Di bawah langit Leran yang perlahan meredup, deburan ombak pesisir Gresik berbisik riuh seakan menceritakan sebuah kisah yang teramat jauh. Kisah tentang seorang pengelana dari tanah Samarkand, Uzbekistan, yang melintasi ribuan mil samudra demi sepotong takdir yang telah tertulis di bumi Nusantara. Maulana Malik Ibrahim namanya, seorang asing yang kelak kita sebut dengan penuh takzim sebagai Sunan Gresik—sang pembuka jalan, sang fajar pertama yang menyanyikan kidung tauhid di atas sunyinya tanah Jawa.
Ketika kakinya pertama kali menyentuh pasir hangat Desa Sembalo pada akhir abad ke-14, ia tidak datang membawa panji-panji kemegahan. Tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada paksaan yang menderu. Beliau datang hanya dengan kesederhanaan seorang pedagang dan kelembutan seorang tabib yang berjalan di antara debu-debu jalanan. Di sela-sela hamparan kain dagangan dan ramuan obat yang ia bagikan tanpa pamrih, ia menyelipkan sebuah pesan sunyi yang meruntuhkan sekat-sekat lara. Di hadapan Sang Pencipta, bisiknya lirih, tidak ada lagi kasta yang memenjarakan jiwa manusia. Semua sama, sewarna tanah, seringkih debu yang ditiup angin pesisir.
Ada melankoli yang getir sekaligus indah ketika kita membayangkan hari-hari pertamanya di tanah yang asing ini. Menatap langit malam Jawa yang begitu berbeda dengan langit tempat masa kecilnya di seberang benua, mungkin ada kerinduan mendalam pada tanah kelahiran yang ia titipkan pada angin malam. Namun, cinta pada dakwah telah mengaburkan batas antara rumah dan perantauan. Bumi Jawa telah menjadi rahim kedua bagi jiwanya. Dengan sabar yang tiada bertepi, ia duduk bersama para petani, mendengarkan keluh kesah mereka yang lelah oleh kasta, dan menyentuh hati mereka yang terpinggirkan dengan kelembutan yang teramat santun.
Tahun-tahun berganti bagai hela nafas yang panjang, membawa dakwahnya meresap ke dalam pori-pori bumi pesisir. Hingga akhirnya, pada tahun 1419 M, langkah sang pionir harus terhenti. Nafas terakhir sang perintis berembus tenang di bumi yang teramat ia cintai ini, meninggalkan duka yang mendalam pada setiap hati yang pernah ia sembuhkan. Di Desa Gapurosukolilo, tubuhnya yang lelah kini beristirahat dalam keabadian jasad, berkalang tanah Jawa yang telah ia merdekakan jiwanya.
Namun, Sunan Gresik tidak benar-benar pergi. Ia hanya berpulang setelah menanam benih yang teramat kokoh. Dari rahim dakwahnya yang sunyi, ia mewariskan seuntai silsilah suci melalui putranya, Sunan Ampel, yang kelak melanjutkan rajutan syiar Islam hingga menjadi pohon yang rindang di seluruh Nusantara. Maulana Malik Ibrahim telah kembali kepada Kekasihnya, tetapi ketukan pertama di pintu hati tanah Jawa itu akan selalu bergema—abadi di sela semilir angin laut yang tak pernah lelah menyapa nisan tuanya yang sunyi.
Penulis: Ir. H. Zen Zainul HP., seniman Kemerdekaan, penulis lagu dan vokalis TekSas UI Band, peraih Rekor MURI bidang Seni, dan Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi

