lebih sibuk memperbaiki cacatnya daripada menghitung cacat orang lain.
Muhasabah menjadi aktivitas harian, bukan agenda tahunan menjelang pergantian kalender. Sebab musuh terbesar manusia sering kali bukan orang lain, melainkan ego yang selalu merasa benar.
Lucunya, mencari kesalahan orang lain memang lebih mudah daripada menemukan kesalahan sendiri. Mata manusia sanggup melihat semut di seberang lautan, tetapi gagal melihat gajah yang sedang duduk santai di ruang egonya.
Begitulah humor kehidupan.
Semakin keras seseorang menghakimi orang lain, kadang semakin pelan ia mendengar suara hatinya sendiri.
Namun tahu diri saja belum cukup.
Islam juga mengajarkan tahu batas.
Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkali-kali memperingatkan agar manusia tidak melampaui batas. Sebab hampir semua kerusakan lahir ketika manusia merasa tidak ada lagi garis yang harus dihormati.
Korupsi terjadi karena tidak tahu batas antara amanah dan hak pribadi.
Fitnah menyebar karena tidak tahu batas antara kritik dan penghinaan.
Perselingkuhan muncul karena tidak tahu batas antara perhatian dan godaan.
Kerusakan alam terjadi karena manusia tidak tahu batas antara memanfaatkan dan mengeksploitasi.
Bahkan kelelahan yang kita alami sering berasal dari tidak tahu batas kemampuan diri. Kita ingin menjadi segala-galanya sekaligus. Menjadi pekerja terbaik, orang tua terbaik, pebisnis terbaik, aktivis terbaik, dan pahlawan bagi semua orang.
Akibatnya, tubuh berkata, “Cukup.”
Tetapi ambisi menjawab, “Masih kurang.”
Islam justru mengajarkan keseimbangan. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Maka, memaksakan diri hingga melampaui kemampuan bukanlah tanda ketakwaan, melainkan sering kali tanda ketidakmampuan menerima kenyataan.
Ada pula batas yang sering dilupakan: batas terhadap hak orang lain.
Hari ini privasi dianggap hiburan. Aib menjadi komoditas. Gosip dipoles menjadi konten. Fitnah diberi nama kebebasan berpendapat.
Yang lebih menyedihkan, semua itu kadang dibungkus dengan kalimat, “Saya hanya menyampaikan fakta.”
Padahal tidak semua fakta wajib diumumkan.
Tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang melukai.
Tidak semua komentar harus ditulis.
Dan tidak semua pikiran pantas keluar menjadi ucapan.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengajarkan agar seorang mukmin berkata baik atau diam. Nasihat ini tampak sederhana, tetapi di zaman media sosial mungkin menjadi salah satu ibadah paling berat.
Sebab tombol “kirim” sering kali lebih cepat daripada proses berpikir.
Di sinilah letak satire kehidupan modern.
Kita memiliki teknologi yang mampu menghubungkan miliaran manusia dalam hitungan detik, tetapi belum tentu mampu menghubungkan lidah dengan hati nurani.
Semakin cepat internet, kadang semakin lambat kebijaksanaan.
Padahal ukuran kecerdasan bukanlah seberapa banyak kita berbicara, melainkan seberapa tahu kita kapan harus berhenti.
Maka, tahu diri dan tahu batas sesungguhnya bukan tanda kelemahan.
Justru itulah ciri orang yang matang secara spiritual.
Ia tidak mengecilkan dirinya, tetapi juga tidak membesarkan egonya.
Ia berani bermimpi, tetapi tidak menabrak aturan Allah.
Ia mampu bersuara, tetapi tetap menjaga adab.
Ia memiliki ilmu, tetapi tetap rendah hati.
Karena pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi manusia paling terkenal.
Melainkan perjalanan untuk menjadi hamba yang paling sadar.
Sadar bahwa kita berasal dari tanah.
Berjalan di atas tanah.
Kelak kembali ke dalam tanah.
Dan di antara tiga tanah itu, semoga kita tidak kehilangan satu hal yang paling mahal: tahu diri dan tahu batas.
Referensi
- Al-Qur’an, antara lain QS. Al-Baqarah: 286, QS. Al-Hujurat: 13, QS. Al-A’raf: 31, QS. An-Najm: 32.
- Riyadhus Shalihin – Bab Muhasabah, Tawadhu’, dan Menjaga Lisan.
- Ihya’ Ulum al-Din – Pembahasan tentang ma’rifatun nafs, penyucian jiwa, dan akhlak.
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten

