Ahad, 8 September 2024, Hj. Putri Zizi Novianti atau yang lebih dikenal Puput Novel, pulang ke rahmatullah. Penyanyi dan mantan aktris cilik ini mengidap kanker payudara sejak 2021. Kini ia telah beristirahat di Taman Pemakaman Umum Sanjaya, Jakarta Selatan. Setelah prosesi pemakaman selesai, ibunda Puput, Susi, kembali menghampiri pusara makam putrinya dan mengucapkan kata-kata mengandung doa berikut ini:
“Ya Allah, Rasulullah, titip anak hamba ya Allah, titip anak hamba ya Allah, ya Robbi, ampuni dosanya, ampuni dosa anak hamba, ampuni dosa anak hamba. Dosanya dia adalah dosanya hamba, bukan dosanya dia, dia nggak punya dosa, ampuni dosanya, saya yang berdosa, dia tidak ada dosa sama sekali ya Allah. Terima di surga-Mu ya Allah, selamat jalan anakku sayang.”
Lebih dari seperempat abad yang lalu, Puput Novel, kelahiran Jakarta, 31 Agustus 1974, menceritakan pengalaman religiusnya kepada wartawan Panji Masyarakat, Muzakkir Husain. Waktu itu dia antara lain berbicara mengenai kehidupan para pesohor khususnya para artis yang kerap diasumsikan dekat dengan dosa. Padahal, kata dia, kehidupan apa pun punya risiko tergelincir dalam kubangan dosa. Karena itu, kata dia, semua kalangan membutuhkan agama untuk dijadikan pegangan moral, sumber nilai, dan penuntun ke jalan yang lurus.
Untuk mengenang kepergian Puput Novel, kami sajikan kembali pengalaman keagamaan artis penyanyi yang pernah berkibar di era 1980-an itu, yang dimuat di Majalah Panji Masyarakat, 23 September 1998, di bawah tajuk “Puput Novel: Lebih Syahdu Karena Ibadah”. Redaksi.
Sirene Bahaya
Dengan kemampuan nyanyi yang dianugerahkan Allah itu, aku tumbuh dewasa sebagai artis. Sampai saat ini, dalam benakku, profesi ini pulalah yang akan terus aku geluti. Bagiku menyanyi memang tidak lagi sekadar hobi, tetapi juga sebagai tempat mengaktualkan diri, mata pencarian, sekaligus ibadah. Aku menggelutinya serius sebagaimana seorang dokter menggeluti profesinya. Dan, menjadi artis pun ternyata tidak mudah. Banyak godaannya. Aku lagi-lagi merasa beruntung telah diberi bekal agama sejak dini. Alhamdulillah, aku masih terus terjaga, tidak terjerumus ke dalam sisi gelap kehidupan selebritis. Nilai-nilai agama mengukuhkan penalaranku — untuk tidak mencoba-coba ekstasi, pergaulan bebas, dan hal-hal negatif ainnya. Selalu ada sirene, rasanya, dari dalam hati, ketika langkahku mulai nyerempet ‘bahaya’,
Ibu menurunkan kebiasaan puasa Senin-Kamis kepadaku. Juga zikir dan salat malam. Aku sendiri merasa belum sepenuhnya melaksanakan itu semua. Tapi, insya Allah, aku selalu mencoba dan meyakini manfaatnya. Mungkin ada pertanyaan, “Masa iya, artis melakukan hal-hal seperti itu?” Aku sedih dan sulit menjawab. Kenapa masih ada pemikiran dikotomis seperti itu, seakan-akan agama tidak diperuntukkan bagi para artis.
Islam, baik nilai maupun ritualnya, diperuntukkan bagi segenap manusia. Ada lagi yang menyanggah. “Ah, para artis terlalu sibuk untuk beribadah.” Menurutku, sesibuk-sibuknya artis, dia pasti memiliki waktu luang untuk khusyuk sujud kepada Tuhannya. Di sisi lain, agama sama sekali bukanlah sesuatu yang memberatkan. Kenapa kita dibolehkan menjamak salat bila benar-benar terdesak, kenapa kita bisa berbuka bila benar-benar tak bisa puasa? Semua itu menandakan agama tidak bisa ditinggalkan karena alasan apa pun.

Agama adalah kebutuhan hidup. Sejak pagi kita sibuk dengan urusan dunia. Alangkah indahnya bila kita netralkan kembali saraf kita, jiwa kita, dengan gir wudu pada siang harinya. Kita jeda sejenak untuk kembali mengambil jarak dari semua persoalan dunia yang fana. Menjelang sore kita kembali sujud, begitu pula memasuki malam, lalu menjelang istirahat total. Tidakkah itu indah?
Kehidupan sehari-hari sudah begitu mengimpit. Apalagi pada hari-hari panjang krisis ekonomi saat ini. Terjebak kemacetan lalu lintas saja sudah bisa membuat kita mengomel dan stres. Aku juga sering kalang kabut karena merasa tidak pernah memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaanku. “Aduh, ini belum ditelepon, ini belum diselesaikan, itu belum kelar”.
Mungkin saja aku terserang frustrasi bila kekosongan yang ada tidak aku isi dengan zikir. Di dalam mobil, di tengah kemacetan, aku coba menghayati lafaz astaghfirullah, allahu akbar, yang aku ucapkan berulang-ulang. Alhamdulillah, biasanya, rasa optimistis akan kembali menjalari segenap pembuluh darahku. Agama begitu indahnya. Aku memang belum sempurna, tetapi aku sudah bertekad menuju ke sana.
Mengasah Nurani. Begitu banyaknya manfaat agama membuatku tidak lagi ogah-ogahan belajar. Pada usia remaja, aku paling senang ikut pengajian rutin keluarga yang diadakan seminggu sekali. Kalau tidak di rumah orang tuaku, ya di rumah tanteku. Atau, di rumah anggota keluarga kami lainnya. Belakangan ini, karena tempat tinggal kami sudah makin menyebar, pengajian itu sudah tidak kami selenggarakan lagi. Saya ganti dengan pengajian insidental sesama artis, lingkungan tempat tinggal, atau momen lain yang tidak kurang banyaknya. Di samping membaca buku-buku keagamaan, tentunya.
Akan tetapi, yang terpenting, aku berusaha menajamkan kepekaan belajar melalui setiap peristiwa yang aku lewati. Bahkan, dari peran dalam sinetron yang aku lakoni, tidak sedikit pelajaran yang aku ambil.
Sinetronku yang pertama berjudul ”stri Solehah”. Aku berperan sebagai seorang istri dari keluarga sederhana, berjilbab, tinggal di desa. Pekerjaanku, dalam sinetron itu, di samping sebagai ibu rumah tangga, adalah mengajar mengaji anak-anak kampung. Suamiku merantau ke kota dan masuk penjara karena kesalahan pengadilan. Godaan demi godaan pun datang menderaku. Mulai dari pria yang ingin menjadikanku istri, desakan ekonomi, gunjingan tetangga, dan seterusnya. Tapi, demi martabat dan konsistensi agama, aku tetap menanti kepulangan suamiku.
Untuk bisa bertahan, aku makin intensif menjalankan ibadah. Salat tengah malam tak pernah aku tinggalkan. Aku tumpahkan semua kesedihan di atas sajadah Aku adukan semua kesedihan kepada Allah dan memohon diberikan kekuatan. Alhamdulillah, cobaan itu berlalu dan kami bisa berkumpul kembali dengan bahagia.
Bukan karena itu debut pertamaku dalam dunia sinetron. Peran itu betul-betul berkesan di hatiku justru karena nilai-nilai yang dikandungnya. Walau aku selalu berdoa agar tidak mengalami sendiri peristiwa itu di alam nyata, aku berharap agar diberikan kesalehan seperti itu oleh Allah. Kesalehan yang selalu membawa kebahagiaan.
Resep Memecahkan Masalah
.Tanpa terasa, kesan mendalam dari peran luar biasa dalam sinetron itu selalu keluar menjadi resep ketika aku menghadapi masalah. Mulai dari yang entengenteng sampai yang berat dan tak terpecahkan.
Pada awalnya aku sering juga merasa risih menumpahkan masalah yang seakan remeh-temeh dalam doa. Masalah kuliah atau hubungan dengan teman-teman, misalnya. Tapi, karena aku yakin Allah Mahatahu, pada akhirnya aku tidak sedikit pun ragu memohon petunjuk kepada Allah.
Memang, tidak semua doa secara nyata dijawab Allah. Tapi, aku tetap berkeyakinan bahwa di situlah aku diuji, sampai di mana keimananku. Sabarkah aku. Selalu saja ada hikmah yang tersembunyi dari setiap peristiwa.
Nilai-nilai seperti itu juga sangat mempengaruhi pandangan hidupku. Dalam melihat materi, misalnya. Aku tidak munafik menginginkan imbalan materi yang pantas atas kemampuanku. Tapi, aku juga tidak ingin menukar segala sesuatunya hanya untuk materi. Tak terhitung berapa kali aku terpaksa menolak dengan segala terima kasih tawaran peran atau pertunjukan yang aku anggap tidak sejalan dengan nilai-nilai yang aku pegang. Ya, keartisan itu tidak ubahnya profesi lain dan untuk menggelutinya diperlukan seni tersendiri agar kita bisa menempatkannya sebagai ruang aktualisasi diri, Sumber penghasilan, sekaligus sarana ibadah. Memang tidak mudah.
Sumber: Panji Masyarakat, 23 September 1998