Sunan Drajat, atau Raden Qasim, meninggalkan warisan emas bagi kita berupa “Pepali Pitu”.
Ajaran ini bukan sekadar filosofi di atas kertas, melainkan panduan hidup yang sangat membumi, menekankan keseimbangan antara spiritualitas pribadi dan kepedulian sosial.
Berikut adalah penjabaran tujuh konsep tersebut agar lebih mudah kita resapi dan terapkan sehari-hari:
1. Mangun Resep Tyasing Sasama (Membahagiakan Sesama)
Hidup yang bermakna dimulai dari kemampuan kita untuk menjadi sumber kegembiraan bagi orang lain.
Konsep ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati justru hadir saat kita mampu meringankan beban atau sekadar memberikan senyum kepada orang di sekitar.
Dengan membahagiakan sesama, kita menciptakan harmoni dalam lingkungan sosial.
2. Jroning Suka Kudu Eling lan Waspada (Ingat dan Waspada dalam Kegembiraan)
Saat kita berada di puncak kesuksesan atau kesenangan, godaan untuk sombong atau lalai sangat besar.
Sunan Drajat mengingatkan agar kita tetap “eling” (ingat kepada Tuhan) dan “waspada” (hati-hati terhadap diri sendiri). Kegembiraan jangan sampai membuat kita kehilangan kendali atau melupakan prinsip hidup yang benar.
3. Laksianing Subrata Tan Nyipta Marang Pringga Bayaning Lampah (Tangguh dalam Perjuangan)
Mengejar cita-cita luhur pasti akan menghadapi rintangan. Konsep ini menanamkan mental baja; jangan biarkan hambatan, cemoohan, atau bahaya menyurutkan langkah.
Fokuslah pada tujuan akhir, dan hadapi setiap rintangan dengan ketabahan tanpa perlu merasa gentar.
4. Meper Hardening Pancadriya (Mengendalikan Nafsu)
Kekuatan manusia terletak pada kemampuannya menaklukkan dirinya sendiri. “Meper hardening pancadriya” adalah disiplin diri untuk menekan gejolak nafsu indrawi—seperti rakus, amarah, atau keinginan berlebihan.
Dengan mengendalikan nafsu, kita tidak diperbudak oleh keinginan sesaat dan mampu menjaga kejernihan pikiran.
5. Heneng-Hening-Henung (Diam, Hening, Mulia)
Ini adalah tangga spiritualitas.
“Heneng” berarti diam dari kebisingan dunia,
“Hening” adalah kejernihan batin dalam suasana sunyi, dan “Henung” adalah tercapainya kebijaksanaan atau kebebasan jiwa yang mulia.
Melalui refleksi dalam diam, kita akan menemukan jawaban atas persoalan hidup yang rumit.
6. Mulya Guna Panca Waktu (Kemuliaan dalam Salat)
Spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari ibadah.
“Mulya guna panca waktu” menegaskan bahwa kemuliaan lahir dan batin berakar dari kedisiplinan menjalankan salat lima waktu.
Ibadah ini menjadi jangkar yang menjaga kesadaran kita agar tetap terhubung dengan Sang Pencipta di tengah hiruk-pikuk dunia.
7. Menehono Teken, Mangan, Busana, Pangiyup (Aksi Nyata Filantropi)
Inilah puncak pengamalan ajaran Sunan Drajat.
Beliau menekankan perlunya pertolongan konkret bagi mereka yang membutuhkan:
- “Menehono teken:” Memberi “tongkat” bagi yang buta; artinya memberikan ilmu, bimbingan, atau arahan bagi yang sedang tersesat dalam hidup.
- “Menehono mangan:” Memberi makan bagi yang lapar; pemenuhan kebutuhan dasar fisik agar sesama tidak menderita.
- “Menehono busana:” Memberi pakaian bagi yang telanjang; menjaga kehormatan dan martabat manusia agar mereka tidak merasa rendah diri.
- “Menehono pangiyup:” Memberi tempat berteduh bagi yang kehujanan; memberikan rasa aman, perlindungan, dan kasih sayang kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan hidup.
Dengan menjalankan ketujuh prinsip ini, Sunan Drajat mengajak kita untuk menjadi pribadi yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga bermanfaat bagi semesta.
Hidup menjadi lebih luwes, tenang, dan penuh dengan keberkahan karena kita mampu menyeimbangkan antara kebutuhan diri, hubungan dengan Tuhan, dan tanggung jawab terhadap sesama manusia.
Penulis: Ir. H. Zen Zainul HP., seniman Kemerdekaan, penulis lagu dan vokalis TekSas UI Band, peraih Rekor MURI bidang Seni, dan Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi



