Aktualita

Kapan Bencana Bisa Disebut Takdir

Duka yang dalam dialami Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, 29 September 2025 lalu. Musibah ambruknya bangunan pondok tersebut telah menewaskan sebanyak 66 orang santri. Menyikapi musibah tersebut pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny memohon maaf atas peristiwa tersebut. Ia menyebut kejadian itu sebagai takdir dari Allah.

“Saya kira ini memang takdir dari Allah. Semuanya harus bersabar dan mudah-mudahan diberi ganti oleh Allah dengan balasan dan pahala yang lebih baik,” harapnya.

Menyikapi peristiwa yang menelan korban para santri tersebut, para orang tua santri juga pasrah menerima nasib anaknya. Sampai saat ini tidak ada yang berniat menggugat pengasuh pesantren secara hukum. Mereka tampaknya tidak melihat ini sebagai kelalaian. Hanya musibah yang tidak terduga.

Meskipun demikian,  ada juga yang menduga kemungkinan  adanya kelemahan dalam pembangunan gedung pesantren tersebut.  Terutama pada fondasi yang menahan bangunan. “Diduga fondasi tidak kuat sehingga bangunan dari lantai empat runtuh hingga lantai dasar,” ujar Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, sebagaimana dikutip Antara (30/9/2025).

Hal senada dikemukakan Abdul Muhari, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB,  apa yang terjadi di Pesantren Al Khoziny termasuk musibah kegagalan teknologi yang perlu diantisipasi melalui penerapan standar keselamatan konstruksi secara ketat.   

Dua Macam Takdir

Takdir diartikan sebagai ketentuan yang telah ditetapkan  oleh Allah. Percaya kepada takdir Allah merupakan salah satu rukun iman yang keenam. Dan disebut juga percaya pada qada dan qadar atau takdir.Dengan demikian keyakinan pada takdir merupakan hal penting dalam Islam dan merupakan keyakinan pokok.

Yang menjadi pertanyaan apakah jika ada musibah yang terkait dengan kelalaian manusia bisa disebut takdir dari Allah?

Dalam kehidupan ini manusia menghadapi berbagai kenyataan baik yang menggembirakan maupun kenyataan pahit. Misal, ada yang hidup dengan memiliki kekayaan, namun ada juga yang hidup miskin dan menderita. Ada bangsa yang maju di bidang ekonomi dan teknologi, tapi ada bangsa yang terkebelakang dan kehidupan ekonomi yang buruk. Bisakah ini disebut sebagai takdir?

Secara garis besar para ulama membagi takdir pada dua macam. Pertama Takdir Mubram, yaitu takdir Allah yang bersifat mutlak dan tidak bisa berubah dan diubah oleh usaha manusia. Misalnya, soal kematian, jenis kelamin, jodoh, waktu dan tempat kelahiran. Dalam takdir Mubram kita diajarkan untuk menerima ketetapan Allah dengan ikhlas.

Kedua, Takdir Muallaq , yakni ketetapan Allah yang tergantung pada ikhtiar, usaha dan doa manusia. Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengubah nasibnya melalui kerja keras dan berdoa sehingga memperoleh hasil yang diinginkan. Dalam hal ini sebagai contoh soal rezeki, pendidikan, karier, pergaulan di masyarakat, maupun masalah kesehatan. Dalam Al-Qur’an bahkan ada ayat yang mengatakan,  “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga  mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’ad ayat 11).

Juga dalam hadis Nabi dijelaskan,  “Orang muslim yang kuat, lebih baik dari orang muslim yang lemah.”  Kuat di sini maknanya bukan hanya fisik manusia, tapi juga mampu atau kuat secara ekonomi,teknologi, pendidikan, pembangunan, dan semacamnya.

Berdasarkan pembagian takdir dan penjelasan Al-Qur’an dan hadist di atas bisa diintisarikan, bahwa musibah yang terjadi dalam kehidupan manusia rasanya tidak bisa disederhanakan sebagai takdir dan ketetapan Allah semata. Demikian juga tidak semua bencana bisa dipertanggungjawabkan kepada Allah. Dalam hal ini musibah atau bencana yang terjadi dalam kehidupan manusia bisa jadi karena kekurangcermatan, kekurangtelitian,maupun kealfaan dan kekhilafan manusia.  

Bahkan Al-Qur’an menegaskan, bahwa bancana dan kerusakan alam yang lebih besar saja, yaitu kerusakan lingkungan, disebabkan ulah manusia. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (Ar-Rum ayat 41). 

Isyarat Al-Qur’an ini mewanti-wanti dan mengingatkan kita supaya bekerja dengan teliti dan cermat. Jika semuanya telah dilakukan dengan penuh perhitungan barulah kita bertawakkal dan berserah diri kepada Allah. Mungkin ini yang disebut takdir. 

 

Arfendi Arif

Arfendi Arif, Redaktur Panji Masyarakat, pengasuh Majalah Inhouse Magazine, dan penulis buku dan biografi. Tinggal di Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button