Tempat itu bernama Gillwell Scouts Nature Park Sandakan. Letak geografisnya di bagian atas Pulau Kalimantan (Borneo) dan secara administratif masuk wilayah Sandakan, Sabah, Malaysia Timur. Sandakan kota terbesar kedua di Sabah setelah Kota Kinabalu. Dari Kota Kinabalu, jarak ke tempat itu sekitar 350-an km (6-7 jam perjalanan darat) dan dari Tawau jaraknya 320-an km (5-6 jam perjalanan darat).
Pada 27-31 Oktober 2025, tempat itu bernilai historis: menjadi titik kumpul sekitar 700-an Pramuka Indonesia beserta Kakak Pendamping dan Kakak Pembina dalam Jambore Anak Indonesia di Malaysia (JAIM) ke-9. Pesertanya adalah 516 pelajar Indonesia Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari 42 Community Learning Center (CLC) sewilayah Sabah (Pantai Barat, Pedalaman, Sandakan, Lahad Datu, Kinabatangan, Tawau) dan dari Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).
CLC adalah tempat belajar bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang lahir di Sabah, untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ini adalah produk dari hasil kesepakatan yang baik antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia dalam bidang pendidikan yang ditandatangani pada 2011.
Di Sarawak, sebuah negeri lain di Malaysia Timur, CLC juga diizinkan beroperasi mulai awal 2016 dengan tujuan yang sama (untuk jenjang SD). Sampai Agustus 2025, menurut data SIKK sebagai sekolah induk, terdapat 239 CLC di Sabah dan 58 CLC di Sarawak, dengan jumlah total muridnya yang ber-NPSN 15.480 Pelajar SD dan 5566 Pelajar SMP.
JAIM sendiri merupakan salah satu program unggulan bagi semua warga CLC SMP di Sabah, yang diselenggarakan dalam bentuk perkemahan besar dan rangkaian kegiatan kepramukaan. Ini kegiatan rutin setiap tahun yang digelar di beberapa tempat di Sabah sejak 2014 –sempat terhenti pada 2020-2022 akibat Covid-19.
Gerakan pramuka, seperti dimaklumi, memiliki peran sangat penting bagi pembinaan karakter generasi muda Indonesia dalam upaya memupuk semangat bela negara dan rasa cinta tanah air. Pemerintah Indonesia menetapkan pendidikan kepramukaan sebagai kegiatan ekstra-kurikuler wajib di sekolah formal pada jenjang SD, SMP dan SMA/SMK.
Panitia JAIM ke-9 mengusung tema, “Bersatu dalam Semangat Pramuka: Merajut Persahabatan, Merayakan Budaya Serumpun,” dengan jargon “Satu Semangat, Dua Budaya, Seribu Persaudaraan”. Pembiayaan kegiatan diperoleh secara gotong royong yang bersumber dari dana Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dari setiap CLC SMP di Sabah, yang diterima dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Ada juga bantuan lepas dari beberapa sponsor.
Menurut ketuanya, Kak Ganjar Garniadi, JAIM tahun ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan juga sarana pembinaan karakter bagi anak-anak Indonesia di perantauan. “Melalui kegiatan pramuka ini, kita berharap anak-anak bisa lebih memahami budaya bangsa dan membangun pemahaman bersama tentang arti kebersamaan dan gotong royong,” ungkapnya.

JAIM ke-9 dibuka secara resmi pada Selasa pagi, 28 Oktober 2025, oleh Kepala Sekolah SIKK Sahyuddin, S.Pd., MA TESOL. Ikut hadir juga antara lain AKBP Muliyawaty Syam (ILO POLRI Tawau), Bacho Bin Tali (Pesuruhjaya Kantor Pusat Pengakap Malaysia), Asp. Mohd Farid Ghani (IPD Sandakan), Lawrance Tan Ken Yee (Timbalan Ketua Pesuruhjaya Pengakap Sabah Bahagian Sandakan), perwakilan sponsor, Koordinator Penghubung (KP) CLC Wilayah Sabah dan lain-lain.
Di bawah sinar mentari yang cukup cerah, upacara pembukaan berjalan begitu meriah. Semua peserta tetap bersemangat, apalagi saat menyaksikan berbagai penampilan tarian dan nyanyian dari masing-masing CLC dengan busana berhiaskan pernik-pernik bernuansa alam. Termasuk ketika mereka menikmati irama tabuhan drum dari Tim Drum Band CLC Karseng Plantation bimbingan Kak Eko Setyo, serta lantunan jingle JAIM yang nge-rocky dari Grup Band “Kapal Tua” dari CLC Tomanggong bimbingan Kak Delki.
Dalam sambutan peresmian, Sahyuddin menegaskan pentingnya kegiatan seperti JAIM sebagai wadah mempererat persaudaraan di antara anak-anak Indonesia yang tinggal dan menempuh pendidikan di Malaysia. Ia menyebut kegiatan ini bukan hanya tentang permainan dan kegiatan lapangan, tetapi juga pembelajaran nilai-nilai kebangsaan dan solidaritas.
“Kita berharap melalui kegiatan ini, anak-anak Indonesia di Sabah dapat terus memperkuat silaturahmi, baik sesama siswa Indonesia maupun dengan pramuka atau pengakap yang ada di Malaysia. Apalagi Malaysia sekarang menjadi Ketua ASEAN. Melalui jambore ini, kita ingin memperkenalkan nilai-nilai persahabatan, kerja sama, dan toleransi kepada generasi muda,” ujarnya.
Lawrance Tan Ken Yee, Wakil Ketua Pesuruhjaya Pengakap Sabah Bahagian Sandakan, setuju dengan Kak Sahyuddin. “Kami sepakat bahwa perkemahan dapat mempererat pertukaran dan kerja sama antara pramuka kedua belah pihak serta mempromosikan persahabatan internasional. Oleh karena itu, Persatuan Pramuka Sabah sepenuhnya mendukung kegiatan seperti JAIM ini,” tegasnya seraya mohon maaf karena Pengakap Sabah tidak dapat ikut serta secara maksimal terutama akibat baru saja ikut Program Jota Joti di beberapa wilayah di Sabah, selain juga karena mereka masih dalam masa ujian sekolah.
Kakak-kakak Panitia memang sudah merencanakan dan mempersiapkan Program JAIM ke-9 dengan rapi dan matang. Mereka bahkan sudah “berkampung” di Taman Gilwell sebulan sebelum hari H, secara bergantian, siang-malam. Tidak heran jika wajah kompleks perkemahan itu selama lima hari benar-benar bernuansa Indonesia.

Dengan persiapan seperti itu, tak heran seluruh peserta JAIM ke-9 bisa mengikuti berbagai rangkaian kegiatan dengan perasaan riang gembira. Semua mengikuti beragam aktivitas seperti pelatihan pramuka, kegiatan edukatif, permainan tradisional, outbond, hingga pertunjukan budaya. Seluruh kegiatan dirancang untuk menumbuhkan rasa percaya diri, kerja tim, dan kebanggaan terhadap identitas Indonesia.
Itulah, antara lain, yang dirasakan Nur Alisa. Pelajar Kelas 9 CLC Pamol itu sangat gembira bisa mengikuti JAIM ke-9. Baginya, inilah pengalaman pertamanya ikut perkemahan pramuka yang sarat dengan aktivitas positif, apalagi diselenggarakan di tempat yang jauh dari rumahnya.
“Asyik banget ikut JAIM. Awalnya kami kaget karena hujan terus turun dan tenda kebanjiran. Kampung perkemahan juga penuh lumpur. Tapi dengan kegiatan yang asyik, baik tentang kepramukaan, permainan, semua peserta jadi enjoy. Kami semua jadi dapat banyak pengalaman baru, kawan baru yang juga sesama pelajar CLC di Sabah. Pokoknya keren, deh, JAIM ke-9. Terima kasih semua Kakak Panitia yang sudah menyiapkan acara dengan baik,” ujarnya sumringah.
Perasaan serupa juga dialami Kak Nur Akhmad Ngafifudin. Pembimbing dari CLC Lumadan Beaufort itu juga baru kali pertama mengantar peserta ke JAIM. Menurutnya, program ini sangat positif. Tim Panitia, dengan dukungan SIKK dan Perwakilan RI di Tawau dan Kota Kinabalu, juga harus diacungi jempol: bisa menggelar acara akbar ini di negara orang, sementara mayoritas pesertanya tidak berdokumen resmi.
“Tapi alhamdulillah semua berjalan lancar dan aman. Walau sekarang musim hujan dan perkemahan basah dan berlumpur, semua tetap sehat dan mereka senang mengikutinya. Terima kasih untuk semua pihak yang sudah sukses membantu menyelenggarakan acara ini dengan baik,” tegas Guru Pamong CLC Ladang Kimanis itu seraya berharap bisa ikut JAIM lagi nanti.
Ya, JAIM ke-9 baru saja berlalu. Mulai Jumat siang (31/10/2025), semua peserta kembali ke tempat masing-masing diantar oleh 16 bus yang disewa khusus, baik untuk keberangkatan atau kepulangan. Perjalanan mereka cukup jauh dan pasti melelahkan. Tapi semua seakan sirna dengan kenangan manis yang mereka dapatkan. “Juga menimbulkan semangat lebih tinggi untuk memperkokoh persaudaraan bagi semua pelajar CLC di Sabah khususnya, juga di Malaysia pada umumnya,” tambah Kak Ganjar. Sayonara dan sampai jumpa di JAIM seterusnya. InsyaAllah….
Dalam perjalanan pulang dari Taman Gilwell, masih terngiang suara lantang Kak Anita dan Kak Hariri saat membacakan puisi “Irama Satu Nusa di Tanah Serumpun” karya Anita Hartini Suryaman. Puisi itu dibacakan pada bagian akhir upacara pembukaan JAIM ke-9, persis pada hari peringatan Sumpah Pemuda ke-97. Begini, antara lain, bunyi penggalan puisi yang dibuat spontan di tanah perkemahan itu:
Di tanah seberang, di bawah langit yang sama
Kami datang membawa cerita bangsa
Pantun, tarian, dan lagu berbaur mesra
Menjadi alunan lembut yang mempersatukan jiwa
Lihatlah anak-anak itu menabuh genderang,
Dengan ritme keberanian, dengan semangat persatuan.
Cinta tanah air, bagi kami, bukan sekadar kata,
Kami suarakan kembali janji yang mulia
Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Indonesia
Menggema di hati anak-anak Indonesia di Malaysia.
Kota Kinabalu, 31 Oktober 2025
Nasrullah Ali Fauzi, Koordinator Penghubung CLC Wilayah Kota Kinabalu



