Suka atau tidak suka, sepak bola adalah olahraga yang paling banyak dimainkan dan ditonton di dunia. Jauh sebelum menjadi olahraga modern, berbagai bentuk permainan menggunakan bola telah dikenal dalam peradaban kuno, seperti cuju di Tiongkok, permainan bola di Yunani dan Romawi, hingga permainan serupa di kawasan Mesoamerika. Akan tetapi, bentuk sepak bola yang kita kenal sekarang lahir di Inggris ketika The Football Association menyusun aturan permainan secara baku pada tahun 1863.
Peristiwa itulah yang kemudian menjadi tonggak lahirnya sepak bola modern sebelum menyebar ke berbagai penjuru dunia melalui jalur perdagangan, pendidikan, pelayaran, dan hubungan antarbangsa (FIFA, History of Football).
Sejak awal perkembangannya, sepak bola memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak cabang olahraga lain. Permainan ini sangat sederhana, mudah dipahami, serta dapat dimainkan hampir di mana saja tanpa memerlukan peralatan yang rumit. Sebuah bola, dua gawang sederhana, dan sebidang tanah sudah cukup untuk menghadirkan kegembiraan. Kesederhanaan inilah yang menjadikan sepak bola diterima oleh masyarakat lintas budaya, bahasa, suku, agama, bahkan tingkat ekonomi.
Semangat kebersamaan tersebut semakin menguat ketika Fédération Internationale de Football Association (FIFA) berdiri pada tahun 1904 sebagai induk organisasi sepak bola dunia. Melalui FIFA, berbagai kompetisi internasional mulai diselenggarakan secara lebih teratur hingga akhirnya lahirlah Piala Dunia pertama di Uruguay pada tahun 1930. Sejak saat itu, Piala Dunia berkembang menjadi panggung tertinggi sepak bola yang selalu dinantikan setiap empat tahun sekali (FIFA World Cup History).
Dalam perkembangannya, Piala Dunia tidak lagi dipandang sekadar sebagai turnamen olahraga. Ia telah menjelma menjadi pesta kemanusiaan berskala global yang menyatukan perhatian miliaran manusia dari berbagai negara. Selama hampir satu bulan, dunia seolah berbicara dalam bahasa yang sama: bahasa sepak bola. Perbedaan bahasa, warna kulit, maupun agama seakan melebur dalam semangat kompetisi yang sehat. Mestinya demikian, semoga!.
Setiap penyelenggaraan Piala Dunia selalu menghadirkan gegap gempita yang luar biasa. Stadion dipenuhi ribuan pendukung dengan atribut kebanggaan masing-masing, sementara miliaran penonton mengikuti jalannya pertandingan melalui televisi maupun berbagai platform digital. Tidak berlebihan jika FIFA menyebut Piala Dunia sebagai salah satu perhelatan olahraga terbesar di muka bumi, bahkan menjadi salah satu acara yang paling banyak ditonton dalam sejarah penyiaran global (FIFA; Nielsen Sports).
Di balik kemeriahannya, sepak bola juga memiliki daya rekat sosial yang sangat kuat. Pertandingan mempertemukan bangsa-bangsa yang mungkin berbeda sejarah, budaya, bahkan pernah mengalami konflik politik. Namun selama sembilan puluh menit di atas lapangan, mereka dipersatukan oleh aturan yang sama, menghormati wasit yang sama, dan menerima hasil pertandingan dengan semangat sportivitas. Setelah peluit panjang berbunyi, para pemain saling berjabat tangan, bertukar jersey, bahkan saling mendoakan. Indah bukan?!
Karena itu, sepak bola layak dipandang sebagai miniatur kehidupan manusia. Di dalamnya terdapat kerja sama, kepemimpinan, disiplin, pengorbanan, strategi, kegigihan, sportivitas, hingga penghormatan terhadap lawan. Kemenangan memang membahagiakan, tetapi nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di dalamnya jauh lebih berharga daripada sekadar angka di papan skor.
Menjadi Ruang Ekspresi Keberagamaan
Ada sebagian orang menilai tidak dewasa jika sepakbola dikaitkan dengan ikatan atau sentimen agama. Benarkah opini tersebut? Mari kita telusuri bersama jawabannya berdasarkan fakta ya. Sebagai organisasi internasional, FIFA menempatkan sepak bola sebagai olahraga yang bersifat universal dan terbuka bagi seluruh bangsa tanpa membedakan agama, ras, maupun latar belakang budaya. Netralitas tersebut menjadi fondasi penting agar setiap negara memiliki kesempatan yang sama untuk berkompetisi secara adil berdasarkan aturan permainan yang berlaku (FIFA Statutes).
Namun demikian, netralitas lembaga olahraga tidak berarti menghapus identitas pribadi para pemain. Di atas lapangan hijau, para pesepak bola tetap hadir sebagai manusia yang memiliki keyakinan, nilai, dan cara masing-masing dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Karena itu, ekspresi keberagamaan sering kali muncul secara alami tanpa mengganggu jalannya pertandingan.
Salah satu pemandangan yang paling sering disaksikan ialah sujud syukur setelah mencetak gol. Sejumlah pemain Muslim seperti Mohamed Salah, Sadio Mané, Achraf Hakimi, hingga banyak pemain lainnya beberapa kali melakukan sujud syukur sebagai bentuk penghambaan kepada Allah atas nikmat yang mereka rasakan. Selebrasi tersebut bukanlah pertunjukan, melainkan refleksi spontan dari keyakinan yang mereka anut.
Di sisi lain, banyak pula pemain Kristen yang membiasakan diri membuat tanda salib sebelum pertandingan dimulai, menengadahkan tangan saat berdoa, atau menunjuk ke langit setelah mencetak gol sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Nama-nama seperti Kaká, Neymar, Robert Lewandowski, hingga Lionel Messi dan sejumlah pemain lain pernah memperlihatkan ekspresi religius serupa dalam berbagai pertandingan internasional.
Menariknya, ekspresi spiritual tidak hanya tampak ketika mencetak gol. Pada saat jeda pertandingan atau cooling break, tidak jarang terlihat beberapa pemain berkumpul sejenak untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Ada yang menengadahkan tangan, ada yang menundukkan kepala dalam keheningan, dan ada pula yang sekadar memejamkan mata untuk memohon kekuatan sebelum pertandingan dilanjutkan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa profesionalisme dan religiositas tidak harus dipertentangkan. Sepak bola memberikan ruang bagi setiap individu untuk menjalankan keyakinannya selama dilakukan dengan penuh penghormatan terhadap orang lain dan tidak menjadikan lapangan sebagai arena provokasi ataupun pemaksaan agama. Nilai universal olahraga justru semakin indah ketika dihiasi sikap saling menghormati terhadap keberagaman tersebut.
Dengan demikian, sepak bola mengajarkan pelajaran yang sangat penting bagi kehidupan modern. Netralitas bukan berarti menghilangkan agama dari ruang publik, melainkan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk mengekspresikan keyakinannya secara santun. Dalam kerangka itulah olahraga menjadi ruang perjumpaan yang tidak menghapus identitas, tetapi mengajarkan bagaimana identitas dapat hidup berdampingan secara damai.
Dari Ukhuwwah Nasabiyah Menuju Ukhuwwah Insaniyah
Dalam salah satu tulisan Muhlisin Ibnu Muhtarom dijelaskan bahwa persaudaraan manusia memiliki beberapa tingkatan yang saling melengkapi. Tingkatan pertama adalah ukhuwwah nasabiyah, yakni persaudaraan karena hubungan darah dan kekeluargaan. Ikatan ini merupakan fitrah paling awal yang Allah tanamkan dalam kehidupan manusia sehingga keluarga menjadi sekolah pertama bagi tumbuhnya kasih sayang dan kepedulian.
Di atas ikatan keluarga terdapat ukhuwwah hizbiyah, yaitu persaudaraan karena kesamaan organisasi, komunitas, profesi, atau perjuangan. Persamaan cita-cita sering kali melahirkan solidaritas yang sangat kuat meskipun para anggotanya tidak memiliki hubungan kekerabatan. Mereka dipersatukan oleh visi, nilai, dan tujuan bersama.
Lingkaran persaudaraan kemudian meluas menjadi ukhuwwah wathaniyah, yaitu persaudaraan sebangsa dan setanah air. Dalam kehidupan bernegara, seluruh warga negara dipersatukan oleh konstitusi, sejarah, bahasa, dan cita-cita nasional meskipun memiliki latar belakang agama, suku, maupun budaya yang berbeda. Karena itulah menjaga persatuan bangsa merupakan bagian penting dari tanggung jawab setiap warga negara. Inilah nasionalisme.
Puncak dari seluruh tingkatan tersebut adalah ukhuwwah insaniyah atau ukhuwwah basyariyah, yaitu persaudaraan sesama manusia. Islam mengajarkan bahwa seluruh manusia berasal dari pasangan yang sama, yaitu Nabi Adam dan Sayyidah Hawa. Oleh sebab itu, setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati tanpa memandang agama, ras, warna kulit, maupun kewarganegaraannya.
Nilai luhur tersebut dapat disaksikan dalam dunia sepak bola. Para pemain yang berbeda agama saling berpelukan setelah pertandingan, saling menghibur ketika mengalami kekalahan, bertukar jersey sebagai simbol persahabatan, bahkan bersama-sama menyuarakan penolakan terhadap rasisme dan segala bentuk diskriminasi. Kompetisi berlangsung sengit, tetapi kemanusiaan tetap menjadi panglima.
Prinsip persaudaraan universal juga tampak dalam berbagai isu kemanusiaan dunia. Dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina, misalnya, tidak hanya datang dari negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sejumlah negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim seperti Spanyol, Irlandia, dan Norwegia secara resmi mengakui Negara Palestina pada tahun 2024 sebagai bagian dari upaya mendorong penyelesaian damai berdasarkan prinsip kemanusiaan dan solusi dua negara. Sikap tersebut menunjukkan bahwa empati terhadap penderitaan suatu bangsa tidak selalu dibatasi oleh kesamaan agama, melainkan dapat lahir dari hati nurani dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal (Pemerintah Spanyol; Pemerintah Irlandia; Pemerintah Norwegia; Reuters, 2024).
Pada akhirnya, sepak bola mengajarkan bahwa manusia dapat berkompetisi tanpa kehilangan rasa hormat, dapat berbeda tanpa harus bermusuhan, dan dapat mempertahankan identitas tanpa menafikan kemanusiaan. Lapangan hijau memang hanya berukuran sekitar 105 × 68 meter, tetapi nilai-nilai yang lahir darinya mampu menjangkau seluruh penjuru dunia. Di sanalah sepak bola menjadi lebih dari sekadar olahraga; ia menjadi bahasa persaudaraan global yang mempertemukan agama, budaya, bangsa, dan peradaban dalam satu semangat: memuliakan martabat manusia.
Last but not least, terkhusus bagi saudara muslim hendaknya semakin menyakini bahwa semua jenis persaudaraan tersebut sebelumnya bersifat sementara, temporer. Persaudaraan abadi nan hakiki adalah persaudaraan berbasis Islam (ukhuwah islamiyyah) atau berdasarkan iman (ukhuwwah imaniyah) yang tidak hanya terbatas di dunia tetapi akan langgeng sampai akherat alam baka. Jadi, mestinya perbedaan manhaj aKidah, mazhab fikih hingga afiliasi partai dan atau organisasi janganlah menjadi penghalang menguatkan serta merekatkan persaudaraan sesama orang Islam yang beriman.
Penulis: Muhlisin Ibnu Muhtarom, Guru di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor, dan penulis buku Kiat Hebat Santri Belajar Bermasyarakat_

